Koreri.com, Sorong – Kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB – OPM) di Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya terus melakukan gangguan keamanan terhadap warga sipil.
Pasca terlibat kontak tembak dengan aparat keamanan pada 2022 lalu, kelompok separatis ini masih terus meneror hingga memalak warga.
Terkini, Satgas TNI berhasil mengevakuasi 21 warga yang mengungsi sejak 2022 di hutan.
“Sebanyak 21 warga pengungsi berhasil dievakuasi secara aman oleh aparat gabungan TNI bersama Pemerintah daerah (Pemkab) Maybrat. Masyarakat yang mengungsi itu dampak dari kontak tembak OPM dan aparat beberapa waktu lalu,” kata Kepala Penerangan Koops TNI Papua, Letkol Inf. Wirya, kepada wartawan, Kamis (19/3/2026).
21 pengungsi ini berhasil dievakuasi dari Dusun Topo, Kampung Ainesra, Distrik Aifat Timur Jauh, Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya, Selasa (17/3/2026) lalu.
Penjemputan ini dilakukan oleh unsur TNI dan Koops TNI Papua bersama pejabat Pemda serta tokoh masyarakat setempat.
“Tim gabungan patroli keamanan bergerak menuju lokasi penjemputan di Dusun Topo dan tiba di Kampung Ainesra untuk menjemput para pengungsi yang selama ini bertahan di hutan perbatasan antara Maybrat dan Teluk Bintuni akibat gangguan keamanan oleh TPNPB OPM,” terangnya.
Wirya mengatakan seluruh pengungsi telah berkumpul di titik penjemputan. Tim patroli gabungan Koops TNI Papua segera melaksanakan evakuasi menuju Pos Komando Taktis (Kotis) Koops TNI Papua.
“Setibanya di Pos Kotis, para pengungsi langsung menjalani pemeriksaan kesehatan oleh tim medis Koops TNI Papua. Setelah itu dilanjutkan dengan pendataan identitas guna memastikan kondisi dan kebutuhan masing-masing,” sambungnya.
Dijelaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib, aman, dan lancar, mencerminkan sinergi yang kuat antara TNI, Pemda dan masyarakat dalam menjamin keselamatan warga.
“Untuk sementara waktu, para pengungsi ditempatkan pada lokasi penampungan di wilayah Distrik Aifat, sambil menunggu proses koordinasi lebih lanjut terkait pemulangan ke daerah asal, khususnya bagi warga dari Kabupaten Teluk Bintuni,” harapnya.
Wirya berharap Pemda segera mengambil langkah lanjutan melalui pemenuhan kebutuhan dasar, pembinaan serta koordinasi lintas wilayah guna memastikan proses pemulangan berjalan aman, tertib, dan bermartabat.
“Keberhasilan evakuasi ini menjadi bukti nyata kehadiran negara dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat di wilayah rawan, sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam menjaga stabilitas keamanan dan kemanusiaan di Papua Barat Daya,” tegasnya.
Lebih lanjut dijelaskan, 21 pengungsi ini meninggalkan kampung halamannya pada tahun 2022 saat terjadi kontak tembak di Moskona dimana terdapat pembunuhan pekerja jalan trans Papua.
Gangguan itu dirasakan sejak 2022 dan berdampak sampai sekarang ketakutan yang dirasakan masyarakat. Masyarakat sering diganggu pemalakan Rp200.000/kepala keluarga oleh OPM sehingga kemudian memutuskan kabur ke hutan.
Hingga sebagian masyarakat masih memilih bertahan di hutan.
“Mereka kemudian melaporkan ke pihak Pemda, dan Pemda meminta bantuan ke Satgas untuk membantu pengamanan dalam pelaksanaan evakuasi,” pungkasnya.
RLS
























