Koreri.com,Manokwari– Kasus positif corona virus disease 2019 (COVID-19) terhadap anak di Provinsi Papua Barat sangat meningkat hingga ratusan orang.
Anggota DPR Papua Barat, Febry Jein Andjar,S.E.,M.M kepada media ini melalui telpon celulernya menyebut bahwa peningkatan kasus terhadap anak terjadi disaat pemerintah meniadakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka.
“Itu artinya penyebaran terhadap anak bukan terjadi dilingkungan sekolah, melainkan dilingkungan sosial. Orang tua harus lebih ekstra ketat melakukan pengawasan terhadap anak,” tegas Febry dalam keterangan persnya kepada media ini, Sabtu (7/8/2021) sore.
Legislator Papua Barat dua periode ini mengingatkan pemerintah daerah untuk perlu menyiapkan tempat karantina khusus terhadap anak yang positif Covid-19 maupun yamg orang tuanya positif.
“Jika orang tua yang positif, potensi penyeberan juga bisa terjadi kepada anak. Ini juga harus diantisipasi,” katanya.
Anggota fraksi Golkar DPR Papua Barat itu meminta kepada pemerintah agar saat karantina terpusat harus ditampung pada tempat tersendiri yang ramah anak, begitu juga diperhatikan gender agar tidak terjadi trauma psikis.
Berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Provinsi Papua Barat mencatat sepanjang pandemi berlangsung, jumlah positif untuk kasus anak di Papua Barat mencapai 2.548 kasus.
Kabupaten Manokwari tertinggi dengan total 1.025 menyusul Kota Sorong 601 dan sisanya tersebar di Kabupaten/Kota lainnya di Papua Barat.
Kordinator IDAI Papua Barat dr. Rio, SPA yang dikonfirmasi media ini melalui pesan singkat whatshapp Sabtu (7/8/2021) mengatakan, dari jumlah itu, masih ada 112 anak yang dilaporkan positif atau tengah berjuang melawan Covid-19.
“Perjuangan mereka melawan pandemi memerlukan dukungan semua pihak, terlsbih khusus orang tua,” ungkapnya.
Dijelaskan dr Rio, kasus positif Covid-19 terhadap anak di Papua Barat selama pandemi terus mengalami peningkatan.
Sejak bulan Mei hingga Desember 2020, jumlah kasus positif Covid-19 untuk anak di Papua Barat sebanyak 550, dan kemudian meningkat mencapai 2000an kasus sejak Januari hingga Juli 2021.
“Peningkatan yang paling terlihat itu mulai pertengan Juni hingga saat ini,” ujarnya.
Selama pandemi berlangsung, 6 anak di Papua Barat kata dia dilaporkan meninggal. Dua anak terkonfirmasi positif dan 4 anak suspek.
Ditengah penyeberan yang peningkatannya cukup signifikan saat ini, orang tua disarankan untuk lebih meningkatan pengawasan.
“Anak sebaiknya dirumah saja. Jangan dibawa ke luar rumah apalagi ditempat keramaian seperti Mall, pasar atau tempat wisata yang potensi penyeberannya tinggi,” sarannya.
Jika anak sakit, orang tua juga diingitkan agar dapat mengetahui kapan anak harus di bawah ke tempat pelayanan kesehatan.
“Tidak harus anak sakit lalu dibawa ke rumah sakit, kecuali mengalami gejala penyakit yang urgen. Kalau hanya batuk pilek, sebaiknya konsultasi online. IDAI juga punya aplikasi Dokter Primaku yang tersedia di playstore. karena potensi penyeberan juga ada dilingkungan pelayanan kesehatan,” terangnya.
Orang tua juga diingatkan untuk mengedukasikan penggunaan masker dan cuci tangan pakai sabun kepada anak berusia diatas 2 tahun, serta mengajak anak beraktifitas di rumah saja.
“Aktifitas anak jangan dibatasi. Biarkan di tetap beraktifitas tapi di rumah saja. Sebab, tumbuh kembang anak juga sangat penting, meski di masa pandemi,” pesannya.
KENN































