Koreri.com, Ambon – Anggota DPRD Kota Ambon, William Pieter Mairuhu, memberikan apresiasi kepada Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Maluku yang dinilai cepat merespons kerusakan talut dan abrasi di Sungai Wai Sakula, kawasan Bandara Pattimura Ambon.
Menurut William, kehadiran BWS Maluku selama ini sangat membantu masyarakat dalam menangani berbagai dampak bencana hidrometeorologi, terutama banjir dan luapan sungai yang kerap terjadi saat intensitas curah hujan meningkat.
“Kami memberikan apresiasi yang tinggi kepada Balai Wilayah Sungai Maluku karena selalu siap mengatasi berbagai persoalan terkait kondisi cuaca, khususnya banjir akibat luapan air. Masyarakat Kota Ambon sangat terbantu dengan respons cepat yang selama ini diberikan,” ujar William kepada media ini di Ambon, Kamis (4/6/2026).
Meski demikian, ia mengungkapkan bahwa penanganan sungai di Kota Ambon masih menghadapi sejumlah kendala teknis, terutama terkait akses masuk alat berat ke lokasi pekerjaan.
Menurutnya, perkembangan kawasan permukiman dan bangunan di sekitar bantaran sungai membuat mobilisasi alat berat sering kali mengalami hambatan, sehingga proses normalisasi tidak selalu dapat dilakukan secara maksimal.
“Banyak sungai di dalam Kota Ambon yang akses masuk alat beratnya sudah terhalang bangunan. Karena itu diperlukan dukungan dan koordinasi lintas instansi agar pekerjaan penanganan sungai dapat berjalan lebih efektif,” katanya.
Terkait penanganan Sungai Wai Sakula, William menjelaskan bahwa normalisasi yang saat ini dilakukan merupakan kewenangan BWS Maluku sesuai tugas dan fungsi pengelolaan badan sungai. Sementara untuk perlindungan infrastruktur jalan dan bahu jalan yang terdampak abrasi menjadi tanggung jawab Pemerintah Provinsi Maluku melalui Dinas PUPR.
Ia menyambut baik informasi dari Dinas PUPR Provinsi Maluku yang menyatakan bahwa pengamanan badan jalan serta penanganan ruas jalan menuju Bandara Pattimura telah masuk dalam program pekerjaan Tahun Anggaran 2026.
“Bandara Pattimura merupakan objek vital dan pintu gerbang utama transportasi udara di Maluku. Karena itu pengamanan jalan dan infrastruktur di kawasan tersebut menjadi sangat penting bagi kepentingan masyarakat dan perekonomian daerah,” jelasnya.
Sebagai wakil rakyat, William mengaku puas karena berbagai aspirasi masyarakat serta hasil pengawasan DPRD mendapat respons cepat dari pemerintah dan instansi teknis terkait.
“Kami akan terus mendukung pemerintah dalam upaya penanganan bencana dan pembangunan infrastruktur yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat,” tegasnya.
Dalam proses normalisasi Sungai Wai Sakula, lanjut William, ditemukan adanya indikasi aktivitas penambangan batu di kawasan hulu sungai yang diduga berkontribusi terhadap peningkatan sedimentasi pada aliran sungai.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius karena sedimentasi yang tinggi dapat memicu pendangkalan sungai, mempercepat pengikisan tebing, serta meningkatkan risiko banjir dan abrasi.
“Dari hasil normalisasi ditemukan adanya aktivitas penambangan batu di kawasan hulu sungai. Ini akan kami pelajari lebih lanjut untuk memastikan apakah aktivitas tersebut berdampak terhadap peningkatan sedimentasi dan kerusakan badan sungai,” ungkapnya.
Ia menegaskan DPRD Kota Ambon akan mendorong evaluasi terhadap aktivitas penambangan yang berpotensi mengganggu keseimbangan lingkungan di daerah aliran sungai.
Karena itu, William berharap adanya sinergi antara pemerintah daerah, Balai Wilayah Sungai, instansi lingkungan hidup, aparat pengawas, dan pelaku usaha agar aktivitas ekonomi tetap berjalan tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.
“Pembangunan harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan. Jangan sampai aktivitas usaha justru menimbulkan dampak yang merugikan masyarakat di kemudian hari,” pungkasnya.
JFL
























