as
as

Bom Katedral, Murad, Rp100 Juta, dan Edelina yang Tidak Viral

edelina3

Catatan Rudi Fofid – Jurnalis di Ambon

Aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar sudah enam bulan berlalu. Orang sudah mulai lupa pada tragedi tersebut. Tiba-tiba beredar sebuah video pendek melalui media sosial. Isinya, dua mahasiswa korban bom meminta bantuan pendanaan untuk pengobatan lanjutan.

as

Video itu menjadi viral. Maka turunlah bantuan yang diharapkan. Salah satunya datang dari Gubernur Maluku Murad Ismail. Ia merogoh kocek pribadi sebesar Rp100 juta. Semua pihak lega tetapi tiba-tiba muncul perdebatan di media sosial. Salahkah Rp100 juta dari pribadi Murad Ismail?

Tidak ada yang salah dari Rp100 juta. Akan tetapi kekurangan data dan informasi, minimnya verifikasi, bahkan kurangnya perhatian telah menyebabkan rentetan salah paham. Buntutnya, baku malawang. Berikut ini situasi “serba salah” di balik permohonan bantuan kedua mahasiswa.

MISKIN KOMUNIKASI?

Peristiwa bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar terjadi hari Minggu, 21 Maret 2021. Gubernur Murad mengaku baru tahu ada dua mahasiswa asal Maluku menjadi korban, saat sidang paripurna di DPRD Maluku, Jumat, 1 November 2021. Saat itu, anggota Fraksi Nasdem Justina Renyaan melontarkan permohonan agar kedua korban menjadi perhatian pemerintah.

“Demi Allah saya baru tahu kalau ada anak-anak kita yang jadi korban, hari ini juga saya siapkan dana pribadi Rp100 juta untuk disumbangkan untuk mereka berdua,” kata Murad kepada wartawan, Sabtu, 2 November.

Bila menghitung waktu peristiwa bom dan informasi yang didapat Murad, maka butuh delapan bulan barulah Murad mendapat mengetahui ada dua mahasiswa asal Maluku menjadi korban. Salah di mana? Ya salah zaman. Ini era ultra informasi. Informasi mengalir ke dalam genggaman setiap orang, termasuk staf gubernur tetapi tidak ada yang memberi informasi kepada gubernur.

“Lapor, Pak Gubernur. Dalam peristiwa bom di Katedral Makassar, ada tiga gadis Maluku menjadi korban!” Jika tidak ada staf gubernur melapor demikian, maka inilah tragedi informasi dan komunikasi. Pesawat telepon cerdas dalam genggaman tidak digunakan secara cerdas untuk membangun komunikasi dengan gubernur tentang satu substansi yang utuh.

Jika tidak ada  upaya memperbaiki aliran informasi dan komunikas di tubuh birokrasi, maka dari periode ke periode kita hanya mempertebal   data maupun asumsi bahwa kita memang miskin.  Miskin komunikasi.

AKURASI JURNALISTIK

Pada 1 April 2021, Kadis Kominfo Maluku Tenggara Antonius Raharusun membuat siaran pers dari Makassar. Isinya antara lain tentang identitas ketiga korban asal Maluku. Mereka adalah Valeriana Silitubun alamat Rumaat, Maluku Tenggara; Edelina Silitubun, penduduk Kota Tual; dan Karina Tadubun, penduduk Maluku Utara.

“Mereka semua Orang Kei. Kita Wajib memberi perhatian,” kata Bupati Maluku Tenggara Taher Hanubun yang menjenguk ketiga korban di RSU Bhayangkara Makassar.

Wartawan Intimur.com di Tual Laldut Ng dalam berita yang dirilis 30 Maret 2021 merinci identitas ketiga korban. Valerina Silitubun alias Sendy adalah puteri pasangan Thadeus Silitubun dan Maria Setitit. Edelina Silitubun adalah puteri pasangan Ambrosius Silitubun (almarhum) dan Arnolda Yampormase. Satu korban lagi yakni Karina Dimayu adalah puteri pasangan Yunius Dimayu dan Ancelina Tadubun.

Nah, dari ketiga perempuan berdarah Kei ini, hanya Valerina dan Karina yang menuntut ilmu di Makassar. Sedangkan Edelina Silitubun kembali ke Kei, setelah kondisinya memungkinkan. Edelina memang bukan mahasiswa lagi. Dia sudah meraih gelar Sarjana Sains (S.Si) tahun 2015 dari almamaternya Fakultas MIPA Jurusan Matematika. Kedatangannya ke Makassar untuk kepentingan mengantar ibu kandungnya berobat sampai terjadi musibah di dekat pintu Gereja Katedral.

Setelah Valerina dan Karina membuat video permohonan bantuan yang viral, lantas Gubernur Murad turun tangan. Hampir semua media tidak menulis penerima bantuan Murad adalah Valerina dan Karina, melainkan Valerina dan Edelina. Apalagi, Edelina disebut sebagai mahasiswa. Ini fatal sebab secara jurnalistik, identifikasi ini tidak cermat, tidak akurat, tidak benar. Akibat tidak verifikasi identitas korban secara sempurna, muncul dampak berikutnya.

CETUSAN KETUA RT

Eky Labetubun adalah seorang Ketua RT di Kelurahan Ketsoblak, Kota Tual. Eky membaca media-media yang mencantumkan nama warganya Edelina Silitubun sebagai satu dari dua penerima bantuan Rp100 juta dari Murad Ismail. Dia mengkonfirmasi ke Edelina. Akan tetapi Edelina mengaku tidak terima bantuan gubernur. Sebab itu Eky menulis di akun facebook.

“Nama jelas tertulis kenyataanya lain Rp 100 pun tak di terima,” demikian seperti tertulis di akun Eky Labetubun tanggal 11 November 2021 pukul 22.23.

Eky menulis demikian, sambil memuat tangkapan layar sebuah berita yang menyebut nama Edelina Silitubun sebagai penerima bantuan Murad. Sebelumnya, Eky menulis juga pada pukul 22.01 hari yang sama. “Yang bersangkutan hilang jalan”. Status ini disertai tangkapan layar berita yang memuat foto Murad Ismail dan Pastor Yono Temorubun. Publik bisa paham bahwa bantuan Rp100 juta sudah diserahkan Murad kepada Pastor Yono.

Di bawah status ini, Eky memberi komentar menanggapi respon beberapa orang. “orang lain pung nama tapi yg lain terima”; “Itu yg paling mengherankan kk”; “100 rupiah pun seng di terima”.

Lantaran fotonya ada dalam tangkapan layar yang dibagikan Eky, Pastor Yono Temorubun dengan akun Haryono Romet-istia akhirnya muncul di kolom komentar. Ia mengirim foto resi bukti transfer melalui Bank BRI tertanggal 8 November 2021 ke nomor rekening atas nama Valeriana Silitubun sebesar Rp100 juta, penyetor adalah Keuskupan Amboina dengan keterangan sumber dana sumbangan gubernur untuk korban bom Makassar.

Eky tetap ngotot membela kepentingan Edelina karena nama Edelina ada di media. Sebab itu, Pastor Yono kembali membuat klarifikasi.

“100juta su transfer ke yg berhak utk menerima. Yang pu hak utk terima itu dua mahasiswa yg viral di medsos…klu an: edeline Silitubun itu pu nama muncul itu kesalahan info dr humas….sebelum posting sesuatu kroscek bae2 dlu…,” tulis Pastor Yono lagi.

Sampai di sini, Eky maklum, bahwa ada yang salah dalam penulisan nama. Sebab itu ia merespon tentang penulisan nama Edelina dalam berita.

“humas harusnya mengklarifikasi sapa2 penerima bantuan 100 juta dimaksut,” tulis Eky.

Meskipun Pastor Yono menyebutkan, sudah usul juga klarifikasi melalui anggota DPRD Maluku Justina Renyaan, tetapi hingga kini belum klarifikasi. Jadi, biang perdebatan ini antara lain karena media-media menulis Edelina sebagai mahasiswa, dan Edelina bersama Valeriana sebagai penerima bantuan. Sampai tulisan ini disiarkan, media-media masih tetap dengan informasi tersebut, tanpa klarifikasi.

KONDISI EDELINA SEKARANG

Bagaimana sebenarnya Edelina sekarang? Edelina berada di Un, Tual. Dia tinggal dengan ibunya, seorang pensiunan Dinas Pertanian. Ayahnya sudah meninggal dunia, dan Edelina bekerja sebagai tenaga honorer di Dinas Pertanian Kota Tual.

Edelina mengaku, dia ingin ikut tes CPNS tahun ini, tetapi formasi untuk keahliannya tidak ada. Jadi, dia bertahan saja sebagai pegawai honor.

Tentang ramainya berita bahwa dirinya termasuk salah satu penerima bantuan gubernur, Edelina tidak mau mempersoalkannya, sebab bantuan itu ditujukan kepada pembuat video yakni dua saudara di Makassar.

Apakah Edelina tidak tergoda membuat video serupa supaya viral dan mendapat bantuan gubernur? Edelina tidak membuat video. Dia hanya berharap, sebagai korban bom Katedral, kiranya gubernur bisa memperhatikan masa depannya. Tentang bantuan dana, Edelina merasa bersyukur jika ada bantuan uang tunai dari gubernur. Alasannya, dia juga masih dalam masa pengobatan.

Dihubungi via telepon dari Ambon, siang ini, Edelina di Tual mengaku setelah kembali dari Makassar ke Tual, dia sudah pernah sekali kembali ke Makassar untuk pengobatan lanjutan. Karena dirinya mendapat perlindungan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), maka dia kini dirujuk berobat di RS Siloam Makassar.

“Tentu saya masih merasa sakit, terutama karena gendang telinga saya pecah saat hari ledakan bom. Saya juga merasa sakit di tangan. Harus pengobatan lanjutan untuk kulit lagi. Barusan ke Makassar bulan Oktober, dan dokter minta kembali lagi bulan Januari,” jelas Edelina.

Andai Edelina membuat video lalu viral dan sampai ke Gubernur Murad Ismail, apakah gubernur akan mengaku kaget bahwa ternyata ada tiga “anak kita” menjadi korban, dan bukan dua?

Semoga ada seberkas cahaya untuk Edelina yang tidak viral.

Ambon, 26 November 2021

as