Koreri.com, Ambon – Anggota Komisi V DPR RI Saadiah Uluputty menyoroti berbagai persoalan transportasi laut di wilayah kepulauan Maluku saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Pemerintah Provinsi Maluku dan mitra perhubungan di Kantor Gubernur setempat, Kamis (7/5/2026).
Dalam forum yang turut dihadiri pihak PT PELNI, ASDP, Angkasa Pura, Pelindo, KSOP, dan sejumlah instansi transportasi lainnya itu, Saadiah menyampaikan langsung secara blak-blakan terkait berbagai aspirasi masyarakat kepulauan yang selama ini menghadapi tantangan akses transportasi antarpulau.
Salah satu yang menjadi perhatian Legislator DPR RI Dapil Maluku ini adalah pelayanan kapal menuju Banda Neira.
Ia menjelaskan bahwa di wilayah Banda terdapat dua dermaga, yakni Dermaga Neira dan Dermaga Kumber di Banda Besar.
Namun hingga kini, kapal-kapal PELNI maupun kapal perintis lebih banyak bersandar di Dermaga Neira.
Menurut Saadiah, masyarakat Banda Besar berharap agar Dermaga Kumber juga dimanfaatkan sebagai titik pelayanan kapal karena memiliki kapasitas yang lebih besar.
“Saya masukkan sedikit ya Pak, ini hubungan dengan kapal ke Banda. Di Banda itu ada dua dermaga, yakni di Neira dan di Kumber, Banda Besar. Kapasitas Dermaga Kumber itu sebenarnya lebih besar, tetapi kapal Pelni dan kapal Sabuk lebih banyak masuk ke Neira,” singgung Saadiah dalam forum tersebut.
Ia juga menyinggung insiden Kapal Sabuk 106 yang sebelumnya sempat menabrak rumah warga di Banda.
Menurutnya, kondisi itu menjadi salah satu alasan penting perlunya evaluasi jalur dan titik sandar kapal di wilayah Banda.
“Masyarakat Banda Besar meminta agar rute Ambon–Banda juga bisa memanfaatkan Dermaga Kumber,” lanjutnya.
Selain Banda, Anggota Fraksi PKS DPR RI ini juga menyoroti kebutuhan masyarakat terhadap rute Banda–Masohi yang menurutnya memiliki jumlah penumpang cukup tinggi,
namun belum mendapat perhatian optimal.
Tak hanya itu, ia juga mempertanyakan lamanya waktu tempuh kapal menuju Banda Neira yang mencapai sekitar 17 jam perjalanan dari Ambon.
“Kenapa kapal-kapal Pelni yang ke Banda Neira itu lama sekali? Kemarin saya ke sana sampai tujuh belas jam perjalanan,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Saadiah turut menyuarakan aspirasi masyarakat Seram Timur terkait berhentinya pelayanan Kapal Sabuk 108 pada rute Ambon–Tehoru–Geser–Gorom selama beberapa bulan terakhir.
Padahal, menurut laporan masyarakat, rute tersebut sangat dibutuhkan karena menjadi jalur utama mobilitas warga serta distribusi kebutuhan pokok antarwilayah di kawasan Seram Timur.
“Nah, ini juga jadi perhatian masyarakat. Ketika saya rapat dengan kementerian, masyarakat Seram Timur menitipkan aspirasi agar rute itu disuarakan kembali karena sangat dibutuhkan,” kata Saadiah.
Ia menyampaikan bahwa persoalan tersebut telah diteruskannya kepada pihak PELNI dan juga Kementerian Perhubungan agar dapat menjadi perhatian dalam evaluasi pelayanan transportasi laut di Maluku.
Sebagai anggota Komisi V DPR RI yang membidangi infrastruktur dan perhubungan, Saadiah menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan konektivitas wilayah kepulauan Maluku agar masyarakat di pulau-pulau dapat memperoleh akses transportasi yang lebih baik, aman, dan merata.
RLS
