Koreri.com, Waigeo – Kehadiran PT Gag Nikel di Pulau Gag, Distrik Waigeo Barat, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya sejak 2017 dalam kegiatan pertambangan telah memberikan dampak yang luar biasa.
Tak melulu hanya soal berkontribusi di sektor pendapat negara, namun komitmen dalam upaya pelestarian lingkungan dan konservasi alam juga menjadi prioritas sebagai bagian penting dari aktivitas pertambangan yang dilakukan.
Dan salah satu program tetap PT Gag Nikel yaitu pelestarian alam melalui penanaman pohon di sekitar areal tambang yang sudah direklamasi hingga konservasi penyu.
Puluhan jurnalis Papua Barat Daya pun mendapat kesempatan melakukan penanaman pohon di areal reklamasi pertambangan PT Gag Nikel, Jumat (23/1/2026).
Tak hanya itu, para awak media ini juga berkesempatan melepasliarkan ratusan tukik, satwa liar yang dilindungi ke laut di pantai Tuturuga Beach, Kampung Gag, Distrik Waigeo Barat, Kabupaten Raja Ampat.
Official Manager PT Gag Nikel Rudi Sumual dalam pernyataannya menekankan kegiatan ini sebagai bentuk kontribusi para awak media dalam mendukung program pelestarian lingkungan dan konservasi alam.
“Penanaman pohon di area reklamasi dan pelepasliaran tukik yang dilakukan teman-teman wartawan sebagai bentuk kontribusi mendukung program pelestarian lingkungan dan konservasi alam,” imbuhnya saat media gathering bersama awak media di area pertambangan PT Gag Nikel, Jumat (23/1/2026) siang.
Sementara itu Corporate Secretary, Legal & External Manager PT Gag Nikel Mustajir mengatakan, program ini berjalan berdampingan dengan aktivitas pertambangan yang dilakukan perusahaan di wilayah tersebut.
Dijelaskan Mustajir bahwa keberadaan perusahaan di Pulau Gag tidak hanya berfokus pada kegiatan operasional pertambangan, tetapi juga pada upaya perlindungan satwa yang dilindungi UU, salah satunya penyu.
“Perlu kami tekankan bahwa di Pulau Gag ini selain ada kegiatan pertambangan, juga terdapat kegiatan konservasi. Salah satunya adalah konservasi penyu, yang merupakan hewan dilindungi dan hampir punah,” ujarnya
PT Gag Nikel terlibat sejak awal dalam membangun kesadaran masyarakat setempat agar tidak lagi memandang penyu semata-mata sebagai komoditas konsumsi.
Selama ini, penyu kerap dianggap bernilai ekonomi hanya ketika telur maupun indukannya dikonsumsi atau diperjualbelikan.
“Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa penyu tidak hanya bernilai ekonomis ketika dikonsumsi. Ketika ditangkarkan, ditetaskan, lalu dilepasliarkan, itu juga memiliki nilai ekonomi dan memberikan manfaat langsung bagi para penangkar,” jelasnya.
Sebagai bagian dari program tersebut, PT Gag Nikel juga memfasilitasi masyarakat Pulau Gag untuk melakukan studi banding ke lokasi penangkaran penyu di Tanjung Benoa Bali.
Dari kegiatan itu, tumbuh ketertarikan sekaligus kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian penyu.
“Awalnya kami membawa mereka studi banding. Dari situ muncul kesadaran bahwa penyu ini harus ditangkarkan dan dilestarikan,” katanya.
Saat ini, penangkaran penyu di Pulau Gag telah berjalan aktif. Telur-telur penyu ditetaskan hingga menjadi tukik, kemudian dilepasliarkan ke laut setelah dinilai cukup kuat untuk bertahan dari predator alami.
“Setelah tukik dirasa sudah mampu bertahan, kami lepasliarkan. Biasanya setiap tamu yang datang juga kami arahkan untuk ikut melakukan pelepasan penyu,” tambah Mustajir.
Ia berharap, program konservasi ini dapat terus berkelanjutan dan menjadi contoh bahwa kegiatan industri dapat berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan serta pemberdayaan masyarakat lokal.
Pegiat konservasi penyu di pulau Gag kabupaten Raja Ampat, Hasan Sangadji, mengungkapkan telah terlibat aktif dalam upaya pelestarian penyu sejak tahun 2019 didampingi langsung oleh PT Gag Nikel.
Meski sempat bekerja secara formal, ia memilih fokus penuh pada kegiatan konservasi sejak akhir 2019 hingga saat ini.
“Sejak akhir 2019 saya sudah lepasan dan konsisten melakukan penangkaran serta pelepasan penyu. Total yang sudah dilepasliarkan sampai sekarang lebih dari 8.000 ekor,” ujar Sangadji saat ditemui di lokasi penangkaran.
Ia menjelaskan bahwa proses penetasan dan pelepasan tukik (anak penyu) harus dilakukan sesuai standar yang benar. Salah satu hal penting adalah posisi kepala tukik saat dilepas.
“Waktu menangkarkan penyu, posisi kepalanya harus ke atas, tidak boleh ke bawah. Kalau salah posisi, penyu bisa gagal hidup,” jelas Sangadji.
Menurutnya, jenis penyu yang saat ini paling sering ditangani adalah penyu sisik dan penyu pipih. Pada pelepasan terakhir oleh para wartwan dan LSM, sebanyak 101 tukik berhasil dilepas ke laut.
“Yang dilepas terakhir oleh para wartwan da. LSM tadi, semuanya berjumlah 101 ekor tukik,” sambung Sangadji.
Ia juga menyinggung bahwa kegiatan konservasi ini bukan sekadar inisiatif pribadi, melainkan bagian dari program pelestarian yang memiliki mekanisme pelaporan. Setiap pelepasan baru dapat dilaporkan setelah mencapai jumlah tertentu.
“Ini program yang didampingi oleh PT Gag Nikel, bukan kegiatan sia-sia. Kalau sudah maksimal sekitar sembilan sarang atau penetasan, baru bisa dilaporkan ke pemerintah,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, ia berharap upaya konservasi penyu dapat terus berlanjut dan mendapat dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak demi menjaga populasi penyu yang kian terancam.
KENN































