Koreri.com, Jayapura – Polresta Jayapura Kota kembali mengungkap sisi gelap peredaran narkotika lintas negara.
Sebanyak tiga tersangka termasuk seorang warga negara asing (WNA) asal Papua Nugini (PNG) dibekuk saat hendak mengedarkan ganja kering seberat 7,5 kilogram di wilayah Distrik Jayapura Selatan.
Tersangka berinisial GT (38), WNA asal Papua Nugini bersama dua warga lokal, KK (38) dan AT (19) ditangkap dalam operasi gabungan tim Opsnal Satuan Reserse Narkoba dan Reserse Kriminal Polres Jayapura Kota.
Dari tangan mereka, aparat menyita barang bukti (BB) berupa 71 bungkus ganja siap edar, dibalut rapi dengan aluminium foil. Fakta ini mengndikasikan adanya keterlibatan jaringan internasional.
Tak hanya ganja, satu hal yang mengejutkan: ditemukan empat butir amunisi shotgun terselip dalam noken milik GT.
Kapolresta Jayapura Kota AKBP Fredrickus W.A. Maclarimboen, menyebut temuan ini sebagai sinyal serius terhadap potensi ancaman keamanan lintas batas.
“Peluru tersebut tidak digunakan di Indonesia, artinya berasal dari luar. Dugaan awal, dari oknum aparat di negara asal pelaku,” tegas Kapolresta dalam konferensi pers di Mapolresta, Kamis siang.
GT mengaku telah berada di Jayapura Selatan selama sepekan, menunggu pembeli.
Meski hasil tes urine ketiga pelaku menunjukkan negatif narkoba, peran mereka sebagai kurir atau bandar tidak terbantahkan.
Polisi juga menyita kendaraan yang digunakan sebagai alat transportasi ganja tersebut.
AKBP Fredrickus menekankan bahwa meski kasus ini belum bisa dipastikan sebagai bagian dari sindikat internasional, tren keterlibatan WNA dalam penyelundupan ganja dari PNG ke Papua kian mengkhawatirkan.
“Kami akan terus dalami dan kembangkan. Tak ada toleransi untuk kejahatan lintas batas seperti ini,” tegasnya.
Ketiga tersangka kini meringkuk di sel tahanan Polresta Jayapura Kota, menanti proses hukum atas pelanggaran serius terhadap Undang-undang Narkotika.
Penangkapan ini kembali menjadi bukti bahwa Indonesia, khususnya Papua, menjadi medan pertempuran sengit melawan peredaran narkoba lintas negara yang kian meresahkan.
TIM




























