Protes Tumpukan Sampah di “TPA Mini” Sungai Warmun, Warga Minta Penjabat Turun Tangan

Sampah Sungai Warmun 1

Koreri.com, Sorong – Keberadaan tumpukan sampah di sepanjang jalan Sungai Warmun Km 12, RT01/RW02, Kelurahan Klasaman, Distrik Sorong Timur, Kota Sorong, Provinsi Papua Barat terus mendapat protes warga setempat setahun belakangan ini.

Tumpukan sampah sepanjang lebih kurang 300 meter dan memenuhi setengah badan jalan tepat di depan lokasi terminal baru itu kini mirip dengan tempat pembuangan akhir (TPA) ukuran mini.

Termasuk, tumpukan sampah lainnya yang berada tepat di jalan akses ke lokasi Taman Wisata Mangrove Klawalu yang juga masih berdekatan dengan TPA mini.

Terpantau, rata-rata sampah milik warga masyarakat yang bermukim di wilayah itu maupun kawasan tetangga dibuang ke lokasi tersebut

Bahkan, saban hari pada setiap sore hingga malam terpantau mobil angkut jenis pick-up mendatangi lokasi yang sama untuk membuang sampah.

Kini, kawasan yang sebelumnya bersih, berembun di waktu pagi dan menjadi lokasi ideal bagi warga setempat yang biasanya hobi berolah pagi maupun sore dipenuhi dengan lalat hingga menimbulkan bau tak sedap dan menyengat.

Belum lagi saat turun hujan, kondisi di sepanjang jalan tersebut tertutup sampah.

Sampah Sungai Warmun 2Dan parahnya lagi, Wali Kota sebelumnya Lamberth Jitmau malah tak mempedulikan itu meski warga sudah berkali-kaki mengadukan persoalan sampah dimaksud.

Tak tahan lagi dengan hal itu, sejumlah warga menyampaikan protes keras atas keberadaan TPA “siluman” itu.

Mereka mendesak Penjabat Wali Kota Sorong George Yarangga turun tangan.

“Kami minta Bapak Penjabat segera  turun tangan selesaikan persoalan sampah ini. Karena barang ini (sampah, red) bikin susah kitong disini,” desak ibu Puput, kepada Koreri.com saat ditemui Selasa (13/9/2022).

Permasalahan ini, menurutnya, penting untuk diselesaikan karena sangat berdampak bagi kehidupan keluarganya maupun mereka yang tinggal berdekatan dengan lokasi sampah tersebut.

“Semenjak ada TPA mini ini, wilayah kami ini penuh dengan lalat dan saban hari kami harus menghirup bau busuk sampah yang menyengat,” kesalnya.

Salah satu hal yang juga menjadi sorotan Puput, terkait keberadaan taman wisata mangrove Klawalu yang tepat berada dekat dengan lokasi TPA mini itu.

Sampah Sungai Warmun 3“Negara kasih keluar uang belasan miliar tapi sampah bikin rusak semuanya. Wali Kota tutup mata, sementara orang jadi malas datang kesitu. Saya yang dekat saja malas datang. Mana ada menariknya?” sesalnya.

Olehnya itu, Puput meminta ketegasan Penjabat Wali Kota untuk serius menangani persoalan ini.

“Jadi, sekali lagi saya minta bapak Penjabat turun tangan selesaikan masalah sampah yang sudah muncul sejak 2021 lalu. Karena itu juga akan jadi salah satu bukti bahwa kinerja bapak sangat baik. Itu saja,” pungkasnya.

Protes senada juga disampaikan warga lainnya yang enggan disebutkan namanya.

“Saya dan keluarga sangat terganggu sekali dengan adanya TPA ini. Harus segera diselesaikan. Sekali lagi, kami sangat terganggu dengan sampah-sampah ini,” ungkapnya dengan nada kesal.

Sumber pun menyoroti kinerja Pemerintah Kota Sorong di bawah kepemimpinan Lamberth Jitmau yang dinilainya sangat buruk khususnya dalam penanganan sampah termasuk kebersihan lingkungan.

Sampah Sungai Warmun 4“Makanya saya tidak kaget, dua tahun berturut-turut Kota Sorong berpredikat Kota Paling Kotor di Indonesia. Semua itu karena pemimpin yang tidak becus,” kecamnya.

Sumber pun menaruh harapan kepada Penjabat Wali Kota Sorong George Yarangga yang dipercaya memimpin daerah ini.

Mengingat, terpilihnya Yarangga dinilainya sebagai jawaban atas berbagai persoalan yang menumpuk di kota ini, salah satunya masalah sampah.

“Makanya saya percaya beliau punya kapasitas. Dan beliau pasti mampu menuntaskan sampah-sampah ini sebagaimana banjir di Kota Sorong. Sebab kalau tidak, maka level beliau juga bisa saya nilai tak lebih dari mantan. Tak ada bedanya,” klaimnya.

Pantauan lapangan, hingga berita ini dipublish, Kamis (15/9/2022) sampah masih menumpuk bahkan dikuatirkan akan terus bertambah. Sementara proses angkut  oleh truk sampah ke TPA Bambu Kuning menurut pengakuan warga setempat sudah tak lagi dilakukan sejak setahun belakangan ini.

RED