Fokus  

Berlakukan One Man One Seat, Pelni Ambon: Non Seat Sudah Ditiadakan

Plt. Kepala PT. Pelni Cabang Ambon Muhamad Assagaff
Plt. Kepala PT. Pelni Cabang Ambon Muhamad Assagaff / Foto : Buken

Koreri.com, Ambon – PT. Pelni Cabang Ambon telah resmi memberlakukan “One Man One Seat”.

Aturan tersebut telah diberlakukan sejak 2016 lalu sebagaimana disampaikan Plt. Kepala PT Pelni Cabang Ambon Sa’id Muhammad Assegaf, yang dikonfirmasi Koreri.com, baru-baru ini.

“Jadi, sebenarnya non seat ini tidak berlaku lagi sejak 2016. Cuma karena animo masyarakat terlalu banyak sehingga akhirnya ada kebijakan khusus dari manajemen untuk melayani penumpang-penumpang yang tidak terlayani dengan adanya non seat,” ungkapnya.

Menurut Sa’id, pemberlakuan satu orang satu tempat tidur ini sudah diatur dari manajemen pusat. Sehingga non seat ditiadakan.

“Dilema juga pak, karena kita punya masyarakat ini  banyak yang berangkat dengan kapal laut. Tapi mau bilang bagaimana, kita harus menerapkan aturan itu supaya penumpang yang bertiket ini mendapat pelayanan maksimal, bisa istirahat dengan tenang, tidak berdesak-desakan lagi seperti waktu-waktu lalu,” akuinya.

Sa’id menegaskan aturan “One Man One Seat” ini berlaku untuk semua cabang dan semua kapal yang langsung diterapkan dari manajemen pusat.

“Mamang di satu sisi juga kita punya relasi biasanya mereka mau berangkat itu last minute, waktu kapal tiba baru mereka booking tiket. Nah, kita bantu dengan cara non seat. Sekarang ini kita sudah tidak bisa, dilema. Di satu sisi kita mau minta dispensasi lokal dari sini, tidak berani kasih dispensasi kecuali kalau memang kapasitas kapal masih cukup,” sambungnya.

Selain itu juga, dispensasi bisa diberikan jika alat-alat keselamatan diatas kapal masih mencukupi.

“Contohnya KM Ngapulu dan KM Dobonsolo. Itu kita masih dapat dispensasi 100 penumpang walaupun non seat tapi karena alat keselamatannya mencukupi. Jadi kita masih memperpanjang dispensasi ini,” ujarnya.

Hanya saja, kata Sa’id, kaitan dengan kebijakan dispensasi itu, Pelni Ambn harus menyurat ke Pelni pusat lalu Pelni pusat menyurat ke Direktorat Perkapalan dan Kepelautan (Ditkapel) supaya mengeluarkan dispensasi secara menyeluruh.

“Secara menyeluruh itu biasanya ada exception (pengecualian). Itu waktu padatnya penumpang saat Natal, Tahun Baru, Lebaran dan liburan sekolah. Itu biasanya ada penambahan dispensasi. Itu dari pusat menyurat Ditkapel, langsung Ditkapel mengeluarkan surat dispensasi ke semua kapal. Jadi dengan syarat alat keselamatan ditambah,” terangnya.

Untuk pelayanan, diakui Sa’id, sampai saat ini tidak ada masalah. Hanya kendalanya, banyaknya animo masyarakat yang tidak kebagian tiket. Mereka terkadang kecewa dan protes juga karena tidak bisa berangkat mendadak. Bahkan, kadang mereka juga memaksakan untuk berangkat tanpa tiket.

“Yang jelas dengan adanya pembatasan ini, saya harap masyarakat bisa memakluminya karena ini juga salah satu terobosan untuk memaksimalkan pelayanan pada masyarakat supaya bisa nyaman berlayar dengan armada kami. Jadi saya harap masyarakat bisa memaklumi hal ini demi untuk kepentingan kita semua dan kemajuan Kota Ambon,” pungkasnya.

BKL