Opini  

Scrolling Medsos Secara Berlebihan Dapat Menyebabkan Pembusukan Otak, Waspadalah!

Oleh : Dr. Komarudin, M.Psi, Psikolog

Komarudin Psikolog Universitas Aisyiyah Yogyakarta
Dr. Komarudin, M.Psi., Psikolog, - Dosen Prodi. Psikologi Universitas‘Aisyiyah Yogyakarta / Foto : Komar

Koreri.com, Opini – Di era digital ini, gadget merupakan bagian integral dalam kehidupan manusia modern. Bahkan sejak bayi lahir ke dunia, secara tidak langsung papa-mama telah memperkenalkannya dengan gadget melalui pengambilan foto dan menguploadnya di media sosial mereka. Semenjak 1 Januari 2025 telah lahir generasi baru yang disebut Gen Beta yang akan terbiasa hidup dalam dunia yang dipenuhi dengan teknologi informasi.

Berdasarkan data Digital 2025 Global Overview Report yang dirilis pada Februari 2025, dari 8,2 Milyar penduduk di Dunia, 70,5% atau sekitar 5,78 Milyar diantaranya menggunakan smartphone dan yang aktif mengakses media sosial sebanyak 5,24 Milyar dengan penggunaan waktu layar rata-rata 2 jam 21 menit setiap harinya. Sementara itu di Indonesia terdapat 212 juta jiwa atau 74,6% dari total populasi yang menggunakan internet melalui smartphone, dimana 143 juta jiwa aktif bermedia sosial dengan rerata waktu layar 4 jam 38 menit. Media sosial yang banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia, diantaranya: Facebook, Youtube, WhatsApp, Instagram, Tiktok, dan Twitter.

Dalam keseharian, media sosial atau sering disingkat medsos berfugsi sebagai sarana untuk mencari berbagai macam informasi, menjalin hubungan keakraban dengan teman atau keluarga, membaca berita, live streaming, membuat konten, dan lain sebagainya. Meskipun demikian, medsos juga kerap kali membawa kepada hal negatif, seperti mendorong penggunanya untuk terus mengikuti trend yang bergerak tiap harinya yang mengakibatkan mengalami fear of missing out (FOMO) dan juga no mobile phone / nomophobia (kekhawatiran dan kecemasan berlebih disaat jauh dari smartphone).

Selain itu, Digital 2025 Global Overview Report juga melaporkan bahwa 39% orang yang mengakses media sosial beralasan untuk mengisi waktu luang, sehingga tanpa disadari mereka akan banyak melakukan scrolling terhadap fitur-fitur yang ditawarkan.

Doomscroling

Scrolling tanpa henti atau yang juga disebut dengan doomscrolling bisa menyebabkan atrofi neuroplastik, yaitu penurunan konektivitas saraf dan kemampuan adaptif otak akibat kurangnya stimulasi bermakna (Turner, 2023).

Scrolling berlebihan membuat individu lebih terpapar pada berita negatif atau konten perbandingan sosial, yang meningkatkan kecemasan dan depresi (Boursier dkk, 2020). Scrolling berlebihan di malam hari dapat menunda waktu tidur dan mengganggu kualitas tidur yang akan berkorelasi dengan stres dan kelelahan emosional (Carter dkk, 2016).

Sementara itu Radesky dkk (2015) juga mengungkapkan bahwa aktivitas scroll yang berulang-ulang menurunkan fokus dan daya ingat jangka pendek, serta membuat individu lebih mudah terdistraksi. Scrolling di media sosial, terutama Instagram atau TikTok dapat meningkatkan perbandingan sosial yang berdampak negatif pada harga diri dan citra tubuh (Fardouly dkk, 2015).

Fenomena Brain Rot

Pada sisi yang lain, scrolling berlebihan jika tidak terkendali dapat mengakibatkan pembusukan otak atau dikenal dengan istilah Brain Rot.

Isitlah Brain Rot mengacu pada kondisi mental di mana seseorang mengalami penurunan motivasi, fokus, dan fungsi berpikir sebagai akibat dari kebiasaan mengonsumsi konten digital dangkal secara berlebihan, seperti scrolling media sosial, menonton secara marathon video pendek, atau bermain game adiktif (Turner, 2023; Small dkk, 2020; Carr, 2011). Hal ini dapat terjadi karena media sosial dirancang untuk memberi dopamine reward cepat (video singkat, scrolling tanpa henti), sehingga melatih otak untuk mencari kepuasan instan, bukan proses berpikir secara mendalam.

Scrolling bersifat pasif, sehingga tidak melibatkan pemrosesan informasi yang dalam (deep processing), yang penting untuk neuroplastisitas dan pertumbuhan kognitif jangka panjang. Selain itu, konten dangkal yang dikonsumsi terus-menerus dapat menghambat koneksi neuron yang kompleks (Turner, 2023)

Apa Yang Bisa Dilakukan?

Berselancar di media sosial memang menjadi candu yang membawa jari jemari asyik menari di atas smartphone hingga lupa waktu. Akan tetapi, seharusnya Generasi Milenial dan Generasi Z yang merupakan konsumen terbanyak dari pengguna internet di Indonesia harusnya segera menimbang dampak buruk yang dapat menyertainya.

Sebelum terlambat, pembusukan otak ini harusnya dapat dicegah melalui berbagai cara, antara lain:

Pertama, mengatur waktu layar yaitu mengatur durasi waktu dan kualitas penggunaan media sosial dan menghapus aplikasi yang tidak berguna bagi kesehatan.

Kedua, dengan cara melatih kembali fokus melalui mengembalikan kebiasaan untuk membaca panjang dan bekerja secara mendalam.

Selanjutnya ketiga  adalah mengkurasi umpan media, yaitu selektif dalam memilih sumber informasi karena akan berguna untuk melindungi ruang mental kita supaya tetap sehat dan positif.

Keempat, meningkatkan aktivitas fisik dan paparan dunia nyata, seperti: berolahraga, jalan-jalan menikmati pemandangan alam, berkebun, mancing, dan lain sebagainya.

Kelima, meditasi dan mindfulness untuk kembali meningkatkan kesadaran. Yang terakhir dengan melakukan puasa digital (digital detox), yaitu mengambil jeda dari media sosial atau internet untuk sementara waktu (Yousef dkk, 2025; Przybylski dkk, 2017; Tang, 2015; Gomez-Pinilla, 2013; Car, 2011; Newport, 2019).

Dari gambaran ini dapat dipahami, bahwa kemajuan AI telah membawa perkembangan besar dalam transformasi fungsi dari platform-platform media sosial.

Satu sisi membawa efek positif, namun disisi lain menyertakan dampak negatif yang dapat mengakibatkan pembusukan otak jika tidak di gunakan dengan tepat.

Sudah saatnya setiap generasi bijak dalam bermedia sosial sehingga dapat menciptakan digital well-being dalam hidupnya.

Selain itu. orangtua juga perlu bijaksana dalam memberikan hak milik atau hak guna kepada anaknya yang lahir sebagai Gen Alpha dan Gen Beta supaya tidak terpapar brain rot lebih dini.

 

Penulis :

Dosen Prodi. Psikologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta