Koreri.com, Timika – Kelompok Meki Jitmau, Frans Samori dan Abner Howai kembali menjalankan aksinya dengan melakukan pemalangan terhadap empat sekolah di Timika, Papua Tengah, Rabu (14/1/2026).
Aksi palang ini terjadi di SMA Negeri 1 Mimika dan SMA Negeri 7 Mimika di Jalan Yos Soedarso Timika, SMP Negeri 7 Mimika di Gang Solter Elmas serta SD Inpres Inauga di Jalan Budi Utomo Ujung.
Pemalangan yang telah dilakukan sejak 13 Januari 2026 malam ini diklaim Meki Jitmau cs karena persoalan sengketa tanah yang kabarnya belum diselesaikan.
Mereka bahkan menuntut Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika harus membayar tanah yang sudah dibangun aset milik pemerintah.
Berdasarkan data yang dihimpun media ini, Meki Jitmau cs ini ternyata hanyalah sekelompok orang dengan modus “makelar tanah” yang bekerja seolah-olah mendasari surat mandat dari para pihak yang mengklaim pemilik lahan bangunan yang dipalanig tersebut.
Pasalnya, lahan-lahan yang diklaim Meki Jitmau cs kepemilikannya tak tercatat atas nama Meki Jitmau Cs. Lahan-lahan tersebut ternyata adalah milik Pemda Mimika sendiri.
Bahkan data terbaru, Pemda Mimika juga telah memenangkan perkara lahan SMP Negeri 7 di tingkat Kasasi.
Informasi yang diperoleh dari berbagai pihak, aksi Meki Jitmau cs ini merupakan modus lama yang sering dilakukan untuk mendapatkan uang dari Pemerintah di saat palang dibuka.
Yang parahnya lagi, modus Meki Jitmau cs sudah dilakukan sejak pemerintahan sebelumnya. Dan aksi ini selalu mereka lakukan di bulan Desember atau Januari dan berharap Pemkab Mimika membayar tuntutannya.
Pemda selaku pemilik sah lahan-lahan tersebut dikabarkan akan segera mengambil langkah hukum dengan mengadukan Meki Jitmau cs ke Kepolisian setempat.
Sebelumnya, sebanyak empat sekolah di Mimika diliburkan karena dipalang oleh sekelompok masyarakat, pada Selasa (13/1/2026).
Aksi ini terjadi di SMA Negeri 1 Mimika dan SMA Negeri 7 Mimika di Jalan Yos Soedarso Timika, SMP Negeri 7 Mimika di Gang Solter Elmas serta SD Inpres Inauga di Jalan Budi Utomo Ujung.
Berdasarkan informasi yang dihimpun media ini di lokasi, palang telah dilakukan sejak 13 Januari 2026 malam. Persoalan sengketa tanah yang kabarnya belum diselesaikan diduga jadi pemicu aksi pemalangan ini.
Kelompok yang melakukan palang pada seluruh pintu-pintu kelas di empat sekolah tersebut dengan menggunakan papan dan kayu balok diduga adalah Meki Jitmau, Frans Samori dan Abner Howai.
Di gerbang, mereka juga membentangkan spanduk dengan bertuliskan sejumlah tuntutan yang ditujukan kepada pemerintah Kabupaten Mimika, terutama kepada Bupati Mimika, serta kepala dinas dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.
Pantauan media ini di lapangan, sejak pukul 07.00 WIT para guru hingga pelajar dari empat sekolah tersebut sudah berdatangan.
Mereka tampak tidak menyangka menyaksikan tempat belajar mengajar mereka yang sudah dipalang oleh kelompok masyarakat. Para siswa lalu dipulangkan untuk sementara sambil menunggu palang kembali dibuka.
Aparat keamanan dari Polres Mimika dan Polsek Mimika Baru pun mendatangi lokasi untuk melakukan pengamanan serta berkoordinasi dengan kelompok yang melakukan palang agar palang segera dibuka.
Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Mimika, Nona Yeni Gogani mengatakan kepada media ini menyampaikan bahwa sejak pagi sebanyak 1400 siswa berhamburan di jalan sekitaran lingkungan sekolah.
Namun, untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, ia selaku kepala sekolah pun memulangkan anak didiknya dan menjalankan proses pembelanjaan dari rumah.
“Jadi bukan libur, tapi belajar di rumah, saya berharap apa yang terjadi hari ini kan sudah mengganggu proses belajar mengajar, di sini ada guru-guru mungkin bisa dilihat masih menunggu karena ini kan pendidikan ini kan harus berjalan. Kalau ada masalah mungkin bisa dibicarakan, didiskusikan bagaimana caranya supaya ada jalan keluarnya, bukan mengorbankan siswa untuk belajar,” tutur Yeni.
Ia pun berharap persoalan ini dapat segera terselesaikan sehingga para siswa-siswi bisa kembali menjalani proses belajar mengajar di sekolah.
Senada dengan Yeni, Kepala Sekolah SD Inpres Inauga, Ny. Diana Domakubun saat ditemui juga mengaku menyesali tindakan ini.
Katanya, aksi pemalangan ini bukan baru pertama kali dilakukan. Namun, ia menilai bahwa tindakan ini justru mengorbankan masa depan generasi muda terutama dalam menimba ilmu di sekolah.
“Saya berharap semua pihak berkompeten segera menyelesaikan masalah-masalah sekolah ini karena ini menyangkut masa depan anak-anak bangsa,” katanya.
“Kita harus memikirkan masa depan anak-anak ini untuk mendapatkan layanan pendidikan yang baik,” tutup Diana.
EHO
























