Koreri.com, Sorong – Tokoh pahlawan nasional asal Maluku, Thomas Matulessy atau yang lebih dikenal sebagai Kapitan Pattimura, kembali dikenang dalam peringatan ke 209 tahun yang digelar masyarakat Maluku di kawasan Pantai Reklamasi Modern City, Kota Sorong, Jumat (15/5/2026).
Kapitan Pattimura merupakan pahlawan nasional Indonesia yang lahir di Desa Haria, Pulau Saparua, Maluku, pada 8 Juni 1783.
Sosoknya dikenal luas sebagai pejuang rakyat Maluku yang menentang kebijakan kolonial Belanda, terutama monopoli perdagangan rempah-rempah, kerja paksa, serta berbagai bentuk penindasan terhadap masyarakat.
Perjuangan Pattimura mencapai puncaknya saat memimpin rakyat Maluku merebut Benteng Duurstede pada 15 Mei 1817 dalam perlawanan yang kini dikenal dengan sebutan Perang Saparua.
Karena perjuangan itu, setiap tanggal 15 Mei diperingati sebagai Hari Pattimura.
Meski akhirnya ditangkap dan dihukum mati oleh Pemerintah kolonial Belanda pada 16 Desember 1817 namun semangat perjuangan Pattimura tetap hidup dan menjadi simbol patriotisme, keberanian, serta cinta tanah air bagi bangsa Indonesia.
Peringatan Hari Pattimura ke 209 tahun di PBD turut dihadiri Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Yakob Kareth, Asisten I Pemerintah Kota Sorong Jeremias Gemenop, tokoh masyarakat Maluku, serta tamu undangan lainnya.
Dalam sambutan Gubernur PBD yang dibacakan Pj Sekda, disampaikan bahwa Kapitan Pattimura merupakan simbol perjuangan rakyat melawan ketidakadilan dan penjajahan kolonial Belanda.
“Pattimura memimpin rakyat melawan penjajah demi mempertahankan hak hidup, harga diri, dan kebebasan bangsanya,” ungkapnya.
Menurut Gubernur, peringatan 209 tahun perjuangan Pattimura menjadi bukti bahwa semangat cinta tanah air, keberanian, dan tekad perjuangan tidak pernah padam.
“Perjuangan itu ibarat obor yang tidak pernah padam walaupun diterpa angin maupun disiram air,” imbuhnya.
Gubernur menegaskan, perjuangan Pattimura mengandung nilai-nilai luhur yang harus diwariskan kepada generasi masa kini maupun generasi mendatang.
Nilai pertama adalah keberanian melawan ketidakadilan yang berarti rakyat tidak boleh tunduk terhadap penindasan ataupun perlakuan yang merampas hak hak kemanusiaan.
Nilai kedua adalah persatuan dan solidaritas.
Pattimura dinilai berhasil menyatukan berbagai kelompok masyarakat demi satu tujuan bersama, yakni kemerdekaan dan kebebasan rakyat.
Sementara nilai ketiga adalah semangat pengorbanan.
“Pattimura rela mengorbankan jiwa dan raganya demi masa depan generasi berikutnya,” tegasnya.
Di kesempatan itu juga dijelaskan makna parang dan salawaku yang identik dengan perjuangan Pattimura.
Parang melambangkan keberanian dalam melawan penindasan, sedangkan salawaku atau perisai melambangkan perlindungan, persatuan, kehormatan, serta penjagaan terhadap nilai adat, budaya, dan kemanusiaan.
Pemerintah juga mengajak masyarakat Maluku di PBD untuk terus menjaga persaudaraan, kebersamaan, serta kerukunan antar suku, agama, dan golongan.
Selain itu, tradisi Pela Gandong yang menjadi simbol persaudaraan masyarakat Maluku juga diingatkan kembali sebagai perekat persatuan di tengah keberagaman masyarakat di provinsi termuda Indonesia ini.
Dalam sambutannya, Pj Sekda menegaskan bahwa semangat perjuangan Pattimura saat ini tidak lagi diwujudkan melalui perang fisik melawan penjajah, melainkan melalui perjuangan melawan kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan, narkoba, hingga konflik sosial.
“Sebagai warga Kota Sorong dan Provinsi Papua Barat Daya, kita harus terus menjaga kebersamaan dan persaudaraan serta menghindari hal-hal yang dapat memecah belah persatuan,” ujarnya.
Melalui peringatan Hari Pattimura ke 209 ini, masyarakat diajak terus membangun kehidupan sosial yang harmonis dengan mengedepankan gotong royong, toleransi umat beragama, nasionalisme, dan semangat persaudaraan.
Semangat perjuangan Pattimura yang dikenal melalui ungkapan “Ale Rasa Beta Rasa” diharapkan tetap menjadi kekuatan dalam menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat di provinsi ini.
Peringatan Hari Pattimura di Kota Sorong turut dimeriahkan dengan berbagai atraksi budaya seperti Pawai Obor, bambu gila, tarian salawaku, serta pertunjukan seni budaya Maluku lainnya.
ZAN






















