Pemprov Launching Data Agregat OAP di Papua Barat Daya

Pemprov PBD Agregat OAP

Koreri.com, Sorong – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Barat Daya (PBD) melaunching data agregat Orang Asli Papua (OAP) Kabupaten dan Kota di daerah otonomi baru (DOB) ini.

Data agregat OAP ini dilaunching Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) PBD Yakop Kareth, M.Si di Gedung Lamberthtus Jitmau, Kota Sorong, Kamis (15/1/2026).

Launching ini menegaskan komitmen Pemerintah daerah untuk melakukan pendataan menyeluruh terhadap OAP di seluruh wilayah PBD.

Pendataan ini bertujuan menghasilkan data by name by address yang valid sebagai dasar perencanaan pembangunan dan alokasi dana otonomi khusus.

Pj Sekda Yakob menjelaskan, proses pendataan dilakukan secara bertahap sejak Juni hingga Desember 2025 sebagai tahap awal. Data dikumpulkan langsung dari kelurahan, RT, dan RW, mengingat dinamika penduduk yang terus bergerak antar wilayah.

“Penduduk ini bergerak terus. Ada yang karena faktor keamanan di tempat lain kemudian pindah domisili ke Sorong, bahkan ada yang belum sempat terdata. Sehingga kita pastikan dia orang Papua, domisilinya di sini, atau KTP-nya sudah berubah. Itu semua harus dipastikan,” tegasnya.

Data agregat yang tercatat jumlah penduduk pada 2025 sebanyak 614.415 jiwa terdiri dari OAP 296.210 jiwa sedangkan non OAP 318.205 jiwa.

Total OAP PBD sebanyak 296.210 jiwa dengan rincian untuk Kabupaten Sorong 54.379 jiwa, Kota Sorong 77.487 jiwa, Kabupaten Raja Ampat 53.035 jiwa, Sorong Selatan 46.829 jiwa, Maybrat 43.178 jiwa dan Tambrauw 21.302 jiwa.

Pj Sekda menjelaskan, pendataan OAP tidak hanya berhenti pada tahap pertama, tetapi akan terus dilanjutkan sepanjang 2026 untuk memastikan tidak ada warga OAP yang terlewat. Targetnya, seluruh OAP di PBD terdata lengkap berdasarkan nama dan alamat.

“Target kita seluruh penduduk Orang Asli Papua di Provinsi Papua Barat Daya terdata by name, by address, sehingga kita benar-benar tahu jumlah dan sebarannya di kabupaten dan kota,” imbuhnya.

Pemprov PBD Agregat Data OAP2Berdasarkan data awal yang telah diluncurkan, sebaran OAP terbanyak berada di Kota Sorong. Hal ini dipengaruhi oleh aktivitas ekonomi, pendidikan, dan mobilitas masyarakat dari kabupaten lain menuju pusat kota.

Terkait pemanfaatan data, Yakob mengatakan hasil pendataan saat ini belum dapat digunakan sebagai dasar alokasi dana Otsus. Data tersebut baru akan menjadi rujukan perencanaan dan pengusulan kebutuhan dana Otsus untuk 2027.

“Ini belum bisa dipakai untuk alokasi dana Otsus karena pendataan masih berjalan. Targetnya, 2026 kita sisir lagi, lalu divalidasi. Kalau 2–3 bulan sebelum Mei sudah valid, maka itu bisa dipakai sebagai data dasar perencanaan dan pengusulan DAO tahun 2027,” cetusnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Dukcapil PBD Nikolas Asmuruf, menyampaikan bahwa saat ini data OAP yang telah terhubung dari kabupaten/kota dan terkoneksi ke Dukcapil Pusat berjumlah 296.210 jiwa.

“Data yang sudah connect dari kabupaten/kota dan langsung ke Dukcapil pusat, khusus orang asli Papua itu 296.210. Itu yang saat ini sudah pasti,” rincinya.

Asmuruf menambahkan, terdapat tambahan sekitar 5.000 data dari Kabupaten Tambrauw yang masih dalam proses input ke dalam aplikasi, sehingga angka tersebut berpotensi meningkat setelah seluruh data masuk dan diverifikasi.

“Data 5.000 dari Tambrauw itu sementara masih diinput. Kalau sudah masuk semua, tentu jumlahnya akan bertambah. Tapi yang valid saat ini tetap 296.210,” jelasnya.

Nikolas mengakui, kendala utama pendataan terjadi di Kabupaten Tambrauw akibat keterbatasan sumber daya manusia dan jaringan internet. Untuk mengatasi hal tersebut, Dukcapil Provinsi telah menyiapkan dukungan berupa perangkat Starlink dan laptop.

“Di Tambrauw itu kendalanya SDM dan jaringan. Karena itu kami siapkan bantuan Starlink dan laptop untuk membantu pendataan di daerah yang belum ada jaringan,” ungkapnya.

Dalam pelaksanaan pendataan, Dukcapil melibatkan berbagai unsur di tingkat lokal, mulai dari RT, kelurahan, kepala kampung, tokoh masyarakat hingga kepala suku, guna memastikan akurasi dan keterbukaan data.

“Kami libatkan kepala distrik, kelurahan, tokoh masyarakat, dan kepala suku supaya pendataan ini betul-betul sesuai kondisi riil di lapangan,” ujarnya.

Nikolas juga menegaskan bahwa hingga saat ini data kependudukan yang paling akurat dan digunakan secara nasional, termasuk untuk pemilu dan perencanaan pembangunan, adalah data dari Dukcapil.

“Kalau secara nasional, data yang dipakai dan dianggap paling akurat itu data Dukcapil. Itu yang digunakan untuk pemilihan presiden, gubernur, bupati, DPR, sampai perencanaan,” pungkasnya.

KENN