BMKG Bandara DEO: El Nino Sangat Kuat Picu Kekeringan di Wilayah Sorong

Kepala BMKG DEO Sorong Ahmad Bisri
Kepala BMKG Bandara DEO Sorong Ahmad Bisri,S.T.,M.M menyampaikan keterangan pers didampingi Kepala BPBD Kota Sorong, Herlin Sasabone di Ballroom Pollarris Hotel Vega Prime, Kota Sorong, Jumat (28/8/2026) / Foto : KENN

Koreri.com, Sorong – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandara Domine Eduard Osok (DEO) Sorong mengungkap fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan penurunan drastis curah hujan di wilayah Sorong sepanjang Agustus 2026.

Kepala BMKG Bandara DEO Sorong, Ahmad Bisri, S.T., M.M., mengatakan wilayah Sorong pada dasarnya tidak memiliki pola musim yang tegas karena masuk kategori non-zona musim atau wilayah dengan karakter satu musim.

“Kalau kondisi normal, kita sebenarnya tidak punya musim. Kita berada di daerah non-zona musim atau zona satu musim. Jadi sepanjang tahun tetap ada hujan,” kata Ahmad kepada wartawan usai menghadiri Coffee morning BPBD Kota Sorong di Ballroom Pollariss Hotel Vega Prime, Jumat (28/8/2026).

Menurut Bisri, kondisi ekstrem yang terjadi saat ini lebih dipengaruhi fenomena global, yakni El Nino yang berdampak terhadap kondisi atmosfer dan pola curah hujan di wilayah Sorong.

Dia menjelaskan, berdasarkan parameter yang digunakan BMKG, indeks El Nino saat ini berada di angka +2,22, yang masuk kategori sangat kuat.
“Fenomena global ini memengaruhi kondisi lokal kita sehingga curah hujan saat ini menurun sangat drastis,” sebutnya.

Kondisi tersebut terlihat jelas dari catatan curah hujan selama Agustus. Hingga 28 Agustus 2026, BMKG mencatat baru terjadi satu kali hujan dengan curah 2,8 milimeter di wilayah Sorong.

Angka tersebut jauh di bawah kondisi normal maupun catatan tahun-tahun sebelumnya. Sebagai pembanding, pada Agustus 2024 curah hujan di Sorong bahkan mencapai 1.054 milimeter.

Kondisi saat ini juga disebut mendekati fenomena El Nino pada 2015. Saat itu, curah hujan Agustus tercatat hanya 3,1 milimeter dengan delapan hari hujan.

“Sekarang baru satu kali kejadian hujan dengan curah 2,8 milimeter sampai 28 Agustus. Ini hampir sama, bahkan bisa lebih kuat dibanding kondisi pada 2015,” jelasnya.

Meski demikian, BMKG mulai melihat sejumlah tanda perubahan kondisi atmosfer yang memberi harapan datangnya hujan dalam waktu dekat.
Berdasarkan pemantauan citra satelit, mulai terlihat pertumbuhan awan di sejumlah wilayah yang sebelumnya relatif kering. Selain itu, kecepatan angin juga mulai menurun.

“Semula angin cukup kencang, kecepatannya bisa mencapai lebih dari 20 bahkan maksimum sekitar 25. Saat ini sudah turun menjadi sekitar 12,” katanya.

Ahmad memperkirakan dalam dua hingga tiga pekan ke depan mulai muncul tanda-tanda hujan di wilayah Sorong.

“Kalau dari prediksi kami, paling dua sampai tiga minggu insyaallah sudah ada tanda-tanda hujan. Sekarang sudah mulai tumbuh awan dan anginnya juga mulai teduh,” ujarnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa fenomena El Nino secara nasional masih berpotensi berlangsung hingga Oktober. Karena itu, perkembangan cuaca tetap perlu dipantau secara berkala.

BMKG, kata Ahmad, hanya dapat melakukan prediksi berdasarkan data dan pendekatan ilmiah. Sementara perkembangan cuaca tetap memiliki dinamika yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan manusia.

“Kita bisa memperkirakan dan memprediksi dengan sains dan keilmuan. Tetapi tentu ada faktor lain di luar kuasa kita. Semoga hujan segera turun,” katanya.

Ahmad berharap tanda-tanda pertumbuhan awan yang mulai terlihat menjadi awal kembalinya hujan di Sorong setelah beberapa pekan mengalami kondisi kering.

“Semoga segera turun hujan. Karena sekarang sudah mulai ada tanda-tanda. Mudah-mudahan hujan yang dirindukan masyarakat segera datang,” pungkasnya.

KENN