Koreri.com, Ambon– Sejumlah program pemerintah menjadi perhatian dalam ASSA Podcast Episode 16 bertajuk “Bersama Menjaga Indonesia”.
Dalam diskusi tersebut, Martin Kisna dari Laskar Ampera Angkatan ’66 dan Fransiskus Gian, akademisi Universitas Kristen Indonesia (UKI), menyampaikan pandangan mengenai program pangan, pendidikan, koperasi desa, dan transisi energi dalam kaitannya dengan pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
1. Makan Bergizi Gratis dan Ketahanan Pangan
Martin Kisna memandang program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu upaya meningkatkan kualitas gizi generasi muda.
Menurutnya, pemenuhan gizi sejak dini penting untuk mendukung pertumbuhan anak dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia pada masa mendatang.
Ia mengaitkan program tersebut dengan ketahanan pangan nasional. Baginya, peningkatan kualitas gizi perlu didukung oleh produksi pangan yang memadai dan keberpihakan kepada petani agar kebutuhan pangan tidak bergantung pada impor.
Sementara itu, Fransiskus Gian menekankan bahwa pelaksanaan program pangan perlu ditopang oleh tata kelola yang baik. Ia menyoroti persoalan harga beras yang masih tinggi di tengah ketersediaan produksi, yang menurutnya perlu ditelaah dari aspek distribusi, regulasi, dan kemungkinan praktik kartelisasi.
Dengan demikian, pemenuhan gizi perlu berjalan seiring dengan pembenahan sistem pangan.
2. Koperasi Desa dan Penguatan Ekonomi Petani
Martin menilai pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) berpotensi mendukung ketahanan pangan melalui penyediaan pupuk, bibit, dan kebutuhan petani.
Ia juga memandang koperasi dapat berperan sebagai penghubung antara petani dan pasar, termasuk membantu penyaluran hasil produksi kepada Perum BULOG.
Fransiskus turut menekankan pentingnya keterhubungan antara program pangan dan dukungan terhadap petani maupun nelayan.
Menurutnya, program pemenuhan gizi akan lebih berkelanjutan apabila didukung sistem produksi dan distribusi pangan yang memadai.
Kedua pandangan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan program pangan tidak hanya ditentukan oleh bantuan yang diberikan kepada masyarakat, tetapi juga oleh kemampuan memperkuat produksi dan rantai distribusi.
3. Pemerataan Pendidikan dan Sekolah Rakyat
Dalam pembahasan mengenai pendidikan, Fransiskus menilai pemerataan akses pendidikan sebagai salah satu prasyarat menuju Indonesia Emas 2045.
Ia menyambut positif konsep Sekolah Rakyat dengan sistem asrama (boarding school), yang dinilainya berpotensi memperluas kesempatan pendidikan bagi kelompok masyarakat tertentu.
Namun, ia mengingatkan bahwa persoalan akses belum selesai pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Pendidikan tinggi juga perlu mendapat perhatian, terutama karena biaya kuliah dapat menjadi hambatan bagi masyarakat untuk memperoleh pendidikan berkualitas.
Menurut Fransiskus, pembangunan pendidikan harus mencakup pemerataan akses, mutu pembelajaran, dan keterjangkauan biaya. Tanpa pembenahan yang menyeluruh, kesempatan memperoleh pendidikan berkualitas berisiko tetap tidak merata.
4. Transisi Energi dan Kemandirian Teknologi
Fransiskus juga menyoroti transisi menuju energi baru dan terbarukan (EBT). Ia mengingatkan bahwa percepatan transisi energi perlu memperhitungkan kesiapan teknologi, pembiayaan, dan kemampuan industri nasional.
Menurutnya, ketergantungan pada teknologi impor serta pembiayaan luar negeri dapat menimbulkan risiko apabila proyek belum menghasilkan, sementara kewajiban pembayaran sudah jatuh tempo.
Karena itu, ia mendorong pelaksanaan transisi energi secara bertahap dengan memperkuat inovasi dan kemampuan teknologi dalam negeri.
Pandangan tersebut menekankan bahwa agenda transisi energi perlu mempertimbangkan keberlanjutan pembiayaan dan kemandirian nasional, selain target pengembangan energi bersih.
Pembahasan kedua narasumber memperlihatkan bahwa program pemerintah saling berkaitan dalam mendukung pembangunan nasional.
MBG membutuhkan dukungan sistem pangan yang kuat, koperasi desa dapat berperan dalam memperkuat ekonomi petani, pemerataan pendidikan menentukan kualitas sumber daya manusia, sedangkan transisi energi membutuhkan kesiapan teknologi dan pembiayaan.
Martin Kisna lebih menekankan pentingnya ketahanan pangan, pemenuhan gizi, dan penguatan peran petani.
Sementara itu, Fransiskus Gian menyoroti pemerataan pendidikan, pembenahan distribusi pangan, serta kehati-hatian dalam transisi energi.
Keduanya menempatkan penyelesaian persoalan secara konkret sebagai bagian penting dari pembangunan.
Dengan demikian, pencapaian Indonesia Emas 2045 tidak hanya bergantung pada keberadaan program, tetapi juga pada kualitas pelaksanaan, ketepatan sasaran, dan kemampuan mengatasi persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat.
*Artikel ini dirangkum dari diskusi ASSA Podcast Eps 16 bersama Pak Martin Kisna (Wasekjen Laskar Ampera / Angkatan ’66) dan Pak Fransiskus Gian (Pembina Pusat Studi Papua FISIPOL UKI).












