Koreri.com, Sorong — Workshop Diseminasi Hasil Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) HIV dan sifilis yang dilaksanakan di Tanah Papua memaparkan perkembangan terbaru situasi penyakit tersebut di wilayah Papua.
Survei ini dilakukan pada 2024 – 2025 di enam provinsi dan 16 kabupaten/kota, termasuk Kota Sorong, dengan sasaran masyarakat umum usia 15–59 tahun.
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kota Sorong, Jeny Isir membeberkan hasil survei yang menunjukkan bahwa prevalensi HIV di Tanah Papua saat ini berada di angka 1,44 persen.
Angka ini menurun dibandingkan survei sebelumnya, yakni 2,4 persen pada 2006 dan 2,3 persen pada 2013.
Meski mengalami penurunan, angka tersebut masih berada di atas target WHO, yang menetapkan suatu wilayah dikatakan terkendali bila prevalensi HIV berada di bawah 1 persen.
“Artinya, HIV di populasi umum Tanah Papua masih tergolong tinggi,” bebernya.
Survei dilakukan melalui dua metode, yaitu wawancara untuk mengukur pengetahuan masyarakat tentang HIV, stigma dan diskriminasi, serta perilaku penggunaan kondom, kemudian dilanjutkan dengan pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan.
Berdasarkan hasil survei, kasus HIV paling banyak ditemukan pada kelompok usia di atas 25 tahun, sementara pada usia di bawah 15 tahun jumlahnya relatif lebih rendah. Secara umum, kelompok usia produktif 20–39 tahun masih menjadi kelompok dengan jumlah kasus tertinggi.
Untuk Kota Sorong, hingga Desember 2025 tercatat 4.345 orang dengan HIV positif, ini merupakan data kumulatif dengan intervensi pengobatan dan evaluasi yang masih berlanjut.
Dimana jumlah untuk yang laki-laki 1.381 jiwa dan perempuan 1.865 jiwa.
Kemudian, untuk AIDS laki-laki total tercatat 622 kasus dan perempuan 425 kasus.
“Kalau AIDS, laki-laki jumlahnya lebih dari tinggi dari perempuan. Sementara yang meninggal akibat AIDS sebanyak 486 jiwa. Ini yang tercatat atau terdata yang diketahui oleh pelayanan kesehatan, puskesmas dan rumah sakit,” rincinya.
Selanjutnya, sebagian besar dari lebih 4.000 orang dengan HIV tersebut telah mendapatkan pengobatan.
Sementara itu, ditemukan tercatat 318 kasus baru HIV pada 2025. Angka ini meningkat dibandingkan 2024 yang berjumlah 215 kasus.
Dalam upaya pengendaliannya, Pemda bersama Pusesmas, rumah sakit dan LSM terus melakukan sosialisasi, tes HIV, pengobatan, edukasi, serta kegiatan penjangkauan melalui layanan mobile VCT, termasuk ke populasi kunci.
Sosialisasi dan edukasi mengenai HIV/AIDS juga dilakukan di sekolah dan masyarakat umum, serta pendampingan bagi orang dengan HIV agar rutin berobat dan tetap produktif.
“Sesuai rekomendasi, ke depan akan dibentuk tim khusus untuk memperkuat pemantauan dan pengendalian di lokasi-lokasi yang dinilai berisiko, guna menekan laju penularan HIV di kota Sorong,” pungkasnya.
ZAN

















