Kepiting Timika “Go Internasional”, Bupati Rettob: UMKM Mampu, Tinggal Dikelola Baik

Bupati JR Ekspor Kepiting Timika korericom
Bupati Mimika Johannes Rettob saat memberikan keterangan pers di UPBU Bandara Mozes Kilangin Timika, Papua Tengah, Rabu (13/5/2026) / Foto: EHO

Koreri.com, Timika – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika terus mendorong penguatan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis komoditas unggulan daerah.

Salah satunya melalui peningkatan ekspor kepiting ke pasar internasional yang dinilai memiliki potensi ekonomi besar dan berkelanjutan.

Bupati Johannes Rettob, mengungkapkan bahwa capaian ekspor kepiting dari Timika menunjukkan tren positif.

Bahkan, menurutnya, potensi yang dimiliki daerah selama ini belum tergarap secara optimal karena kurangnya penataan dan koordinasi yang terstruktur.

“Saya cukup kaget, ternyata kita mampu. Hanya saja selama ini kita belum mengelola dengan baik. Ini menjadi catatan penting bagi Pemerintah daerah untuk lebih serius dan fokus,” ujar Bupati Rettob dalam keterangannya di UPBU Bandara Mozes Kilangin Timika, Papua Tengah, Rabu (13/5/2026).

Berdasarkan data yang disampaikan pihak Bea Cukai, total ekspor kepiting Timika sepanjang tahun 2025 mencapai 21 ton.

Sementara hingga Mei 2026, volume ekspor sudah menembus 19 ton.

Angka ini diproyeksikan akan melampaui capaian tahun sebelumnya jika konsistensi terus dijaga.

Meski demikian, Rettob mengingatkan bahwa ketergantungan pada hasil tangkapan alam tidak dapat menjadi solusi jangka panjang.

Pemerintah daerah, kata dia, harus mulai mengembangkan sistem budidaya kepiting guna menjamin keberlanjutan pasokan.

“Kalau hanya mengandalkan tangkapan, lama-lama bisa habis. Kita harus mulai berpikir ke arah budidaya agar ekspor ini tetap berjalan dan mampu menjawab permintaan pasar yang terus meningkat,” tegasnya.

Dalam upaya memperkuat ekosistem ekspor, Pemkab Mimika juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan instansi teknis seperti karantina dan Bea Cukai.

Sinergi ini diharapkan mampu mempermudah proses ekspor sekaligus mendorong kemandirian pelaku usaha lokal.

Rettob pun memberikan apresiasi atas dukungan dan inisiatif yang telah dilakukan oleh pihak karantina dan Bea Cukai dalam membantu UMKM Mimika menembus pasar ekspor.

“Saya menyampaikan terima kasih kepada karantina dan Bea Cukai yang sudah bekerja maksimal. Ini menjadi bukti bahwa kolaborasi bisa mendorong UMKM kita naik kelas,” katanya.

Sebagai langkah strategis ke depan, Pemkab Mimika berencana membentuk “klinik ekspor” sebagai wadah pembinaan dan penguatan kapasitas pelaku usaha, khususnya dalam pengelolaan, standardisasi, hingga distribusi komoditas ekspor seperti kepiting.

Klinik ekspor ini nantinya akan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk dinas terkait dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin), guna memastikan ekosistem ekspor berjalan lebih terintegrasi dan berkelanjutan.

“Target kita adalah membangun sistem yang kuat. Dengan klinik ekspor, kita ingin memastikan hasil tangkapan masyarakat bisa tertampung, dikelola dengan baik, dan dipasarkan ke berbagai negara secara konsisten,” ujar Rettob.

Melalui langkah ini, Pemerintah Kabupaten Mimika optimistis UMKM lokal tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang sebagai pelaku utama dalam rantai perdagangan global berbasis potensi daerah.

EHO