Di Festival Katong Orang Basudara 2026, Begini Pesan Wali Kota Ambon

Walkot BW Festival Katong Bersaura

Koreri.com, Ambon – Walikota Bodewin Wattimena resmi membuka Festival Katong Orang Basudara yang berlangsung di Gong Perdamaian Ambon, Sabtu (28/2/2026) malam.

Kegiatan ini mengusung tema “Harmoni dalam Keberagaman, Lestari dalam Budaya” dan menghadirkan dua agenda utama, yakni dialog budaya serta pentas seni lintas komunitas yang berlangsung selama dua hari.

Pada kesempatan itu juga hadir Ketua PKK kota Ambon Lisa Wattimena, Pj. Sekkot Ambon Roberth Sapulette, perwakilan Balai Pelestarian XX Maluku, Kepala Dinas Parawisata Maluku dan para peserta pentas seni.

Dalam sambuntannya, Wali Kota menyampaikan, bahwa Gong Perdamaian Dunia bukan sekadar monumen, melainkan simbol komitmen bersama untuk menjaga dan membangun perdamaian di Kota Ambon.

“Gong Perdamaian Dunia dibuat sebagai simbol bagaimana kita berupaya membangun perdamaian lewat kehidupan orang basudara di Kota Ambon. Kita pernah mengalami persoalan di masa lalu, tetapi itu adalah bagian dari sejarah. Yang terpenting hari ini adalah memastikan peristiwa itu tidak boleh terulang Kembali,” urainya.

Perdamaian, menurutnya harus terus hidup, tumbuh dan berkembang di kota yang penuh keberagaman tersebut.

Keberagaman merupakan potensi besar apabila dikelola dengan baik, namun dapat menjadi ancaman bila tidak dirawat secara bijaksana.

“Keberagaman itu jika dikelola dengan baik akan menjadi kekuatan untuk membangun kota ini semakin maju. Sebaliknya, jika tidak dikelola dengan baik, dia bisa menjadi ancaman,” sambung Wali Kota.

Upaya membangun kehidupan bersama di Kota Ambon terus dilakukan berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kota Ambon.

Salah satunya melalui penguatan budaya sebagai sarana mempererat persaudaraan.

Budaya bukan sekadar warisan leluhur, melainkan solusi untuk masa depan. Melalui kolaborasi seni tradisional, seni modern hingga seni Islami, masyarakat dapat membangun harmoni yang mencerminkan kehidupan orang basudara.

“Budaya hari ini bukan hanya warisan, tetapi harus menjadi solusi untuk masa depan. Lewat kolaborasi tari, musik bambu, rebana, hingga musik modern seperti terompet, semua bisa bersatu menciptakan harmoni,” tegasnya.

Sejumlah sekolah di Ambon bahkan telah menjadi percontohan dengan memadukan berbagai unsur musik dalam satu orkestra, mulai dari suling bambu, musik Islami, hingga alat musik modern.

“Saya mengapresiasi Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XX dan panitia penyelenggara yang telah menginisiasi festival tersebut,” ucapnya.

Wali Kota berharap kegiatan serupa terus digelar untuk memperkuat nilai persaudaraan dan membangun masa depan Kota Ambon yang lebih baik.

“Ambon hanya bisa dibangun semakin baik kalau kita semua hidup dalam semangat orang basudara,” pungkasnya.

Festival budaya tersebut turut dimeriahkan berbagai penampilan seni tradisional dan modern yang dibawakan generasi muda Ambon. Para peserta tetap menunjukkan semangat dalam memeriahkan acara.

JFL