Koreri.com, Jayapura (23/1) – Gubernur Papua, Lukas Enembe menolak memberikan rekomendasi terkait penggunaan seribu hektar lahan untuk kepentingan eksplorasi pertambangan PT. Freeport Indonesia (PTFI).
Padahal permintaan izin ini langsung datang dari Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup melalui suratnya yang dikirimkan ke Gubernur Papua belum lama ini.
Sekretaris Daerah Papua, TEA. Hery Dosinaen, SIP, MKP, M.Si membeberkan alasan penolakan Gubernur untuk memberikan rekomendasi.
“Sekarang kita dapat surat dari Kemenhut untuk meminta Gubernur merekomendasikan seribu hektar tapi Gubernur menolak untuk memberikan rekomendasi izin pakai lahan hutan dimaksud,” terangnya di Jayapura, Selasa (22/1/2019).
Menurut Sekda, sebelumnya Pemerintah Papua telah memberikan izin pakai lahan seluas 1800 hektar.
“Sekarang mereka (PTFI, red) meminta lagi tapi Gubernur menolak,” sambungnya.
Alasan penolakan Gubernur terhadap perluasan lahan pertambangan PTFI dikarenakan kawasan lahan tersebut masuk dalam kawasan hutan lindung dan taman Lorentz yang notabene dilindungi oleh Pemerintah.
“Harusnya Freeport menjelaskan dibawah tanah ekplorasinya ada empat titik bentuk spiral yang jangkauannya sudah sangat jauh. Setidaknya Freeport memberikan penjelasan terkait hal ini ke Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Papua secara detail,” jelasnya.
Tidak hanya menolak memberikan rekomendasi terkait perluasan lahan tambang, Gubernur juga lanjut Sekda, sejak dahulu telah menolak memberikan izin pengoperasian kereta bawah tanah.
“Beberapa tahun lalu juga ada negosiasi permintaan dari pejabat Freeport untuk izin operasi kereta bawah tanah. Kami juga akan berkoordinasi dengan BPK membentuk tim untuk turun langsung ke sana guna melihat kondisi riil disana,” jelasnya lagi.
Sekda menambahkan, luas eksplorasi pertambangan emas asal Amerika tersebut diperkirakan kini telah mencapai dua ratusan kilo.
Sayangnya, negara tidak memiliki neraca untuk mengukur luasnya.
“Pemda harus meminta jaraknya jangan sampai sudah masuk ke Ilaga (kabupaten Puncak), Intan Jaya, Tolikara dan lainnya. Ini yang dikhawatirkan dampaknya ke depan. Jangan sampai kalau tidak diantisipasi, kawasan tersebut bisa saja tenggelam,” tegasnya.
VDM






























