LMA Tsingwarop Dorong Kolaborasi PTFI-Pemkab Mimika Perkuat Layanan di 3 Kampung

LMA Tsingwarop Dorong Perkuat Laya kes 3 kampung

Koreri.com, Timika – Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Tsingwarop mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika untuk memperkuat kolaborasi dengan PT Freeport Indonesia (PTFI) dalam membangun fasilitas kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur dasar di tiga kampung terdampak permanen aktivitas pertambangan yakni Tsinga, Waa/Banti, dan Aroanop di Distrik Tembagapura, Papua Tengah.

Dorongan tersebut disampaikan merespon beredarnya video hingga memicu polemik terkait perjalanan tenaga kesehatan (nakes) dari Aroanop menuju Waa/Banti yang harus ditempuh hingga belasan jam akibat keterbatasan akses transportasi.

Ketua LMA Tsingwarop, Arnold Beanal, menilai kondisi tersebut menjadi gambaran nyata bahwa masyarakat di wilayah sekitar tambang masih menghadapi keterbatasan pelayanan dasar, meski kawasan tersebut berada di sekitar salah satu lokasi tambang terbesar di dunia.

“Ya kami meminta kepada PT Freeport Indonesia untuk tidak hanya fokus pada aktivitas pertambangan saja, tetapi juga memberi perhatian serius terhadap kebutuhan dasar masyarakat di Tsinga, Waa/Banti, dan Aroanop. Pelayanan kesehatan dan pendidikan harus menjadi prioritas melalui kolaborasi bersama Pemerintah Kabupaten Mimika,” ujarnya saat memberikan keterangan di Timika, Sabtu (13/6/2026).

Menurut Arnold, masyarakat adat di tiga kampung tersebut selama puluhan tahun telah hidup berdampingan dengan aktivitas pertambangan. Namun hingga kini, akses terhadap fasilitas kesehatan yang memadai dan sarana pendidikan masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya teratasi.

Arnold mengatakan, pihaknya tidak pernah bermaksud menyalahkan Pemerintah daerah.
Sebaliknya, ia mendorong adanya kolaborasi yang lebih kuat antara PTFI dan Pemkab Mimika untuk menjawab berbagai kebutuhan masyarakat di wilayah pegunungan.

“Kami berharap ada rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang lebih representatif, peningkatan akses transportasi, serta dukungan pendidikan yang nyata bagi masyarakat. Jangan sampai masyarakat yang berada paling dekat dengan wilayah operasi tambang justru masih kesulitan mendapatkan pelayanan dasar,” pintanya.

Senada dengan itu, Kepala Biro Kesehatan LMA Tsingwarop, Yulius Janampa, mengaku memahami langsung berbagai tantangan yang dihadapi tenaga kesehatan di wilayah pegunungan karena dirinya juga bertugas
sebagai tenaga kesehatan di RS Waa/Banti.

Ia menjelaskan bahwa tenaga kesehatan kerap berjalan kaki untuk menjangkau kampung-kampung dalam kegiatan pelayanan maupun sosialisasi kesehatan.

“Kondisi ini bukan hal baru. Kami sudah mengalaminya sejak lama. Akses jalan masih terbatas, fasilitas kesehatan juga belum maksimal. Karena itu kami berharap ada perhatian yang lebih serius terhadap kebutuhan tenaga kesehatan dan masyarakat,” imbuh Yulius.

Dia mengakui selama ini berbagai rencana bantuan dan peningkatan fasilitas kesehatan pernah disampaikan kepada masyarakat. Namun sebagian besar masih belum terealisasi secara optimal.

“Kami berharap ke depan ada tindak lanjut yang nyata, bukan hanya sebatas rencana. Masyarakat membutuhkan pelayanan kesehatan yang lebih baik dan berkelanjutan,” harapnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Sekretaris LMA Tsingwarop, Filemon D. Beanal, menilai masih terdapat pekerjaan rumah besar dalam pelaksanaan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) maupun program pengembangan masyarakat di wilayah sekitar tambang.

Menurut Filemon, pembangunan sektor kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur dasar di tiga kampung tersebut perlu menjadi perhatian bersama Pemda yang didukung penuh PTFI agar masyarakat memiliki kesiapan menghadapi perubahan sosial dan ekonomi di masa mendatang.

“Kami tentu berharap program-program sosial yang telah berjalan selama ini dapat dievaluasi secara menyeluruh sehingga manfaatnya semakin benar-benar dirasakan masyarakat. Evaluasi penting dilakukan untuk memastikan pembangunan di wilayah adat berjalan efektif dan tepat sasaran,” ujarnya.

Filemon juga menyoroti pentingnya pembangunan akses transportasi darat yang dapat menghubungkan kampung-kampung di wilayah pegunungan guna mempermudah mobilitas masyarakat dan tenaga kesehatan.

“Kami tidak ingin hanya mengkritik. Yang kami dorong adalah solusi. Pemerintah yang didukung Freeport perlu duduk bersama, menyusun langkah konkret agar pelayanan kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur di Tsinga, Waa/Banti, serta Aroanop bisa lebih baik ke depan,” harap Filemon.

LMA Tsingwarop menegaskan akan terus mengawal berbagai program pembangunan yang menyentuh masyarakat adat di tiga kampung tersebut.

Mereka tetap berharap keberadaan industri tambang dapat berjalan seiring dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat lokal yang berada di sekitar wilayah operasi perusahaan melalui kolaborasi penuh dengan Pemda setempat.

EHO

Exit mobile version