Koreri.com, Sorong – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Barat Daya memperingati Hari Lahirnya Pancasila ke 81 dengan menggelar upacara pengibaran bendera bertempat di lapangan apel kantor Gubernur sementara, Kota Sorong, Senin (1/6/2026).
Peringatan hari lahirnya dasar negara Republik Indonesia ini mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa Fondasi Perdamaian Dunia” diikuti Forkopimda, pimpinan OPD, ASN di lingkup Pemrov PBD, mahasiswa dan perwakilan siswa-siswa SMA/ SMK di Sorong.
Pimpinan perguruan tinggi, organisasi pemuda hingga mahasiwa pun diundang hadir dalam upacara peringatan tersebut.
Gubernur Elisa Kambu, S.Sos bertindak sebagai inspentur upacara. Sedangkan Kepala Badan Kesbangpol PBD Drs. George Japsenang, M.Si sebagai perwira upacara.
Pasukan pengibar bendera merupakan perwakilan purna paskibra tingkat provinsi tahun 2025.
Gubernur dalam sambutannya, menegaskan makna dari peringatan tersebut yang kini dirasakan masyarakat di wilayah PBD.
“Kalau kita lihat Papua Barat Daya ini kan, sebenarnya apa yang kurang di Papua Barat Daya? Kita selalu hidup bersama-sama, kerukunan di sini juga luar biasa, terus anak-anak muda juga luar biasa.
Toleransinya luar biasa. Kita semua suku bangsa ada di sini. Jadi sebenarnya orang di belahan dunia lainnya harus datang belajar sama kita di sini ya,” ungkapnya dihadapan peserta upacara.
Gubernur menekankan, jika bicara Pancasila namun ada dinamika, maka itu sepanjang menyampaikan hal-hal yang tidak mengganggu, memecah belah persatuan dan kesatuan dalam bangsa ini.
“Tapi kalau kita lihat dinamika apa yang ada selama ini, maka tentu itu sangat luar biasa, Maksudnya kita menjiwai Pancasila itu benar-benar kita laksanakan di sini. Kita menghormati, kita lihat kalau semua hari raya, teman-teman yang Muslim kita semua ke sana, yang Kristian kita semua ke sini, kita libur sama-sama, kehidupan sehari-hari saja. Di pasar ya, di mana-mana saja, ya lebih aman lah. Kalau saya lihat sih begitu, dan kita semua harap keadaan ini tetap dipertahankan untuk ke depan,” harapnya.
Gubernur juga mengingatkan bahwa edukasi itu penting dan menjadi kewajiban bersama untuk meneruskan nilai-nilai yang baik ini kepada anak-anak selaku generasi muda yang akan melanjutkan perjuangan.
Ia tak menampik dengan adanya era keterbukaan saat ini yang bisa dengan mudah mempengaruhi anak-anak muda.
“Jadi yang ada sekarang ini bahwa kita bisa bentengi mereka dengan baik, di rumah dengan pendidikan yang baik, di rumah, terus di sekolah, di tempat mereka ibadah atau di gereja atau di masjid. Kalau ini bisa dilakukan dengan baik. Maka saya pikir tidak ada masalah untuk Pancasila itu kita di sini, luar biasa lah, beda dengan orang di Jawa sana,” tandasnya optimis.
Gubernur lantas menyoroti soal masih adanya aksi-aksi intoleran seperti memalang gereja juga membubarkan orang yang lagi ibadah. Menurutnya, aksi seperti itu sangatlah tidak benar.
Ia mengingatkan bahwa Papua adalah bagian dari NKRI.
“NKRI itu harga mati, mengapa tidak? Bukannya kita sama-sama ini. Kamu cari di belahan dunia yang lain ada suku-suku yang lain juga bisa hidup bersama di sana?
Tidak ada! Disini kita sama-sama ini.
Maka disinilah Indonesia itu yang sebenarnya dan itu ada di Papua. Bukan hanya di Papua Barat Daya, tapi di seluruh Tanah Papua pada umumnya,” pungkasnya.
Ketua DPRP PBD Ortis Sagrim dalam pernyataannya menegaskan Pancasila telah menjadi dasar ideologi seluruh rakyat Indonesia.
“Dan kita sudah menjalani itu dari sejak pendidikan dasar sampai selesai dan implementasinya itu sudah direncanakan,” tegasnya.
Sagrim juga mempertegas pernyataan Gubernur sebelumnya bahwa belajar toleransi itu harus belajarnya di Papua.
“Karena semuanya kami saling menghormati dan menjalankan asas-asas yang ada di lima dasar Pancasila. Itu kita disini masih bagus,” pungkasnya.
KENN
























