Koreri.com, Jayapura – Lomba Indonesian Model Award 2022 yang diselenggarakan selama tiga hari, 24-27 Maret 2022 di Hotel Orchad Industry, Jakarta telah berakhir beberapa waktu lalu.
Mirisnya, pasca event itu digelar menyisahkan kekecewaan mendalam yang dirasakan Jafet Beanal yang juga adalah Ketua FPHS Tsingwarop.
Pasalnya, sang buah hatinya Andrianus Beanal batal berangkat mewakili Indonesia di ajang Prince and Princess International Bangkok Agustus 2022 ini.
Tidak hanya Andrianus, pada ajang ini di kategori remaja/dewasa, Mimika juga diwakili oleh Anastasia Yosinta Eanem. Anastasia bahkan terpilih sebagai juara favorit, namun sayangnya ia tidak diberangkatkan ke Bangkok.
Atas fakta ini, Sekretaris FPHS Tsingwarop Johan Songgonau langsung melontarkan kritik pedas.
“Kita forum hadir untuk masyarakat dan anak-anak generasi penerus yang kemudian jadi kebanggaan orang tua. Kita rasa bangga karena kemarin PT. Freeport Indonesia dan YPMAK mensponsor anak kami untuk ikut kontes di Jakarta dan mendapat juara harapan I dan mendapatkan tiket berangkat ke Bangkok Thailand atas nama Adrianus Beanal dan Anastasia Yanem,” ungkapnya.
Ironisnya, kedua finalis ini malah gagal berangkat ke Bangkok Thailand untuk tampil di kompetisi tingkat internasional tersebut karena alasannya terkendala biaya.
“Kami sebagai orang tua dan pimpinan FPHS Tsingwarop merasa sangat kecewa. Kenapa sampai hasil kekayaan kita selama 50 tahun itu diambil tapi anak-anak kita tidak diberikan kesempatan hanya karena alasan uang. Memangnya PT. Freeport sudah tutupkah? Kalau sudah tutup kami malu hati, sementara Freeport masih beroperasi,” herannya.
Sekarang, desak Johan, PT. Freeport Indonesia harus berikan biaya kepada YPMAK untuk mensponsori anak-anak negeri pemilik hak ulayat yang memiliki talenta khusus.
Adrianus dan Anastasya ini memiliki talenta khusus dan harusnya diberikan kesempatan untuk tampil di ajang internasional itu yang disponsori PT. Freeport Indonesia dan YPMAK serta Pemerintah.
“Tapi ini kenapa hanya biaya 150 – 200 ratus juta, Freeport tidak bisa bantu sehingga kedua anak kami tidak bisa berangkat? Anak-anak kami punya harapan untuk berangkat ikut kontes internasional tapi harus terhenti. Kita lihat kembali visi misi YPMAK sendiri itu mencerdaskan anak bangsa dari tiga kampung dalam forum FPHS ini. Adrianus ini anak kampung Tsinga tapi kenapa Freeport tidak mampu mensponsori itu sampaj ajang internasional kalau memang YPMAK sulit,” kecamnya.

“Freeport bisa sponsori pendidikan untuk anak cerdas tapi saya heran mereka tidak mau sponsor anak kita tampil di ajang internasional. Mereka bilang ini hanya model fashion show? Model ini hanya orang tertentu yang memiliki kemampuan untuk tampil di kompetisi nasional dan internasional mewakili daerahnya,” herannya.
Johan menegaskan sekarang dunia luar tidak melihat orang dari otak kiri saja tapi diperlukan otak kiri dan kanan untuk menciptakan ide kreatif sehingga siapapun dia harus disponsori dan didukung.
“Jika PT.Freeport Indonesia dan YPMAK tidak bersedia mensponsori makaharusnya bersurat jauh hari kalau tidak ada anggaran supaya kami cari jalan lain. Kita bisa ke Pemprov Papua yang bisa sponsor anak-anak Papua dengan talenta khusus agar bisa tampil diajang internasional,” tegasnya.
“PT. Freeport bisa sponsor yang lain baru kenapa anak pemilik hak ulayat yang negerinya dihancurkan Freeport tidak disponsori? Boleh saja melihat yang lain tapi tanggung jawab dan fokus bagi anak-anak negeri harus direalisasikan kebutuhan primer mereka,” kembali Johan mengingatkan.
Saat mengikut kontes di Jakarta, keduanya disponsori oleh PT. Freeport Indonesia melalui YPMAK. Namun setelah kembali malah keduanya tidak bisa berangkat? Apa alasannya sehingga mereka tidak bisa diberangkatakan ke ajang internasional itu? Padahal ini kebanggan masyarakat Mimika, YPMAK dan Freeport sendiri.
“Ini yang buat kami orang merasa kecewa melihat hal ini,” bebernya.
Yang buat Johan semakin tak habis pikir, Freeport melalui YPMAK membiayai 3.000 anak asli pemilik hak ulayat dalam bentuk beasiswa dan salah satunya adalah Adrianus Beanal karena ini sudah menjadi fokus perhatian perusahaan tambang tersebut dan wajib dibiayai.
“Jika tidak bisa biayai maka Freeport harus terbuka agar kami orang tua cari jalan lain,” cetusnya.

“Anak kami sudah disponsori ikut kontes modeling di Jakarta dan mendapat juara harapan I termasuk dapat tiket ke bangkok thailand ikut ajang model internasional. Kemudian dari asrama juga memberitahukan orang tua urus paspor. Tapi di waktu akhir, anak kami Adrianus tidak jadi berangkat ikut ajang model tingkat internasional. Ini yang buat kami orang tua kecewa ! Selama ini saya mendukung Freeport tapi Freeport dan YPMAK buat begini, maka saya lebih marah karena kalian telah mematikan masa depan anak-anak kami,” kecamnya.
Yafet kemudian mempertanyakan Freeport dan YPMAK hadir untuk siapa?
“Akibat kalian buat seperti begini maka orang Amungme tidak ada yang berhasil. Kedepan itu tidak boleh terulang lagi kepada orang lain, cukup anak kami saja. Ini satu pelajaran untuk kita,” tegasnya mengingatkan.
Yafet menambahkan, jadwal keberangkatan ke Bangkok Thailand sebenarnya pada 4 Juni 2022 lalu.
“Jadi, alasan dari PT. Freeport Indonesia bahwa terlambat melapor sehingga tidak bisa berangkat karena dana perjalanan ke Thailand Bangkok sebesar Rp. 150 juta sampai Rp. 200 juta tidak ada sehingga tidak jadi berangkat,” bebernya.
Sebelumnya, pemuda Mimika atas nama Andrianus Beanal terpilih sebagai salah satu dari tiga peserta terbaik pada Lomba Indonesian Model Award 2022 yang diselenggarakan selama tiga hari, 24 – 27 Maret 2022, di Hotel Orchad Industry, Jakarta.
Atas prestasi itu, ia kemudian dipilih mewakili Indonesia pada ajang Prince and Princess International ASEAN di Bangkok, Thailand pada Agustus 2022 nanti.
Ironisnya, anak asli Tsingwarop ini gagal berangkat karena terkendala biaya.
SEO
























