Koreri.com, Timika – Tak bisa disangkali lagi jika kini profesi sebagai pesepak bola di Indonesia telah berubah menjadi ladang usaha yang mencerahkan dan mendatangkan cuan besar bagi mereka yang menggelutinya.
Bagaimana tidak, selain uang besar, popularitas dan pengakuan publik hingga perjalanan lintas negara atau benua menjadi hal yang lumrah bagi para pesepak bola profesional.
Terlebih jika para pemainnya mampu memoles bakatnya dengan disiplin tinggi yang membuatnya menjadi rebutan pemandu bakat tim-tim elit nasional bahkan internasional.
Dalam obrolan singkat, Yaklep bilang, “kalau cuma jago kandang sementara negara tidak melarang untuk pamer “skill” sampai ke ujung dunia, terus apa yang bisa menghambat kitorang sekarang?” tanyanya.
“Ya seharusnya tidak ada yang menghambat kita, Yaklep,” ujar Pemred Koreri.com.
Terobsesilah ke beberapa pemain asal Papua yang pernah bersinar di luar negeri.
Sebut saja Yanto Basna, bek tangguh ini cukup sukses di Liga Thailand dengan memperkuat Khon Kaen FC, Sukhothai FC, dan PT Prachuap FC.
Elie Aiboy sempat membela klub Malaysia, Selangor FA dan David Laly yang bermain di Felcra FC.
Ada juga Boaz Solossa, Imanuel Wanggai dan Oktovianus Maniani, yang sempat merumput bersama Carsae FC di Timor Leste.
Jujur, kita semua di Tanah Papua dan belahan barat Indonesia sangat bangga untuk ini, termasuk Yaklep. Lalu bagaimana caranya untuk bisa seperti itu?
Sudah tentu pengembangan bakat di sekolah bola dan liga lokal yang teratur akan membantu mempercepat persiapan kita, sumber daya manusia (SDM) Papua untuk masuk ke dunia “elit” ini.
Ingat, ketika bermain bola, yang anda pertontonkan dan banggakan adalah murni “skill” anda yang dititik beratkan pada kekuatan fisik, kerjasama tim, mentalitas, ketenangan, dan kecepatan dalam membuat keputusan.
Maaf, dalam sepak bola atau cabang olah raga lain, tidak ada korupsi kolusi nepotisme (KKN)! Kalaupun ada, bisa dipastikan yang bersangkutan akan segera gagal dan tersingkir.
Papuan Footbal Academy (PFA) yang disponsori oleh PT Freeport Indonesia adalah contoh pengembangan SDM Papua melalui talenta-talenta muda di Tanah Papua yang dilakukan secara profesional dan cukup memberikan bukti bahwa mereka bisa berprestasi di kelompok umur.
Di kelompok senior saat ini, ada 2 klub sepak bola dari Tanah Papua sedang berkiprah di Liga 1 dan 2 yakni, PSBS Biak dan Persipura Jayapura.
Dalam sebuah diskusi singkat di Timika, The Mambri (fans ultras PSBS Biak), mengingat kembali momen-momen bagaimana klub kebanggaan masyarakat Biak itu berhasil melewati 20 pertandingan dari total 34 pertandingan di kompetisi Liga 1 Indonesia.
Mereka mengekspresikan rasa bangganya namun terselip juga kekuatiran bahwa PSBS Biak bisa saja terdegradasi ke Liga 2.
The Mambri mengajak semua pihak berkomitmen membangun ekosistem sepakbola profesional di Tanah Papua dan terkhusus di Kabupaten Biak Numfor yang kaya akan talenta-talenta mudanya.
“PSBS BIAK adalah harga diri orang Biak dan Papua,” tegasnya.
Disisi lain, mengingat kecintaan anak-anak Papua bermain bola, dan banyak pemain bola Papua yang tergabung dalam tim Nasional Indonesia maka PSBS BIAK harus tetap di liga 1.
The Mambri mengajak semua pihak yang ikut membangun ekosistem sepakbola di Papua khususnya di Biak dan ditingkat Nasional untuk melihat sepakbola bagi Papua tidak partial tetapi secara komprehensif untuk tujuan kemajuan generasi muda di Papua dan bisnis sepakbola itu sendiri.
Keberadaan PSBS Biak di Liga 1 dan jika Persipura berhasil promosi ke Liga 1, maka sejujurnya keterwakilan kita di Liga Tertinggi di negeri ini adalah sebuah kebanggaan dan prestasi bersama Tanah Papua.
“Kita semua tahu, sepak bola bagi orang Papua adalah kultur! Itu martabat kami!”, Yaklep mengingatkan.
Disana kita memamerkan jati diri kita tanpa banyak drama. Itu masalah hati karena hanya dibagian itu, orang Papua bisa membuktikan dirinya secara transparan dan tanpa embel-embel. No KKN!
“Kalau ko jago, jago saja! Epen kah,” tegas Yaklep.
Pemerhati sepak bola Mananwir Richard N. Wakum mengajak seluruh elemen masyarakat di Tanah Papua untuk bersatu hati mendukung pengembangan bakat muda serta memperkuat klub kebanggaan daerah yang berlaga di kompetisi nasional.
Menurutnya, Papua memiliki potensi luar biasa dalam dunia sepak bola.
Bakat anak-anak muda Papua bahkan disebutnya sudah terbentuk secara alami, meski belum mendapatkan pembinaan formal melalui sekolah sepak bola (SSB).
“Di seluruh wilayah Tanah Papua ini banyak sekali bakat alami. Tanpa dididik secara khusus pun mereka sudah punya kemampuan yang hebat. Apalagi kalau dibina dengan baik melalui sekolah sepak bola, tentu kualitas mereka akan semakin meningkat,” ujar Richard.
Ia menilai, sepak bola saat ini bukan hanya sekadar olahraga, tetapi juga menjadi profesi yang menjanjikan.
Dengan kemampuan yang baik dan kesempatan bermain di level profesional, para pemain bisa mendapatkan kontrak bernilai besar.
“Kalau punya skill yang baik, pasti akan dilirik klub-klub besar. Sepak bola sekarang ini menjanjikan masa depan yang cerah bagi anak-anak kita,” imbuhnya.
Karena itu, Richard berharap para pemerhati dan pencinta sepak bola di Papua tidak tinggal diam melihat potensi tersebut.
Ia mengajak semua pihak untuk bersama-sama membina, mendukung, dan membuka ruang bagi generasi muda Papua agar berkembang secara maksimal.
Selain fokus pada pembinaan usia muda, Richard juga menaruh perhatian besar terhadap dua klub kebanggaan Papua yang berlaga di kompetisi nasional, yakni PSBS Biak yang berjuang di Liga Super dan Persipura Jayapura di Liga 2 Pegadaian Indonesia.
Ia menegaskan, keberadaan kedua tim tersebut merupakan harga diri masyarakat Papua di kancah sepak bola Indonesia.
“PSBS Biak dan Persipura adalah kebanggaan kita. Ini harga diri orang Papua dalam sepak bola nasional. Karena itu, kita harus beri dukungan penuh agar mereka bisa meraih hasil terbaik,” tegasnya.
Khusus untuk PSBS Biak, Richard mengajak semua pihak untuk melupakan polemik masa lalu dan fokus pada masa depan tim.
Menurutnya, siapa pun yang memiliki niat baik untuk membantu dan membangun tim harus diterima dengan tangan terbuka.
“Kalau terus melihat ke belakang, kapan kita maju? Mari kita buka hati untuk siapa saja yang mau membantu PSBS Biak agar tetap bersaing di Liga 1,” ujarnya.
Richard juga mengingatkan bahwa kompetisi Liga 1 merupakan liga profesional sehingga klub tidak bisa hanya bergantung pada dukungan Pemerintah daerah.
Selain itu, manajemen klub perlu juga ditata se-profesional mungkin karena bola itu murni bisnis, ada aliran masuk-keluar uang yang perlu diatur dengan baik.
Ingat, manajemen harus aktif mencari sponsor guna memperkuat finansial tim dan bukannya duduk manis.
Ingat, ini bisnis terukur dan jelas “profit oriented” (orientasi untung, Red.).
Di akhir pernyataannya, Richard mengajak masyarakat Biak, termasuk generasi muda yang berada di luar daerah maupun di kampus-kampus untuk memberikan dukungan yang membangun, bukan sekadar kritik tanpa solusi.
“Kritik itu boleh, tapi harus membangun. Mari kita satukan hati, beri doa dan semangat agar PSBS Biak bisa bertahan di Liga 1 dan Persipura kembali ke kasta tertinggi,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Komunitas Supporter Ultras Timika Evert Mofu menyuarakan kembali soal dukungan terhadap klub-klub sepak bola Papua.
Ia menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi sejumlah tim Papua yang dinilai minim dukungan sponsor, terutama dari sisi finansial.
Menurut Evert, sejumlah klub besar asal Papua seperti Persipura Jayapura, Persiwa Wamena, Persiram Raja Ampat, Persidafon Dafonsoro, hingga Perseru Serui pernah menjadi kebanggaan masyarakat Papua.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, banyak di antaranya menghadapi tantangan serius, khususnya terkait pendanaan.
“Kami melihat hampir semua klub Papua mengalami persoalan yang sama, yaitu kurangnya perhatian dari sponsor, terutama dukungan finansial,” ujar Evert.
Saat ini perhatian suporter tertuju pada dua tim yang masih berkompetisi di kasta nasional, yakni PSBS Biak di Liga 1 dan Persipura Jayapura di Liga 2.
Persipura, yang dikenal sebagai salah satu klub tersukses di Indonesia, disebut mulai menunjukkan tren positif dalam beberapa bulan terakhir.
Tim Mutiara Hitam kini berada di papan atas klasemen Liga 2 dan memiliki peluang besar untuk kembali bersaing di level tertinggi.
Namun situasi berbeda dialami PSBS Biak, tim berjuluk Badai Pasifik itu saat ini berada di papan bawah klasemen Liga 1 dan terancam masuk zona degradasi.
Supporter menilai persoalan finansial menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi performa tim.
Evert berharap perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di Papua seperti PT Freeport Indonesia dan LNG Tangguh, serta pelaku usaha lainnya dapat memberi perhatian lebih terhadap perkembangan sepak bola daerah.
“Papua punya talenta sepak bola yang luar biasa. Anak-anak muda di sini punya kemampuan di atas rata-rata. Sepak bola bukan hanya olahraga, tetapi juga wadah pembinaan generasi muda agar tetap berada di jalur positif,” imbuhnya.
Ia menegaskan, keberadaan klub Papua di Liga 1 memiliki arti penting, bukan hanya bagi dunia olahraga, tetapi juga bagi kebanggaan dan identitas masyarakat Papua.
Supporter Ultras Timika pun berharap adanya sinergitas antara Pemda, sponsor dan manajemen klub agar sepak bola Papua tetap hidup dan mampu bersaing di tingkat nasional.
Harapan besar mereka sederhana: Papua tetap memiliki wakil yang bertahan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Kini sepak bola Papua tak lagi sebatas hobi, tapi hadir sebagai sebuah prospek bagi masa depan setiap mereka yang melakoninya mengingat kini olahraga yang paling digandrungi publik dunia itu telah menjelma menjadi industri bisnis.
Pesepak bola atau atlet olahraga lainnya telah menjadi profesi yang cukup menjanjikan saat ini sama seperti profesi pekerja pemerintahan atau pun pekerja institusi swasta lainnya.
Anda boleh menggantungkan hidup anda di sana!
Ayo talenta muda Papua, mari berlomba untuk membuktikan diri kalian, ingat profesi sepak bola menawarkan kalian sesuatu yang menggairahkan.
Kalian ditunggu untuk berkiprah mengalahkan pendahulu kalian yang hanya baru bisa berkompetisi di Asia.
Ingat, Eropa, Amerika, Australia menanti kiprah kalian!
Konten Khusus Redaksi Koreri


























