Koreri.com, Timika – Kasus pembunuhan dua warga di wilayah Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Papua Tengah dinilai sebagai tindak kriminal murni yang tidak boleh dikaitkan dengan konflik sebelumnya.
Tokoh masyarakat Mimika, Yohanes Kibak, mendesak aparat kepolisian bertindak cepat menangkap para pelaku dan menegakkan hukum secara tegas.
Mantan Anggota DPRK Mimika ini menegaskan, insiden yang terjadi dalam beberapa hari terakhir memang diawali dengan peristiwa pembunuhan, namun tidak tepat jika dikaitkan dengan konflik atau perang yang sempat terjadi sebelumnya.
“Konflik yang lalu sudah berhasil didamaikan oleh Pemerintah Kabupaten Mimika dan Puncak bersama aparat keamanan dan situasinya sudah kondusif,” tegas Yohanes Kibak dalam keterangannya di Timika, Selasa (31/3/2026).
“Jadi kejadian sekarang ini harus dilihat sebagai kasus kriminal yang berdiri sendiri,” tegasnya.
Berdasarkan informasi yang diterimanya, peristiwa pembunuhan terjadi di sekitar Jalan Jayanti, kemudian korban dibawa ke arah Kwamki Narama.
Aksi tersebut dinilai sangat serius karena melibatkan kekerasan menggunakan senjata tradisional berupa panah.
Ia meminta aparat kepolisian segera memburu dan menangkap para pelaku tanpa kompromi.
Menurutnya, negara tidak boleh kalah oleh tindakan kriminal, terlebih Indonesia adalah negara hukum yang menjunjung tinggi keadilan.
“Kami minta pelaku segera ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku. Tidak boleh ada toleransi, tidak boleh ada ruang untuk aksi balas dendam,” ujarnya.
Yohanes juga mengingatkan komitmen aparat saat penanganan kasus sebelumnya, termasuk di wilayah Jayanti, di mana penegakan hukum dilakukan tanpa pandang bulu.
Ia menilai komitmen tersebut harus dijalankan secara konsisten dalam kasus Kwamki Narama.
Lebih lanjut, Kibak menolak keras segala bentuk aksi balasan yang berpotensi memperkeruh situasi keamanan.
Menurutnya, pola kekerasan berantai dari pembunuhan hingga aksi balas dendam harus segera dihentikan.
“Tidak boleh ada lagi perang suku. Semua pihak harus menahan diri dan menyerahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum,” imbuhnya.
Kibak juga mengungkapkan bahwa saat ini terdapat sekitar lima hingga tujuh orang yang diduga terlibat dalam kasus tersebut dan tengah dalam pencarian aparat.
Ia bahkan mengusulkan agar proses hukum dilakukan di luar daerah jika diperlukan, guna menjamin objektivitas dan mencegah konflik lanjutan.
Selain itu, Yohanes meminta aparat memperketat pengawasan terhadap pihak-pihak dari luar daerah yang diduga terlibat dalam konflik.
Jika terbukti memicu kerusuhan, mereka harus dipulangkan ke daerah asal.
Sebagai bagian dari masyarakat lokal, ia menegaskan pentingnya menjaga keamanan wilayah Mimika dari provokasi pihak luar.
Ia juga menyoroti penggunaan senjata tradisional dalam konflik, yang dinilai harus segera ditertibkan.
“Ke depan tidak boleh ada lagi yang membawa panah dalam situasi seperti ini. Siapa pun yang kedapatan membawa senjata harus langsung diamankan,” tekannya.
Yohanes kembali menegaskan bahwa seluruh pelaku pembunuhan harus ditangkap dan diproses hukum tanpa pengecualian.
“Penegakan hukum harus berjalan tegas dan adil. Tidak boleh ada kompromi, para pelaku harus proses hukum diluar Timika,” desaknya kembali.
Sementara itu, Kibak juga meminta Kapolres dan Brimob untuk jenazah korban pembunuhan tidak boleh dibakar.
“Saya sudah menyampaikan saran tersebut kepada keluarga untuk korban harus dimakamkan secara damai dengan ibadah,” cetusnya.
Dengan begitu, solusi yang diberikan bahwa aparat keamanan harus bertindak tegas dan jenazah diambil alih keamanan untuk segera dimakamkan.
“Kita tdk boleh mengikuti maunya mereka. Aparat keamanan harus tangkap dan proses hukum para pelaku. Yang melawan proses hukum,” tegasnya.
EHO
























