Sikapi Insiden Kekerasan di SMAN TKN Manokwari, Ini Tanggapan Resmi F-Golkar DPRP PB

Amin Ngabalin PERDASI Tambang Rakyat
Ketua Fraksi Golkar DPRP Papua Barat, Amin Ngabalin,S.Pi / Foto : KENN

Koreri.com, Manokwari – Fraksi Golkar DPRP Papua Barat menyampaikan tanggapan resmi terkait insiden kekerasan yang terjadi di SMA Taruna Kasuari Nusantara Manokwari, Rabu (22/4/2026) malam.

Ketua F-Golkar DPRP Papua Barat Amin Ngabalin, S.Pi menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa yang terjadi di lingkungan sekolah dimaksud.

“Kami menegaskan bahwa keselamatan, perlindungan dan pembinaan peserta didik merupakan prioritas utama dalam sistem Pendidikan,” tegasnya dalam pernyataan tertulisnya yang diterima Koreri.com, Sabtu (25/4/2026).

Menurut Ngabalin, peristiwa ini terjadi dalam lingkungan dan wilayah sekolah, sehingga secara prinsip menjadi tanggung jawab penuh pihak sekolah untuk melakukan penanganan secara komprehensif, baik dari aspek pembinaan, pengawasan, maupun penegakan disiplin internal.

“Sekolah sebagai lembaga pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter, etika, dan nilai-nilai kemanusiaan,” tegasnya.

Berdasarkan informasi awal, kejadian ini berawal dari dinamika relasi antara senior dan junior yang dipicu oleh kesalahpahaman dan ketersinggungan, yang kemudian berkembang menjadi insiden perkelahian antar siswa.

Dalam konteks tersebut, peristiwa ini lebih tepat dipandang sebagai konflik internal antar peserta didik yang bersifat timbal balik, bukan sebagai tindakan satu arah.

Oleh karena itu, pendekatan penyelesaian yang mengedepankan pembinaan, pemulihan (restoratif) serta penguatan nilai-nilai moral dan kedisiplinan harus menjadi prioritas utama.

F-Golkar DPRP Papua Barat memandang bahwa persoalan ini seharusnya diselesaikan melalui pendekatan edukatif dan etika moral, dengan melibatkan  pihak sekolah sebagai penanggung jawab utama, orang tua/wali murid sebagai pilar pembinaan keluarga serta dukungan Pemda melalui dinas terkait.

Selain itu, F-Golkar juga menyampaikan langkah-langkah yang perlu segera dilakukan antara lain :

1. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan dan pengawasan di sekolah;

2. Penguatan mekanisme pencegahan kekerasan dan relasi senior-junior yang sehat;

3. Pendampingan psikologis bagi siswa yang terdampak;

4. Penerapan disiplin yang mendidik, adil dan proporsional;

5. Membangun komunikasi terbuka antara sekolah dan orang tua.

“Kami juga menghargai proses yang sedang berjalan, termasuk langkah-langkah klarifikasi dan pendalaman fakta oleh pihak terkait, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta perlindungan terhadap anak. Kami juga menekankan bahwa jangan ada kebijakan yang mengeluarkan anak-anak sebagai peserta didik dari SMAN TKN Manokwari,” tegasnya mengingatkan.

Ke depan, Ngabalin berharap peristiwa ini menjadi pembelajaran bersama untuk memperkuat tata kelola pendidikan yang lebih humanis, beradab dan berorientasi pada pembentukan generasi muda yang berkarakter demi mewujudkan pembangunan SDM generasi penerus di Papua Barat yang baik dan berkualitas.

“Jangan hanya persoalan ini dan tidak melihat secara obyektif lalu anak-anak kelas XI jadi korban kebijakan dengan dikeluarkan,” pesannya mengingatkan.

“SMAN TKN Manokwari harus bertanggung jawab menyelesaikan persoalan internal ini kembali ke sekolah.  Jangan terkesan pihak sekolah lepas tangan atau cuci tangan atas peristiwa ini. Anak-anak ini adalah aset bangsa dan generasi penerus bangsa,” pungkas Ngabalin.

Sementara itu, insiden kekerasan yang terjadi di SMAN TKN Manokwari saat ini dalam penanganan Kepolisian Resor Kota Manokwari guna mengungkap dugaan penganiayaan yang dilakukan senior terhadap junior di sekolah itu pada Rabu (22/4/2026) malam.

Kasat Reskrim Polresta Manokwari AKP Agung Gumara Samosir menyebut, dari hasil pemeriksaan awal, aksi kekerasan dipicu karena para senior merasa tidak dihargai oleh junior.

“Jadi motifnya diduga yunior yang masih kelas X, berdasarkan keterangan seniornya tidak menghargai mereka, sehingga terjadilah aksi pemukulan,” ujarnya, Sabtu (25/4/2026).

Sejauh ini, penyidik telah memeriksa 12 korban sebagai saksi dan masih akan melanjutkan pemeriksaan terhadap korban lainnya.

“Secara prosedural kita sudah periksa kemarin ada 12 orang, namun masih ada korban lain, kita jadwalkan hari Senin,” kata Agung seraya menambahkan Polisi telah mengantongi 19 nama yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut.

RED