Pesan Ketum K2SATAL: Pemuda/i Sengkanaung Harus Kenali Akar Budaya

Thepilus Bolantimuhe K2SATAL
Ketua Umum K2SATAL Thepilus Bolantimuhe, S.E saat menyampaikan sambutan / Foto : KENN

Koreri.com, Sorong – Ketua Umum Perkumpulan Kerukunan Keluarga Sangihe Talaud (K2SATAL) Thepilus Bolantimuhe, S.E mendorong generasi muda Sangihe Talaud di tanah rantau untuk kembali mengenal dan menghidupkan nilai-nilai budaya sebagai fondasi memperkuat persatuan antar generasi.

Dorongan itu disampaikan Thepilus Bolantimuhe saat menghadiri Musyawarah Pemuda-Pemudi Sengkanaung Kota Sorong, Provinsi Papua Barat Daya di Aula The Luxio Sorong, Sabtu (29/8/2026).

Menurut Theopilus, sebagian besar generasi muda Sengkanaung saat ini lahir dan tumbuh di tanah rantau, sehingga pemahaman terhadap kultur dan budaya leluhur  menghadapi tantangan serius.

“Sebagai generasi muda Sangihe Talaud di tanah rantau, khususnya di Tanah Malamoi, kita harus menyadari bahwa sekitar 90 persen generasi muda saat ini merupakan anak-anak yang lahir dan besar di perantauan,” ucap Ketua Umum.

Dia menilai kondisi tersebut turut menyebabkan nilai-nilai budaya Sangihe Talaud perlahan semakin terkikis. Karena itu, kebangkitan kembali Pemuda Sengkanaung diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat persatuan dengan menjadikan budaya sebagai salah satu pijakan utama.

Theopilus mengatakan, pemahaman terhadap identitas dan nilai budaya akan memudahkan generasi muda membangun rasa kebersamaan.

“Ketika kita menyadari dan memahami nilai-nilai budaya sebagai generasi Sangihe Talaud di tanah rantau, maka upaya untuk mempersatukan kita akan menjadi jauh lebih mudah,” pesannya.

Theopilus juga mengusulkan agar Pemuda Sengkanaung menggelar seminar budaya yang secara khusus menyasar generasi muda. Kegiatan tersebut dinilai penting untuk memberikan pemahaman mengenai sejarah, identitas, serta nilai-nilai budaya Sangir Talaud kepada generasi yang lahir dan besar di luar tanah asal leluhur mereka.

Menurut dia, penguatan identitas budaya perlu dilakukan agar generasi muda tidak hanya memahami Sangir Talaud secara simbolik, tetapi juga mengetahui sejarah dan nilai yang membentuk identitas mereka.

“Kita harus mengakui bahwa masih banyak generasi muda yang minim pengetahuan tentang budaya Sangir Talaud itu sendiri. Karena itu, ke depan saya berharap Pemuda Sengkanaung dapat menggagas sebuah seminar budaya,” ujarnya

Selain aspek budaya, Thepilus menekankan pentingnya memahami sejarah kedatangan orang Sangihe Talaud di Tanah Papua, khususnya Tanah Malamoi.

Ia menyebut para pendahulu tidak hanya datang untuk mencari pekerjaan, tetapi juga membawa nilai-nilai spiritual dan misi pelayanan.

“Tuhan menggunakan mereka untuk menyampaikan kabar baik, kabar kebenaran, dan kabar keselamatan melalui Injil Yesus Kristus,” katanya.

Nilai-nilai spiritual tersebut, kata Tepilus, dapat menjadi energi positif bagi generasi muda untuk membangun kembali semangat persatuan dan kebersamaan.

Dirinya berharap program kerja Pemuda Sengkanaung tidak berhenti pada agenda seremonial atau sekadar memenuhi kebutuhan musyawarah organisasi. Setiap program harus memiliki manfaat nyata dan mampu menjawab kebutuhan generasi muda Sangir Talaud di tanah rantau.

“Kita tidak sekadar berbicara tentang hal-hal yang menjadi pelengkap dalam sebuah musyawarah. Lebih dari itu, kita harus membicarakan apa yang benar-benar dapat kita capai dan kerjakan bersama,” pungkasnya.

KENN