Koreri.com, Sorong – Bapperida Papua Barat Daya (PBD) menggelar focus discussion group (FDG) Pengembangan Ekosistem Riset dan Penyusunan Peta Jalan Riset Inovasi menuju Papua Barat Daya Emas di Tahun 2045, di Hotel Rylich Panorama Sorong, Selasa (19/12/2023).
Dalam FGD ini menghadirkan narasumber Theofransus Litaay, PH.D yang juga Tenaga Ahli Utama Kedeputian V Kantor Staf Presiden RI, BP3OKP PBD dan sejumlah pihak lainnya.
Pj Gubernur dalam sambutannya yang dibacakan Pj Sekda Edison Siagian mengatakan inovasi daerah sebagaimana UU Nomor 23 Tuhan 2014 merincikan secara jelas terkait kebijakan dimaksud.
Diantaranya peningkatan efisiensi, efektivitas dan kualitas pelayanan, tidak ada konflik kepentingan, orientasi kepada kepentingan umum yang dilakukan secara terbuka.
Lalu, memenuhi nilai-nilai kepatuhan dan dapat dipertanggungjawabkan bahwa itu bukan untuk kepentingan diri sendiri.
“Juga tentang pembentukan organisasi riset daerah dimana disampaikan bahwa intinya itu adalah riset. Kita boleh bekerja sama dengan pihak manapun dan siapapun termasuk masyarakat dalam hal riset. Riset itu untuk apa?
Tujuannya adalah untuk peningkatan kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah. Hasil riset itu kemudian dipakai sehingga kinerja kita tambah meningkat ke arah yang direncanakan,” urainya.
Pj Gubernur juga mengingatkan soal data yang biasanya dikumpulkan pada saat riset baik itu primer maupun sekunder.
“Ini mumpung provinsi kita baru satu tahun, maka ini hal yang baik untuk melakukan riset maupun inovasi. Saya sangat yakin data itu menjadi sangat penting supaya risetnya lancar. Kalau datanya kurang dan sebagainya atau tidak valid dan sebagainya maka risetnya akan menjadi lebih rumit,” bebernya.
Pj Gubernur kemudian menyinggung soal data penduduk PBD sebagai data awal yang harus dimiliki Pemerintah.
“Berdasarkan data, jumlah penduduk Provinsi PBD mencapai 620 ribuan orang tersebar di 5 kabupaten dan satu kota. Namun fokus terpusat di Kota dan Kabupaten Sorong hampir mencapai 50 persen. Sementara, jumlah penduduk di dua daerah dimaksud 50 persen adalah pendatang. Ini penting untuk diketahui bersama sebagai data awal,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Bapperida PBD Rahman mengakui FGD Ini adalah merupakan salah satu langkah yang ditempuh dalam mempersiapkan peta jalan menuju PBD Emas 2045 mengingat terbatasnya kemampuan Pemerintah.
“Maka untuk supaya bisa terwujud, kita perlu menggalang semua potensi yang ada seperti BP3OKP, kementerian/lembaga hingga seluruh masyarakat. Ini sesuai dengan motto kita bahwa Kitorang Satu, jadi untuk mewujudkan itu semua kita butuh sinergitas, kolaborasi, ada kerja bersama-sama bukan sendiri-sendiri,” imbuhnya kepada awak media disela-sela kegiatan.
Salah satunya, kata Rahman dengan mewujudkan roadmapnya terlebih dahulu yang diawali dengan sebuah perencanaan agar arahnya jelas.
“Dan kajian kita juga sudah jelas, sudah ada secara asimetris yaitu RIP3 dan nanti aka nada lagi RAP3 sebagai tindak lanjut dari rencana induk tadi. Sehingga diharapkan kedepan, Papua ini bisa bangkit,” imbuhnya.
“Kita punya mimpi bahwa kebangkitan Indonesia itu mulai dari timur. Matahari terbit di timur dan itu dimulai dari Papua. Dan masa depan Indonesia ada disini, itu intinya,” pungkasnya.
ZAN
