Koreri.com, Manokwari – Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) Panca Kasih Manokwari, Provinsi Papua Barat Emma Aya Teken menyampaikan persoalan atau curhat terkait dengan masalah yang dihadapi dalam proses belajar mengajar di sekolah khusus tersebut.
Emma mengungkapkan, di sekolah yang mendidik anak-anak berkebutuhan khusus ini hanya satu orang yang berstatus ASN sedangkan lainnya hanya honorer yang diperbantukan.
Akibatnya sejumlah kendala yang harus dijalani namun tidak menghambat proses belajar mengajar.
“Ada lima ketunaan yang dibina oleh bapak ibu guru disini SLB Panca Kasih ini yaitu tuna netra, tuna rungu, tuna grahita, tuna autis dan tuna daksa. Kami butuh tenaga guru untuk mengajar anak-anak ini tampil ditingkat nasional namun tidak diperhatikan Pemerintah daerah,” keluhnya.
Curhatan ini disampaikan Emma saat kunjungan kasih Kepala Kejaksaan Tinggi Papua Barat didampingi Ketua IAD bersama rombongan dalam rangka perayaan Natal di SLB Panca Kasih Amban, Kabupaten Manokwari, Selasa (19/12/2023).
Menanggapi curhatan Kepala SLB Panca Kasih itu, Kajati Dr Harli Siregar, S.H., M.Hum menghimbau kepada Pemerintah Provinsi Papua Barat dan juga Kabupaten Manokwari untuk memberikan perhatian khusus terhadap keberadaan anak-anak berkebutuhan khusus ini.
“Mereka ini adalah bagian dari bangsa ini yang terus kita menumbuhkembangkan, semangati dan perhatian itu tentu harus dilakukan dari sisi eksistensi status sekolah ini, para gurunya kemudian tenaga pengajar yang memiliki sertifikasi karena ada 5 ketunaan sehingga harus menjadi perhatian khusus dari Pemerintah daerah,” imbuhnya.
KENN
