TNI Terkesan Lepas Tangan Soal Oknum Perwira Tembak Mati Prajurit di Waris, Dewan Adat Keerom Bereaksi

IMG 20251004 WA00412
Ketua Dewan Adat Kabupaten Keerom, Laurens Borotian / Foto : Takim

Koreri.com, Keerom – Insiden penembakan oknum Perwira TNI yang menewaskan Praka Petrus Muenda, di Kampung Kalimo, Distrik Waris, Kabupaten Keerom, Papua, pada Minggu (7/9/2025), masih terus memicu kemarahan di tengah masyarakat.

Buntutnya, warga melakukan aksi pemalangan jalan Trans Jayapura – Wamena yang kini memasuki sebulan pasca penembakan 7 September 2025 lalu.

Parahnya lagi, aksi menuntut keadilan itu malah terkesan dicuekin instusi TNI.

Dilain pihak, warga tetap pada pendiriannya menutup akses jalan yang melintas di kampung korban penembakan sebelum ada penyelesaian.

Menyikapi kondisi ini, Ketua Dewan Adat Kabupaten Keerom, Laurens Borotian pun beraksi.

Ia menegaskan bahwa aksi pemalangan jalan yang dilakukan warga merupakan wujud kekecewaan yang mendalam atas peristiwa tersebut.

Ia lantas mengingatkan para pihak dan meminta persoalan ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena kini semakin merugikan masyarakat umum khususnya para sopir yang melintasi jalur trans Jayapura–Wamena.

“Sampai hari ini, masyarakat masih melakukan pemalangan di dua titik jalan di kampung korban,” cetus Laurens Borotian saat memberikan keterangan di Jayapura, Jumat (3/10/2025).

Menurutnya, para sopir angkutan umum maupun kendaraan lintas kabupaten kini menjadi korban imbas dari aksi tersebut. Tidak sedikit dari mereka yang terpaksa membayar biaya sebesar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu untuk bisa melintas.

“Kasihan para sopir ini, mereka hanya mencari nafkah. Tetapi karena ada pemalangan, mereka malah dirugikan,” tegasnya.

Laurens mendesak pihak TNI bersama Pemerintah untuk melakukan langkah-langkah konkret, baik berupa pendekatan persuasif kepada keluarga korban maupun membuka ruang dialog dengan masyarakat adat.

“Persoalan ini jangan dianggap sepele. Perlu ada pertemuan bersama semua pemangku kepentingan, baik aparat keamanan, Pemerintah daerah, tokoh adat, maupun keluarga korban untuk mencari solusi bersama,” desaknya.

Ia menekankan, tuntutan masyarakat adat harus diperhatikan secara serius. Menurutnya, soal tuntutan akan dikabulkan atau tidak, semua itu dapat diputuskan melalui hasil kesepakatan bersama.

“Yang terpenting saat ini adalah adanya perhatian juga pendekatan dari pihak TNI terhadap keluarga korban, sehingga suasana bisa lebih kondusif,” pungkas Laurens.

Sementara itu, kondisi pemalangan jalan yang terus berlangsung menimbulkan kekhawatiran akan terganggunya jalur transportasi utama yang menghubungkan Jayapura dan Wamena.

Dewan Adat berharap agar semua pemangku kepentingan atau pihak terkait segera hadir untuk memediasi, sehingga situasi di Keerom dapat kembali aman dan aktivitas masyarakat bisa berjalan normal.

Sebelumnya, Komandan Tim Satgas Ketapang Swasembada BAIS berinisial Kapten. Inf J dilaporkan menembak mati Praka Petrus Muenda di Kampung Kalimo, Distrik Waris, Kabupaten Keerom, Papua, Minggu (7/9/2025).

Insiden tersebut dilaporkan terjadi sekitar pukul 08.00 WIT saat Praka Petrus Muenda sedang membantu warga setempat dalam pekerjaan pengadukan semen.

Situasi yang awalnya berjalan normal tiba-tiba berubah menjadi tegang pasca kedatangan pelaku yang dipenuhi amarah hingga terlibat percekcokan dengan korban.

Pelaku kemudian mengeluarkan senjata api jenis revolver dan langsung menembak Praka Petrus beberapa kali hingga mengenai kepala Praka Petrus Muenda.

Sang prajurit pun langsung meregang nyawa di tempat kejadian.

TIM