Ini Harapan Ketua Dewan Adat Sentani di Momen KMAN VI 2022

IMG 20220923 WA0020

Koreri.com, Sentani – Kabupaten dan Kota Jayapura akan menjadi lokasi pelaksanaan Kongres Masyarakat Adat Nusantara (KMAN) ke VI pada 24 – 30 Oktober 2022 mendatang.

Sejumlah harapan pun disampaikan berbagai pihak agar momen tersebut memberikan dampak yang maksimal bagi keberlangsungan hidup masyarakat adat.

Salah satunya disampaikan Ketua Dewan Adat Sentani (DAS) Orgenes Kaway. Ia berharap, momen ini bisa merekomendasikan kepada semua pihak untuk memperhatikan hak-hak komunal orang asli Papua.

Menurutnya, KMAN VI merupakan momen yang tepat untuk membahas, bagaimana cara mempertahankan nilai-nilai adat yang telah terkikis secara universal.

Orgenes kemudian mencontohkan soal Burung Cenderawasih.

“Siapa pun dia yang mengenakan Burung Cenderawasih yang menjadi simbol atau makota Kebesaran Ondoafi (raja) dikepalanya, akan dikenakan sangsi adat, dan akan dicabut saat itu juga dari kepalanya. Jadi, simbol kebesaran itu tidak diperbolehkan memakai sembarangan,” terangnya di “Kurare Obhe,” Kampung Bambar, Rabu (14/9/2022).

Menurut Kaway, pihaknya akan tegas bahwa makhota keondoafian tidak bisa dipakai sembarang untuk acara-acara serimonial oleh siapa pun dia. Makhota Cenderawasih adalah lambang kebesaran Ondoafi yang sangat sakral dan tidak bisa digunakan sembarangan.

Orgenes menjelaskan, Cenderawasih yang dipakai di kepala seorang Ondoafi bukan sembarangan pakai. Pemakaian mahkota itu melalui proses yang panjang dan melalui tahapan-tahapan.

“Tidak semua Ondoafi yang mengenakannya, hanya Ondoafi-onfoafi tertentu yang bisa dan layak memakainya. Untuk itu, jika ada yang tidak punya hak memakai mahkota kebesaran Ondoafi itu sebagai pelengkap asesoris adat, kami akan cabut saat itu juga dan menjatuhkan sangsi adat langsung kepada pemakainya,” beber Odofolo Orgenes Kaway.

Kepada para pengrajin dan semua pihak, Ketua Dewan Adat Suku Sentani ini menghimbau agar tidak lagi menggunakan simbol Cendrawasih sebagai perhiasan di kepala, dan simbol Gelang Batu yang digantungkan di noken.
Selain Burung Cenderawasih, Orgenes juga menyoroti Noken yang lagi ramai digunakan saat ini. Ada jenis noken yang tidak bisa digunakan sembarang.

Simbol-simbol yang dipasang pada noken harus diperhatikan. Ada noken yang digantung dengan manik-manik dan gelang batu, tidak bisa dipakai sembarangan oleh sembarang orang.

“Kita bicara tentang kebangkitan adat, maka harus benar-benar merubah semua kebiasaan buruk yang menghancurkan identitas keaslian kita,” tegas Ketua Dewan Adat Suku Sentani.

Dijelaskan juga, simbol-simbol adat ini harus menjadi perhatian semua pihak.

“Ini jati diri kami dan harga diri kami. Kalau dipakai sembarang saja, sama saja dengan menginjak-injak jati diri dan harga diri kami,” tegasnya.

RED