Koreri.com, Bintuni – Pasangan Daniel Asmorom dan Alimudin Baedu telah menjadikan pertanian sebagai salah satu sektor yang akan digenjot jika keduanya terpilih memimpin Kabupaten Teluk Bintuni.
Kaitannya dengan itu, persoalan mahalnya harga pupuk yang dikeluhkan kelompok petani di wilayah itu hingga saat ini langsung menjadi perhatian paslon dengan jargon DAMAI ini.
Hal itu disampaikan Bakal Calon Wakil Bupati Teluk Bintuni, Alimudian Baedu saat menyambangi warga SP4, Selasa (17/9/2024) malam.
Menurutnya, bidang pertanian menjadi salah satu sektor yang akan digenjot dia bersama pasangannya, Daniel Asmorom.
Hanya saja, jika pupuk ada namun jumlahnya sedikit dan dikendalikan oleh seseorang maka sudah pasti harganya akan mahal.
“Kenapa pupuk itu dari waktu ke waktu masalahnya terus seperti itu? Mengapa kita tidak bisa selesaikan? Persoalannya dimana? Nah, disinilah yang harus butuhkan kecerdasan, pengetahuan dan pengalaman,” ungkapnya.
Persoalan pupuk kata Alimudin, tidak bisa dilihat dari satu aspek. Jika demikian, maka tidak akan pernah terselesaikan persoalan tersebut.
“Tunggu saat kampanye, saya akan ajak kita selesaikan masalah pupuk. Persoalan ini kan sederhana. Pakai hukum ekonomi, supply dan demand. Itu terori ekonomi tak terbantahkan bila mana permintaan cukup tinggi namun pasokan komoditas dari produsen sangat kecil, maka akan terjadi kenaikan harga, begitu pun sebaliknya,” bebernya.
Alimudin lalu menyebut bahwa persoalan pupuk bisa jadi penyebab mengapa besaran panen Padi di Bintuni hanya 3.5 Ton per hektarnya.
“Koreksi kalau saya salah, Bintuni hanya bisa menghasilkan 3,5 Ton Padi per hektar. Pertanyannya kenapa di Jawa 1 hektar bisa hasilkan 11 ton, di Sulses 9,5 ton per hektar, di Mansel 6-8 ton per hektar,” bebernya.
Dari besaran hasil panen padi perhektar kata dia, dampak terhadap harga jual sudah pasti akan terjadi dimana tingginya harga jual yang kemudian berdampak pada rendahnya harga beli masyarakat.
“Disini hanya 3.5 ton, maka harga jualnya akan tinggi. Masalah yang perlu diselesaikan adalah tuntaskan persoalan pupuk, baik ketersediaan dan harga, agar hasil produksi perhektar bisa meningkat kemudian menyiapkan wadah sebagai pintu masuk yang bisa menjual hasil pertanian warga secara luas,” terangnya, lalu menyebut semua itu bisa terlaksana jika daerah ini dipimpin orang orang cerdas.
“Di Jogja itu tidak ada Alfamaret dan Indomaret. Bupatinya larang dan dia buka namanya Tomira (Toko Milik Rakyat). Tomira jadi pintu masuk hasil produksi masyarakat setempat. Ini yang namanya kepala daerah yang memiliki kecerdasan,” tandasnya.
TIM





























