Koreri.com, Jakarta – Gubernur Lukas Enembe, S.IP MH berkeinginan mengundang Presiden Rusia, Vladimir Putin ke tanah Papua akhir tahun 2022 nanti.
Hal ini disampaikan Lukas Enembe saat bertemu Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Vorobyeva yang didampingi Victoria selaku Direktur Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia di Jakarta, Senin (28/3/2022).
“Jadi, dalam pertemuan tersebut, Gubernur Lukas Enembe menyampaikan keinginannya agar Presiden Rusia Vladimir Putin yang direncanakan akan hadir pada KTT G20 di Bali akhir tahun 2022 nanti diharapkan pula untuk dapat mengunjungi Tanah Papua,” kata Gubernur Lukas Enembe melalui Juru bicara Muhamad Rifai Darus dalam rilisnya, Senin malam.
Menurut Jubir, keinginan Gubernur mengundang Presiden Rusia, Vladimir Putin, ke tanah Papua terkait dengan rencana pembangunan bandara antariksa di Kabupaten Biak Numfor.
“Ya, pak Gubernur ingin berdiskusi menyoal rencana pembangunan Bandara Antariksa di Biak, dimana gubernur berpendapat bahwa beliau (Lukas Enembe) ingin mendapat insight dari Pemerintah Rusia yang memiliki Kosmodrom tertua di dunia dan masih aktif hingga saat ini,” ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko mengunjungi Desa Saukobye, Biak Utara, Papua pada 21 Oktober 2021. Lokasi tersebut digadang-gadang menjadi lokasi pembangunan bandar antariksa.
Gagasan terkait fasilitas pembangunan bandar antariksa bukanlah hal baru, karena sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Hal tersebut tercantum dalam kajian pembangunan bandar antariksa oleh Pusat Kajian Kebijakan Penerbangan dan Antariksa LAPAN, Undang-Undang RI Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan.
Dalam kajian disebutkan bahwa salah satu hal yang memengaruhi Biak menjadi lokasi pembangunan karena LAPAN memiliki aset lahan sebesar 100 hektar di Desa Saukobye, Kabupaten Biak Numfor.
Wilayah Indonesia yang luas dan terdiri dari banyak pulau menjadi pendorong urgensinya kebutuhan terkait pengembangan teknologi keantariksaan. Handoko juga menyebutkan bahwa pembangunan fasilitas keantariksaan tersebut merupakan ikhtiar untuk melahirkan nilai ekonomi dari kegiatan keantariksaan khususnya peluncuran roket serta adanya pangsa pasar yang cukup besar bagi Indonesia.
Bandar antariksa juga masuk ke dalam Draft Rencana Induk Penyelenggaraan Keantariksaan Tahun 2016-2040, di mana pada tahun 2036-2040 Indonesia sudah memilikiteknologi peluncuran roket Low Earth Orbit (LEO) atau pengorbitan satelit ke orbit rendah dan teknologi satelit yang mampu meluncurkan dan mengoperasikan satelit observasi bumi, telekomunikasi, dan navigasi.
“Keunggulan geografis Indonesia yang terletak di khatulistiwa, menjadikan Indonesia cocok menjadi pusat peluncuran satelit. Indonesia berharap memiliki kemandirian dalam meluncurkan satelit untuk komunikasi, surveilans, mitigasi perubahan iklim, mitigasi bencana, dan sebagainya,” jelas Handoko dalam Siaran Pers yang dikutip dari ketik.unpad.ac.id.
Lokasi Pulau Biak yang Strategis
Selain kepemilikan lahan, pemilihan Biak menjadi kandidat terkuat lokasi pembangunan bandara antariksa karena lokasi Biak Numfor yang langsung menghadap ke samudera pasifik. Menurut Menristek dan Kepala BRIN, Bambang Brodjonegoro, dekat dengan garis khatulistiwa membuat Indonesia menjadi lokasi negara yang sangat strategis untuk meluncurkan roket dan membawa satelit ke luar angkasa karena roket akan lebih mudah mencapai orbit. Bambang juga menyebutkan lokasi Biak yang berada pada -1 dari ekuator mengartikan wilayah tersebut sangat dekat dengan garis khatulistiwa dan sangat potensial untuk menjadi bandara antariksa.
Pada tahun 2040, diperkirakan bahwa nilai ekonomi antariksa global meningkat menjadi lebih dari US$1 triliun per tahun. Hal ini tentu akan menguntungkan apabila Indonesia dapat turut berpartisipasi dalam sektor tersebut, mengingat bandar antariksa hanya dimiliki oleh negara maju seperti China, Amerika, Rusia, Perancis, dan India dimana di negara tersebut lokasi peluncuran jauh dari garis khatulistiwa.
Dalam jurnal berjudul “Pemetaan Elit Politik Lokal Di Pulau Biak Dan Pengaruhnya Terhadap Rencana Pembangunan Bandara Antariksa,” yang ditulis oleh peneliti Pusat Kajian Kebijakan Penerbangan dan Antariksa LAPAN, Astri Rafikasari, kelebihan lain dari letak Pulau Biak adalah peluncuran sarana antariksa di khatulistiwa dapat mempercepat laju peluncuranke orbit geostationary (GEO) dan tetap hemat bahan bakar
RED












