Saat Asap Datang, Warga Mimika Diimbau Batasi Aktivitas di Luar Ruangan

Kabut Asap Mimika
Ilustrasi / Foto : Ist

Koreri.com, Timika – Masyarakat di wilayah terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diimbau meningkatkan kewaspadaan dengan membatasi aktivitas di luar ruangan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan.

Paparan asap dapat memperburuk kualitas udara dan memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari iritasi mata dan tenggorokan hingga gangguan pernapasan.

Bahkan, orang yang sehat sekalipun berisiko mengalami dampak kesehatan ketika terpapar asap dalam konsentrasi tinggi.

Melalui kampanye kesehatan bertajuk “Saat Asap Datang, Kita Siap”, masyarakat diajak mengenali bahaya kabut asap, melindungi diri dan keluarga, serta mengambil langkah pencegahan selama kualitas udara memburuk.

Masyarakat disarankan mengurangi kegiatan di luar rumah, menghindari aktivitas fisik berat di luar ruangan, serta menyesuaikan jadwal kegiatan hingga kualitas udara kembali membaik.

Pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) melalui sumber resmi juga penting dilakukan secara berkala.

Kelompok Rentan Perlu Mendapat Perhatian

Anak-anak, lanjut usia (lansia), ibu hamil, serta orang dengan penyakit kronis menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus selama kabut asap berlangsung.

Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 dan PM10 serta gas berbahaya, termasuk karbon monoksida.

Partikel PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Paparan asap dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), memperburuk asma, serta memperparah penyakit paru kronis lainnya.

Anak-anak memiliki risiko lebih tinggi karena sistem pernapasan dan kekebalan tubuhnya masih berkembang.

Karena itu, orang tua diminta membatasi aktivitas anak di luar ruangan dan memastikan mereka tidak terpapar asap secara berlebihan.

Perhatian lebih juga perlu diberikan kepada anak yang memiliki riwayat asma, alergi, penyakit jantung bawaan, atau gangguan paru kronis.

Enam Langkah Mengurangi Risiko Paparan Asap

Untuk meminimalkan dampak kabut asap, masyarakat diimbau melakukan enam langkah pencegahan.

Pertama, kenali risiko dengan memantau informasi kualitas udara melalui ISPU atau sumber resmi lainnya.

Kedua, lindungi diri dan keluarga dengan membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara memburuk.

Ketiga, jaga udara di dalam rumah dan sekolah dengan menutup pintu serta jendela saat asap pekat agar asap dari luar tidak mudah masuk.

Keempat, perhatikan kelompok rentan, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan dan penyakit kronis.

Kelima, pastikan akses terhadap layanan kesehatan bagi masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.

Keenam, dukung pencegahan karhutla dengan tidak melakukan pembakaran yang dapat memicu kebakaran dan memperburuk pencemaran udara.

Apabila terpaksa beraktivitas di luar rumah, masyarakat dianjurkan menggunakan masker yang sesuai untuk membantu mengurangi paparan partikel asap.

Penggunaan masker perlu disertai upaya lain, seperti menghindari asap rokok dan tidak melakukan pembakaran di dalam rumah.

Waspadai Gejala Gangguan Pernapasan

Masyarakat diminta tidak mengabaikan gejala gangguan kesehatan selama kabut asap berlangsung. Jika mengalami sesak napas atau iritasi tenggorokan, segera kurangi paparan asap dan cari pertolongan medis apabila gejala memburuk.

Orang tua juga perlu segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika mengalami kesulitan bernapas, sangat mengantuk, atau menolak makan dan minum. Anak dengan asma maupun penyakit kronis lainnya harus tetap mendapatkan pengobatan sesuai petunjuk tenaga medis.

Perlindungan dari kabut asap membutuhkan keterlibatan keluarga, masyarakat, fasilitas kesehatan, dan pemerintah.

Melalui kampanye “Saat Asap Datang, Kita Siap”, masyarakat diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan, melindungi kelompok rentan, menjaga kualitas udara di dalam ruangan, serta bersama-sama mencegah karhutla.

TIM