Koreri.com, Sorong – Keceriaan tampak jelas terlihat pada raut wajah puluhan anak PAUD Tulip di Kampung Klayas, Distrik Seget, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, saat kedatangan rombongan jurnalis bersama tim dari PT. Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU VII Kasim.
Mereka begitu antusias dan gembira menyambut kehadiran rombongan.
Kunjungan di pagi hari itu pun terasa begitu spesial karena bagi para bocah calon generasi penerus bangsa ini, momen seperti itu sangat jarang terjadi.
Rombongan jurnalis dan tim KPI RU VII Kasim pun tak mau kalah merespon sambutan anak-anak PAUD Tulip.
Meski lelah menempuh perjalanan laut menggunakan speed boat yang memakan waktu lebih kurang satu jam dari dermaga Marina Sorong hingga tiba di dermaga Klayas, namun semua itu terbayarkan ketika melihat senyum manis dari anak-anak yang begitu lugu dan polos.
Rombongan pun menyempatkan waktu untuk menyaksikan proses belajar hingga bermain dan berbagi cerita bersama.
Klayas merupakan sebuah kampung yang termasuk dalam wilayah administrasi Distrik Seget, Kabupaten Sorong. 
Dulunya Klayas adalah sebuah kampung miskin yang masuk dalam kategori terpencil atau terisolir dimana kehidupan masyarakatnya yang masih sangat miskin dan akses yang terbatas.
Seiring berjalannya waktu, kehidupan masyarakat di Kampung Klayas mulai berubah berkat sentuhan program dari PT. KPI RU VII Kasim atau yang sering disebut Kilang Kasim.
Klayas yang masuk dalam area ring 1 wilayah operasi Kilang Kasim dijadikan sebagai kampung binaan melalui Program Corporate Social Responsibility (CSR).
Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut.
Salah satu diantaranya yakni rumah produksi sagu yang dikerjakan secara kelompok dengan anggota sebanyak 10 orang. Kelompok ini diketuai Arkilaus Katumlas (46).
Arkilaus kepada Koreri.com, menerangkan bahwa bantuan yang diberikan Kilang Kasim sangat luar biasa karena telah berdampak bagi peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat setempat.
“Jadi dari awal kita masih mengelola sagu secara tradisonal atau manual. Namun setelah adanya bantuan mesin dari Kilang Kasim, hasilnya menjadi lebih memuaskan sekarang,” terangnya. 
Arkilaus juga secara khusus menyampaikan ucapan terima kasih kepada Kilang Kasim yang telah memberikan bantuan berupa sarana dan prasarana. Diantaranya, dengan mendirikan rumah produksi, mesin sensor, mesin parut, gerobak roda tiga dan meteran listrik .
“Bahkan kami juga diajarkan melakukan pembibitan pohon sagu,” bebernya.
Arkilaus pun bersyukur hasil penjualan sagu dapat membantu kehidupan sehari-harinya.
“Dengan adanya bantuan Kilang Kasim dapat meringankan pekerjaan kami dalam mengelola sagu sebagai bahan makanan untuk dirinya pribadi dan keluarga. Juga dijual ke Kota Sorong yang diangkut menggunakan perahu atau dengan kendaraan umum darat,” imbuhnya.
Arkilaus pada kesempatan itu juga, menerangkan proses produksi sagu dari bahan baku hingga menjadi sagu yang siap dikonsumsi. 
“Awalnya bahan baku diambil dari pohon sagu yang berada di Dusun Malagam. Kemudian dikumpulkan di rumah produksi Klayas. Setelah itu, sagu dipotong kecil-kecil, dikupas untuk selanjutnya diproses di dalam mesin parut yang hasilnya membentuk serbuk-serbuk sagu. Setelah itu serbuk sagu dibawa ke tempat perasan. Setelah diberi air kemudian diperas menggunakan tangan untuk memisahkan sari patinya dari serbuk sagu tadi. Saripati kemudian ditampung pada wadah yang berisi air. Setelah itu saripati tadi akan diendapkan sebentar hingga berbentuk sagu padat,” urainya.
Dari hasil produksi, Arkilaus bisa membawa sekitar 50 tumang sagu yang ia jual ke pasar dengan harga per tumang Rp50 ribu.
“Harapannya, Kilang Kasim tetap terus mendampingi rumah produksi sagu di Kampung Klayas. Dan juga dapat membantu pengadaan kendaraan yang dapat mengangkut sagu-sagu yang sudah dikemas dalam tumang ke kota. Karena jika melalui jalan darat, banyak jalan yang tidak begitu mulus sehingga membuat sagu jadi rusak dan kurang memberi hasil penjualan yang maksimal sedangkan jika lewat laut terkadang cuaca juga mempengaruhi perjalanan,” harapnya.
Selain rumah produksi sagu, keberadaan PAUD Tulip juga adalah bagian dari program CSR Kilang Kasim.
Yakoba selaku pimpinan PAUD Tulip menyampaikan rasa syukur dan berterimakasih kepada Kilang Kasim atas andilnya dalam memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak Klayas serta membantu renovasi gedung sekolah. 
“Untuk hal-hal yang masih kurang seperti buku dan seragam bagi anak anak, kami sampaikan kepada Kilang Kasim untuk dapat membantu menyediakannya,” pintanya ke Koreri.com, seraya menambahkan masyarakat sangat senang dan bersemangat untuk membawa anak-anak mereka ke sekolah.
Ucapan terima kasih dan rasa bangga juga disampaikan Anneke Katumlas selaku Ketua Pasar Klayas.
“Saya sangat bangga dan berterima kasih kepada Kilang Kasim karena sudah membantu saya dengan teman-teman. Dulunya kita berjualan keliling tapi setelah ada pembangunan pasar, kami sudah tidak jualan keliling lagi,” ucapnya dengan penuh rasa bangga.
Sementara, Area Manager Communication Relations, CSR & Compliance RU VII Kasim Ferdy Saputra menjelaskan sagu merupakan makanan pokok bagi masyarakat di Papua. 
Untuk itu, pihak perusahaan menyediakan sarana dan prasarana untuk mendukung usaha petani sagu.
Selama ini mereka mencari sagu di hutan mulai dari menebang, membelah hingga memotong pohon sagu dan memproduksinya. Semuanya dilakukan di hutan.
“Pada 2021, kami berinisiasi untuk menjalankan program Comdev dengan membangun rumah sagu dan membentuk kelompok masyarakat beranggotakan sekitar 10 orang untuk mengelola sagu. Lalu kami lengkapi dengan bantuan mesin parut sagu serta alat angkut berupa gerobak roda tiga untuk mobilisasi sagu dari hutan ke rumah sagu,” sambungnya.
Bantuan sarana dan prasarana di rumah sagu ini diharapkan dapat membantu masyarakat Klayas dalam mencari rejeki.
Begitu pula dengan PAUD Tulip satu-satunya yang ada di kampung Klayas.
“Kami menginisiasi ibu-ibu terutama kader-kader posyandu untuk bersama dengan RU VII Kasim untuk mengembangkan dan mendidik anak-anak usia dini untuk nantinya bisa memiliki kompetensi melanjutkan pendidikan ke tingkat SD,” tandasnya.
“Kami sifatnya mendampingi masyarakat dan apabila terdapat masalah atau hal yang ingin didiskusikan, kami punya tim yang rutin mengunjungi Kampung klayas,” pungkasnya.
ZAN






























