Koreri.com, Sorong – Salah satu tokoh deklarator dan pejuang pemekaran daerah Dr. Drs. Don Augusthinus Lamaech Flassy, M.A., telah tutup usia pada 22 Maret 2026 di RSUD Dok II Jayapura, Papua.
Kepergian almarhum meninggalkan duka mendalam, sekaligus menjadi kehilangan besar bagi masyarakat Papua Barat Daya.
Sebagai sosok yang berperan penting dalam lahirnya Provinsi Papua Barat Daya, almarhum dikenal luas atas dedikasi dan pemikirannya dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat.
Ia merupakan bagian dari generasi tokoh yang mengabdikan diri dalam proses panjang pemekaran wilayah demi menghadirkan keadilan dan kesejahteraan.
Penghormatan terakhir diberikan dalam prosesi penerimaan dan pelepasan jenazah yang berlangsung di Aula Kantor Gubernur Papua Barat Daya, Kota Sorong, Rabu (25/3/2026).
Di kesempatan itu, Ketua Forum Deklarator Sorong Raya Bernard Jitmau, menyampaikan bahwa kepergian almarhum bukan sekadar kehilangan seorang tokoh, tetapi juga kehilangan bagian dari sejarah perjuangan daerah.
“Hari ini kita tidak hanya melepas seorang yang berpulang, tetapi mengenang perjalanan panjang sebuah sejarah penuh pengabdian dan ketulusan bagi tanah ini,” ujarnya.
Menurut Bernard, perjuangan pemekaran Papua Barat Daya bukanlah proses yang mudah. Selama lebih dari 16 tahun, para deklarator berjuang secara mandiri, dengan pengorbanan besar baik tenaga, pikiran, maupun materi.
“Semangat yang mereka bawa dilandasi niat tulus, persatuan, dan tanggung jawab terhadap masa depan generasi Papua Barat Daya,” imbuhnya.
Lanjut Bernard, almarhum Don A. L. Flassy sendiri memiliki peran penting dalam aspek kajian sejarah pemerintahan di Tanah Papua, mulai dari masa kolonial hingga integrasi ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemikirannya menjadi salah satu fondasi penting dalam memperkuat argumentasi pembentukan provinsi baru tersebut.
Selain itu, perjuangan juga diperkuat oleh tokoh lain, seperti almarhum Andi Asmuruf, yang mengkaji aspek hukum dan konstitusi terkait pemekaran daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kolaborasi para tokoh ini menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah lahirnya Papua Barat Daya.
Kepergian Don A.L. Flassy menambah daftar tokoh deklarator yang telah lebih dahulu berpulang, seperti Dr. Decky Asmuruf dan Dr. (Cand.) Andi Asmuruf.
Hal ini menjadi pengingat bahwa perjuangan besar tersebut kini menjadi tanggung jawab generasi penerus.
Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya turut memberikan perhatian dan dukungan dalam proses persemayaman hingga pemakaman almarhum.
Dukungan ini dinilai sebagai bentuk penghormatan negara terhadap jasa para tokoh yang telah berkontribusi nyata bagi daerah.
“Negara harus hadir, tidak hanya dalam pembangunan, tetapi juga dalam menghargai jasa para pejuang daerah,” tambah Bernard.
Ia juga menegaskan bahwa pemakaman bukan sekadar prosesi akhir, melainkan simbol penghormatan, pengakuan sejarah, serta pengingat bagi generasi mendatang tentang nilai perjuangan dan pengorbanan.
Kepada keluarga yang ditinggalkan, disampaikan duka cita yang mendalam, seraya berharap agar diberikan kekuatan dan penghiburan dalam menghadapi masa berduka.
Di akhir sambutannya, Bernard mengajak seluruh pihak untuk melanjutkan perjuangan para deklarator dengan menjaga dan merawat hasil yang telah dicapai.
“Sejarah akan selalu mengingat nama-nama para deklarator. Kini menjadi tugas kita untuk melanjutkan apa yang telah mereka mulai,” tukasnya.
Selamat jalan bapak, abang, kakak, Dr. Drs. Don Augusthinus Lamaech Flassy, M.A.
Dedikasi dan pengabdianmu akan selalu menjadi bagian dari sejarah Papua Barat Daya, serta inspirasi bagi generasi yang akan datang.
ZAN


























