Masih ingat kan drama Setya Novanto yang latar ceritanya adalah tabrak tiang listrik dan tali infus bodong?
Untuk para pegiat anti korupsi, tentu drama itu adalah drama paling menguras emosi karena publik dipertontonkan dengan drama seorang pejabat publik, pada kasus korupsi Papa Minta Saham.
Sejenak, mari kita tinggalkan drama Setya Novanto itu…
Kita beralih ke kasus Gubernur Papua Lukas Enembe yang telah ditetapkan sebagai tersangka gratifikasi beberapa waktu lalu.
Mirip dengan kasus Setya Novanto, bahwa analoginya ada kemungkinan bergerak ke sana atau mungkin akan lebih emosional lagi.
Ada banyak pertanyaan masyarakat sebenarnya terkait kenapa Lukas enembe tidak mau memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)?
Katanya Ia sangat kooperatif tapi kenyataannya, seolah menolak dengan berbagai macam asumsi dan argumentasi yang terkesan dibuat-buat untuk menggiring empati publik.
Apakah karena persoalan kondisi kesehatan seperti yang dijelaskan oleh Juru bicara dan Pengacaranya?
Jika terkait kondisi kesehatan yang sangat serius, maka sejak kapan hal itu terjadi?
Bocor jantung, kaki bengkak, diabetes, gagal ginjal semua itu sejak kapan terjadinya?
Hati-hati untuk berkata-kata atau menyampaikan pernyataan-pernyataan terkait kesehatan karena bisa saja menjadi kutuk bagi beliau!
Jujur saja, sangat bertolak belakang dengan video-video yang bereder jika melihat aksinya dibeberapa negara tetangga.
Bahkan pada salah satu video, Ia duduk di kursi roda sambil asik bermain judi di sebuah kasino dan ketika dipanggil KPK, Ia tidak mampu untuk memenuhinya?
Apakah semua komplikasi penyakit ini di sebabkan oleh status tersangka yang disematkan kepadanya?
Well, hanya jubir dan pengacara yang bisa menjawab dan cuma publik yang bisa menilai kemana harus bersimpati.
Terkait sumber kekayaan Lukas Enembe dalam sebuah wawancara yang saya ikuti, pengacara membeberkan soal tambang emas miliknya yang langsung secara lugas dibantah oleh masyarakat adat Tolikara yang menjadi lokasi tambang yang diklaim pengacara tersebut.
Lantas kemana arah cerita yang harus publik percayai?
Jadi untuk semua drama yang terjadi, saya ingin mengajak Tete, Nene, Pace, Mace, Oom, Tante, Kaks dan Diks semua untuk bisa mendukung aksi KPK, sehingga kegiatan bersih-bersih Taah Papua bisa berjalan lancar tanpa kendala.
Kita semua ingin Papua bersih dari korupsi sehingga masyarakat bisa sejahtera.
Ayo tong sama-sama dukung kinerja KPK di Papua agar torang semua bisa rasa binatang ‘sejahtera’ yang kita cita-citakan itu.
Semoga sejahtera yang selama ini dicuri dari kitorang, bisa segera terwujud untuk Tanah Papua yang dong bilang paling kaya di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.
“Untuk kebenaran, jang kas loos, epen kah!”






























