Opini  

Mudik Lebaran: “Perjalanan Rindu, Amanah Menjaga Bumi”

Oleh : Arif Sumantri *)

Ilustrasi Mudik 2026 Opini
Ilustrasi Mudik Lebaran / Foto Istimewa

Koreri.com, Opini – Setiap menjelang Idul Fitri, Indonesia seakan berubah menjadi satu tubuh besar yang bergerak pulang. Jalan-jalan raya dipenuhi kendaraan yang mengalir tanpa henti, lampu-lampu mobil membentuk garis cahaya yang memanjang di malam hari, sementara dari menara-menara masjid gema takbir perlahan memenuhi langit. Dalam suasana itu, perjalanan bukan lagi sekadar perpindahan ruang, melainkan perjalanan hati.

Mudik adalah bahasa kerinduan yang paling jujur. Ia adalah kisah tentang anak yang ingin memeluk ibunya, tentang ayah yang menunggu di beranda rumah, tentang kampung halaman yang selalu menyimpan aroma tanah basah dan kenangan masa kecil. Dalam setiap kendaraan yang melaju menuju desa-desa, ada harapan yang ikut dibawa pulang: harapan untuk saling memaafkan, mempererat silaturahmi, dan kembali kepada fitrah.

Tidak banyak bangsa di dunia yang memiliki tradisi mobilitas sosial sebesar ini. Survei nasional Kementerian Perhubungan menunjukkan bahwa pada mudik Lebaran 2024 jumlah pergerakan masyarakat mencapai sekitar 193,6 juta orang, atau lebih dari 70 persen populasi Indonesia. Pada tahun 2025 angka mobilitas berada di atas 190 juta perjalanan, menjadikan mudik sebagai salah satu fenomena mobilitas manusia terbesar di dunia yang terjadi dalam waktu singkat.

Dalam hitungan hari, jalan raya berubah menjadi ruang perjumpaan raksasa. Rest area menjelma seperti kota kecil sementara. Terminal, stasiun, pelabuhan, dan bandara menjadi simpul pertemuan manusia dari berbagai penjuru negeri. Di ruang-ruang itu, ekonomi rakyat bergerak, interaksi sosial menghangat, dan kehidupan berjalan dalam ritme yang sangat intens. Namun di balik keindahan silaturahmi tersebut, arus mudik juga menghadirkan tantangan besar bagi kesehatan lingkungan.

Perjalanan jutaan manusia dalam waktu yang hampir bersamaan menciptakan tekanan besar terhadap sistem lingkungan dan pelayanan publik. Jalan raya dipenuhi kendaraan, fasilitas umum bekerja melampaui kapasitasnya, dan ruang-ruang istirahat berubah menjadi pusat aktivitas yang sangat padat.

Sejarah mudik Indonesia bahkan mencatat beberapa peristiwa kemacetan ekstrem yang menjadi pelajaran penting. Pada tahun 2016, kemacetan panjang di Gerbang Tol Brebes Timur (Brexit) berlangsung lebih dari 20 kilometer dan menyebabkan ribuan kendaraan terjebak selama berjam-jam. Dalam peristiwa tersebut dilaporkan belasan pemudik meninggal dunia, sebagian akibat kelelahan dan gangguan kesehatan selama terjebak di tengah kemacetan. Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa mudik bukan hanya fenomena sosial dan budaya, tetapi juga peristiwa besar yang membutuhkan manajemen kesehatan dan pengelolaan sanitasi lingkungan yang serius.

Ketika kendaraan berhenti berjam-jam di tengah kemacetan, kualitas udara di sekitar jalan raya dapat menurun drastis akibat emisi gas buang seperti karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan partikel halus (PM2.5). Paparan polutan ini dapat memicu gangguan pernapasan, sakit kepala, hingga memperburuk kondisi kesehatan bagi lansia dan penderita penyakit paru. Di dalam kendaraan yang tertutup, suhu udara dapat meningkat dan mempercepat kelelahan fisik. Pada kondisi ekstrem, situasi ini dapat berkembang menjadi gangguan kesehatan serius bagi pemudik.

Di sepanjang jalur mudik, rest area menjadi oase bagi para pemudik yang membutuhkan istirahat sejenak. Namun dalam waktu yang sama, tempat-tempat ini juga menghadapi lonjakan aktivitas yang luar biasa. Ribuan orang singgah untuk makan, beristirahat, dan melanjutkan perjalanan. Aktivitas ini menghasilkan peningkatan volume sampah yang sangat besar, terutama dari kemasan makanan dan minuman sekali pakai.

Data nasional menunjukkan bahwa Indonesia menghasilkan sekitar 68–70 juta ton sampah setiap tahun, dan hampir 18 persen di antaranya merupakan sampah plastik. Pada masa mudik, produksi sampah di rest area dapat meningkat beberapa kali lipat dibandingkan hari biasa. Jika tidak dikelola dengan baik, timbunan sampah tersebut dapat menjadi sumber pencemaran lingkungan dan tempat berkembangnya mikroorganisme patogen serta vektor penyakit seperti lalat dan tikus. Namun di sisi lain, jika dikelola secara inovatif, sampah tersebut juga dapat menjadi sumber daya ekonomi melalui konsep ekonomi sirkular, seperti pemilahan plastik untuk daur ulang atau pengolahan limbah organik menjadi kompos.

Dalam perjalanan panjang, fasilitas sanitasi menjadi kebutuhan yang sangat mendasar. Toilet umum, tempat wudhu, dan fasilitas air bersih di rest area serta terminal harus mampu melayani ribuan orang dalam waktu yang hampir bersamaan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa sanitasi yang buruk masih menjadi salah satu penyebab utama penyebaran penyakit diare di dunia. Di Indonesia, penyakit diare masih menjadi salah satu masalah kesehatan pada masyarakat yang signifikan.

Oleh karena itu, kualitas sanitasi selama musim mudik bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi juga bagian dari perlindungan kesehatan di masyarakat. Toilet yang bersih, ketersediaan air bersih yang memadai, serta fasilitas cuci tangan yang baik adalah bentuk pelayanan publik yang menghormati martabat manusia yang sedang menempuh perjalanan panjang.

Di sepanjang jalur mudik, ribuan pedagang makanan menyediakan berbagai hidangan bagi para pemudik. Aktivitas ini menjadi bagian penting dari ekonomi rakyat yang hidup selama musim Lebaran. Namun dalam perspektif kesehatan lingkungan, keamanan pangan menjadi faktor yang tidak boleh diabaikan. Makanan yang tidak diolah secara higienis dapat terkontaminasi mikroorganisme patogen seperti Salmonella, E. coli, dan Staphylococcus aureus. Kontaminasi ini dapat menyebabkan keracunan makanan yang memicu diare, muntah, dan gangguan kesehatan lainnya. Oleh karena itu, penerapan higiene dan sanitasi makanan menjadi kunci penting dalam melindungi kesehatan para pemudik.

Kepadatan aktivitas manusia selama arus mudik juga meningkatkan potensi penyakit berbasis lingkungan, seperti diare, infeksi saluran pernapasan akut, penyakit kulit, hingga penyakit yang ditularkan oleh vektor. Lingkungan yang kurang bersih, sanitasi yang tidak memadai, serta kualitas udara yang menurun dapat memperbesar risiko tersebut. Karena itu, penyelenggaraan kesehatan lingkungan selama musim mudik memerlukan koordinasi lintas sektor antara pemerintah, pengelola transportasi, tenaga kesehatan, serta masyarakat.

Di balik seluruh dinamika tersebut, mudik sebenarnya juga menghadirkan kesempatan besar untuk menumbuhkan kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga lingkungan. Setiap pemudik memiliki peran sederhana namun bermakna: membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan fasilitas umum, menggunakan air secara bijak, serta memilih makanan yang aman.

Ketika jutaan orang melakukan tindakan kecil yang sama, dampaknya dapat menjadi sangat besar bagi kesehatan lingkungan. Menjaga kebersihan bukan hanya tindakan sosial, tetapi juga bagian dari iman. Bumi dipandang sebagai amanah yang dipercayakan kepada manusia untuk dijaga dan dirawat.

Pada akhirnya, mudik Lebaran bukan hanya perjalanan menuju kampung halaman. Ia adalah perjalanan menuju kesadaran. Ketika gema takbir Idul Fitri menggema di langit Syawal dan para pemudik akhirnya tiba di rumah yang dirindukan, semoga perjalanan panjang itu tidak hanya menghadirkan kebahagiaan bagi keluarga. Semoga perjalanan itu juga menumbuhkan kesadaran yang lebih dalam: bahwa bumi ini adalah rumah bersama yang harus dijaga.

Bahwa setiap sampah yang kita buang, setiap udara yang kita hirup, setiap air yang kita gunakan adalah bagian dari kehidupan yang saling terhubung. Dan jika jutaan manusia yang pulang pada hari kemenangan itu membawa pulang satu kesadaran baru bahwa menjaga kebersihan, merawat lingkungan, dan melindungi kesehatan bersama adalah bagian dari ibadah maka mudik bukan hanya perjalanan rindu. Ia adalah perjalanan peradaban.

 

*) Ketua Umum PP HAKLI (himpunan ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia)/Guru Besar Kesehatan Lingkungan UIN Jakarta//Ketua Komite Ahli PMKL (penanganan masalah Kesehatan lingkungan) Kementerian Kesehatan