Koreri.com, Sorong – Ikatan Alumni Kota Studi Hollandia Jayapura Provinsi Papua Barat Daya akan melaksanakan tiga agenda penting diantaranya pelantikan pengurus, kemudian rapat kerja (raker) I dan acara buka puasa bersama di Gedung Lamberth Jitmau Kota Sorong, Sabtu (7/3/2026).
Persiapan pelantikan, Raker I Ikatan Alumni Kota Studi Hollandia Jayapura PBD yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama telah mencapai 95 persen.
Ketua Panitia Pelaksana Yanto Ijie menuturkan, persiapan kegiatan tiga agenda ini hampir rampung dan pihaknya menunggu pelaksanaan acara.
“Persiapan sudah mencapai sekitar 95 persen. Kami tinggal menunggu hari pelaksanaan,” kata Yanto kepada wartawan di Kota Sorong, Jumat (6/3/2026)
Peserta yang diperkirakan hadir dalam kegiatan tersebut mencapai sekitar 500 orang, terdiri dari pengurus Dewan Pengurus Pusat Ikatan Alumni Kota Studi Hollandia Jayapura PBD, serta perwakilan lima kabupaten, satu kota dan provinsi yang jumlahnya sekitar 200 orang.
Selain para alumni, panitia juga mengundang berbagai pihak sebagai tamu undangan, diantaranya organisasi kemasyarakatan (ormas), tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta pimpinan perguruan tinggi yang berada di wilayah Sorong Raya.
Yanto menjelaskan, setelah prosesi pelantikan dilanjutkan dengan rapat kerja pertama yang bertujuan menyusun serta membahas berbagai program kerja organisasi ke depan. Program-program tersebut difokuskan pada pelayanan kepada masyarakat, termasuk pelayanan sosial dan pelayanan kesehatan.
“Kami ingin agar organisasi alumni ini tidak hanya menjadi wadah silaturahmi, tetapi juga bisa berkontribusi langsung kepada masyarakat melalui program sosial dan kesehatan,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan juga akan diakhiri dengan buka puasa bersama yang melibatkan para alumni serta sejumlah kelompok pengajian yang turut diundang dalam acara tersebut.
Pada kesempatan itu, Yanto juga menanggapi penggunaan kayu untuk pemasangan bendera di sepanjang jalan menjelang pelaksanaan kegiatan. Ia menegaskan bahwa kayu yang digunakan bukan berasal dari mangrove.
“Kami pastikan kayu yang dipakai bukan kayu mangrove, tetapi kayu yang diambil dari gunung dan hutan. Kami ingin memberi contoh untuk menjaga dan melestarikan hutan mangrove,” tegasnya.
Dikatakannya bahwa, keberadaan hutan mangrove di Kota Sorong saat ini semakin berkurang sehingga perlu dijaga bersama. Jika mangrove terus ditebang, dikhawatirkan akan menimbulkan dampak lingkungan seperti abrasi pantai serta berkurangnya habitat ikan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.
“Kalau mangrove terus diambil, dampaknya bisa terjadi abrasi pantai dan kita juga bisa kehilangan ikan-ikan segar yang selama ini menjadi sumber pangan masyarakat,” pungkasnya.
KENN
























