HAKLI Dorong Pelatihan Higiene dan Sanitasi bagi Relawan Driver MBG

IMG 20260826 204103
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Khusus Kebencanaan HAKLI, Johny Sumbung, SKM, M.Kes/Foto : Ist

Koreri.com,Toraja -Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) mengapresiasi pelaksanaan pelatihan safety riding dan safety driving bagi relawan pengemudi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Toraja Utara.

Pelatihan yang digelar Koordinator SPPG Toraja Utara bekerja sama dengan Polres Toraja Utara itu dinilai sebagai langkah positif dalam membangun budaya berkendara yang aman, tertib, dan beretika di jalan raya.

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Khusus Kebencanaan HAKLI, Johny Sumbung, SKM, M.Kes, mengatakan pembekalan keselamatan berkendara sangat penting mengingat relawan pengemudi memiliki peran langsung dalam mendistribusikan makanan kepada para penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Keselamatan berkendara memang sangat penting. Namun, yang tidak kalah penting adalah bagaimana makanan tetap terjaga kebersihan, keamanan, dan higienitasnya hingga diterima oleh para penerima manfaat,” ujar Johny.

Dikatakan pelatihan keselamatan berkendara perlu diimbangi dengan penguatan pengetahuan dan keterampilan terkait higiene dan sanitasi makanan, khususnya selama proses pengangkutan dan distribusi.

Johny yang juga menjabat sebagai Ketua Departemen Kesehatan Lingkungan Hidup dan Kebencanaan Keluarga Besar Putra Putri Polri (KBPP Polri) menilai, relawan pengemudi memiliki tanggung jawab penting dalam menjaga kualitas makanan setelah makanan keluar dari dapur hingga tiba di tangan penerima manfaat.

Karena itu, para pengemudi perlu dibekali pemahaman mengenai tata cara membawa makanan, penyimpanan sementara, serta penanganan makanan selama proses distribusi agar tetap aman dan layak dikonsumsi.

“Selama proses pengantaran, hal-hal sederhana juga harus diperhatikan. Jangan sampai makanan diparkir atau diletakkan di tempat yang tidak higienis, seperti di bawah pohon, dekat tempat sampah, atau lokasi yang berpotensi menimbulkan kontaminasi,” katanya.

Selain itu, ia mengingatkan para relawan untuk menghindari kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko kontaminasi makanan, termasuk merokok saat menangani atau melakukan kontak dengan makanan yang akan disalurkan kepada penerima manfaat.

Johny menegaskan, keberhasilan program MBG tidak hanya ditentukan oleh tersedianya makanan bergizi dan kelancaran distribusi, tetapi juga oleh terjaganya keamanan pangan hingga makanan dikonsumsi oleh penerima manfaat.

“Pelatihan bagi relawan tidak seharusnya hanya menitikberatkan pada etika berlalu lintas, tetapi juga harus mencakup standar higiene dan sanitasi pangan sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan makanan,” tegasnya.

Ia berharap pelatihan yang dilaksanakan di Toraja Utara dapat menjadi contoh bagi penguatan kapasitas relawan SPPG di daerah lain.

Menurutnya, pengemudi yang bertugas dalam distribusi MBG harus memiliki kesadaran dan disiplin tinggi, baik dalam berlalu lintas maupun dalam menjaga keamanan makanan.

Johny juga menekankan pentingnya penegakan disiplin terhadap setiap pengemudi yang melakukan tindakan berbahaya dan mengabaikan aturan lalu lintas.

“Pelatihan yang dilakukan di Toraja Utara harus benar-benar menjadi contoh. Jika ada pengemudi yang ugal-ugalan atau melakukan tindakan di luar kendali SPPG sehingga membahayakan keselamatan orang lain, harus ada tindakan tegas sesuai ketentuan yang berlaku,” pungkas Johny yang juga mewarisi garis keturunan asal Tana Toraja.

RLS