Koreri.com, Timika – Wakil Ketua KAPP Kabupaten Mimika Elfinus Omaleng, angkat bicara menyoroti insiden kecelakaan (laka) maut yang merenggut nyawa dua anak sekolah dasar dan seorang tukang ojek di Timika beberapa hari lalu.
Laka maut tersebut dipicu supir yang mengemudikan kendaraan sementara berada dibawah pengaruh minuman keras (miras) alias mabuk.
Ia menyerukan agar masyarakat tidak gegabah menyalahkan penjual minuman keras (miras), melainkan melakukan introspeksi diri dan mulai membangun kesadaran kolektif tentang bahaya miras dari dalam keluarga.
“Itulah yang menjadi akar masalah yang sebenarnya,” sebutnya.
Dalam pernyataannya kepada awak media, Omaleng menyampaikan duka mendalam atas tragedi tersebut.
Ia menekankan bahwa penyelesaian masalah miras di masyarakat tidak cukup hanya dengan tindakan represif, seperti menutup kios penjual atau menindak distributor. Tetapi harus dimulai dari upaya pencegahan yang berkelanjutan melalui edukasi di tingkat keluarga.
“Kita jangan langsung salahkan penjual. Ini saatnya kita sebagai masyarakat melakukan introspeksi. Keluarga adalah benteng pertama yang harus memberikan pemahaman tentang bahaya miras,” ujar Elfinus Omaleng dalam keterangannya di Timika, Papua Tengah, Sabtu (7/6/2025).
Menurutnya, kebiasaan mengonsumsi alkohol yang semakin merambah ke anak muda merupakan cerminan lemahnya pengawasan dan edukasi dari lingkungan terdekat, khususnya keluarga.
Ia mengajak para orang tua untuk aktif memantau pergaulan anak-anak dan tidak menormalisasi konsumsi miras dalam rumah tangga.
Omaleng juga mendorong lembaga pendidikan, tokoh agama, dan komunitas masyarakat untuk berperan aktif dalam mensosialisasikan bahaya miras secara terus-menerus, terutama kepada generasi muda.
“Kita harus sadari bahwa perubahan itu dimulai dari keluarga. Sekolah dan tokoh agama juga harus ikut menyuarakan ini secara konsisten,” tambahnya.
Pemerintah Kabupaten Mimika, kata Omaleng, tengah menyiapkan langkah-langkah strategis untuk memperkuat edukasi dan penyuluhan tentang dampak buruk miras, termasuk pelibatan aparat kampung, lembaga adat, dan organisasi pemuda.
Insiden kecelakaan yang menewaskan tiga orang tersebut diduga kuat akibat pengemudi yang berada di bawah pengaruh alkohol.
Peristiwa ini menjadi alarm keras akan pentingnya tindakan preventif yang bukan hanya menindak pelaku dan penjual, tetapi juga menyentuh akar persoalan di ranah sosial dan keluarga.
Omaleng berharap, masyarakat tidak hanya tergerak saat tragedi terjadi, tetapi juga berkomitmen jangka panjang membangun budaya hidup sehat dan menjauh dari konsumsi miras.
EHO






























