Koreri.com, Bintuni – Sebuah sekolah berbasis bilingual di Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat terus menunjukkan perkembangan positif di tengah keterbatasan fasilitas.
Ketua Yayasan Pendidikan Harmony School Internasional Andi Rosdiana kepada wartawan, Senin (8/6/2026) mengungkapkan, kehadiran sekolah ini berawal dari inspirasi pribadinya untuk menghadirkan pendidikan berstandar lebih baik di daerah.
Menurutnya, saat sekolah ini didirikan, belum ada lembaga pendidikan di wilayah Papua Barat, khususnya Teluk Bintuni yang menerapkan sistem pembelajaran bilingual. Gagasan itu muncul setelah melihat langsung pengalaman pendidikan anaknya yang bersekolah di Makassar.
“Dari situlah saya terinspirasi untuk menghadirkan sekolah berbasis bilingual di sini, agar anak-anak di daerah juga memiliki kesempatan yang sama dalam menguasai bahasa Inggris,” ujar Andi Rosdiana.
Ia mengakui, dari sisi fasilitas, sekolah tersebut belum dapat dibandingkan dengan sekolah-sekolah di kota besar. Namun, fokus utama pihak yayasan adalah memastikan kualitas pembelajaran, khususnya dalam penguasaan bahasa Inggris.
“Bangunan bukan yang utama, yang terpenting adalah bagaimana anak-anak mendapatkan pembelajaran yang baik. Di sekolah ini, interaksi guru dan murid sudah menggunakan bahasa Inggris dalam keseharian, sehingga mereka terbiasa,” jelas Rosdiana.
Seiring berjalannya waktu, minat masyarakat untuk menyekolahkan anak di lembaga tersebut terus meningkat. Hal ini menurutnya, menunjukkan tingginya kesadaran orang tua terhadap pentingnya kemampuan bahasa Inggris di era digital dan global saat ini.
Namun demikian, tingginya antusiasme tersebut belum sepenuhnya dapat diimbangi dengan kapasitas yang tersedia. Keterbatasan ruang belajar dan rombongan belajar (rombel) membuat pihak sekolah harus membatasi jumlah siswa yang diterima setiap tahunnya.
“Kami terpaksa membatasi penerimaan siswa karena keterbatasan ruang. Padahal, minat masyarakat sangat tinggi,” imbuh Rosdiana.
Untuk itu, pihak yayasan berharap adanya dukungan lebih lanjut, baik dari pemerintah maupun pihak lainnya, terutama dalam penyediaan fasilitas dan pendanaan guna memperluas kapasitas sekolah.
Terkait dukungan pemerintah, Rosdiana menyebutkan bahwa hingga saat ini bantuan yang diterima masih terbatas, yakni berupa dua ruang kelas. Meski demikian, bantuan tersebut tetap diapresiasi sebagai langkah awal perhatian terhadap pengembangan pendidikan di daerah.
Kedepan, dirinya berharap pemerintah dapat memberikan dukungan yang lebih merata tanpa melihat latar belakang, karena pendidikan merupakan hak seluruh anak bangsa.
“Pendidikan harus didukung tanpa melihat siapa pun. Semua anak berhak mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas,” tegasnya.
Selain dukungan pemerintah, Ketua Yayasan juga mengungkapkan rasa syukurnya atas kontribusi keluarga, khususnya dari sang kakak yang berada di tingkat provinsi, yang selama ini secara konsisten membantu pengembangan sekolah.
“Bantuan dari keluarga sangat besar dan sangat membantu keberlangsungan sekolah ini hingga sekarang,” pungkasnya.
KENN
