Koreri.com, Jakarta – Ketua DPP Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) sekaligus Ketua PP Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Steven Izaac Risakotta menilai kebijakan Pemerintah yang tetap menjadikan batu bara sebagai tulang punggung energi nasional merupakan langkah realistis di tengah tekanan global dan ketidakpastian arah transisi energi.
Pernyataan tersebut merespons kebijakan yang disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, terkait posisi strategis batu bara dalam menjaga ketahanan energi nasional.
Menurut Steven, keputusan itu bukanlah bentuk kemunduran dari agenda energi bersih, melainkan strategi adaptif untuk memastikan stabilitas pasokan energi tetap terjaga dan harga energi tetap terjangkau bagi masyarakat.
“Transisi energi itu penting, tetapi tidak bisa dipaksakan. Jika fondasinya belum kuat, yang terdampak adalah rakyat baik dari sisi tarif listrik maupun kepastian pasokan,” ujarnya kepada media ini, Minggu (3/5/2026).
Ketergantungan dan Risiko Transisi Cepat
Steven menegaskan bahwa struktur energi nasional saat ini masih sangat bergantung pada pembangkit listrik berbasis batu bara. Dalam kondisi tersebut, percepatan transisi tanpa kesiapan yang matang berpotensi menimbulkan tekanan terhadap sektor industri serta melemahkan daya beli masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa kebijakan energi tidak hanya soal mengikuti tren global, tetapi harus berpijak pada realitas domestik dan kepentingan nasional.
“Indonesia tidak bisa sekadar ikut arus global tanpa melihat kesiapan dalam negeri. Energi adalah sektor strategis yang menyangkut hajat hidup orang banyak,” katanya.
Lebih jauh, Steven menyinggung dinamika global yang dinilainya sarat kontradiksi Sejumlah negara maju yang selama ini vokal mendorong energi hijau, justru kembali mengandalkan batu bara ketika menghadapi krisis energi.
Fenomena ini, menurutnya, menjadi pelajaran penting agar Indonesia tidak terjebak dalam standar ganda yang justru merugikan kepentingan nasional.
“Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar standar global, tetapi melupakan kepentingan nasional. Energi itu soal kedaulatan,” tegasnya
Dengan produksi batu bara nasional yang masih tinggi dan berperan sebagai penopang utama energi domestik, Steven menilai pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara agenda transisi energi dan kebutuhan riil di lapangan.
Baginya, batu bara saat ini bukan sekadar opsi, melainkan instrumen strategis untuk memastikan listrik tetap menyala, industri terus bergerak, dan masyarakat tidak terbebani oleh lonjakan biaya energi.
“Ini bukan soal bertahan di masa lalu, tetapi memastikan masa depan dibangun tanpa mengorbankan kondisi hari ini,” pungkasnya.
RLS













