Guru SMPN 11 Mimika Soroti Krisis Karakter Pelajar: Tegaskan Soal Ini

Lusiana Nada Guru SMP Negeri 11 Mimika
Guru SMP Negeri 11 Mimika, Lusiana Nada / Foto : NUEL

Koreri.com, Timika – Guru SMP Negeri 11 Mimika, Lusiana Nada, menyoroti pentingnya penguatan pendidikan karakter dan nilai-nilai kewarganegaraan bagi anak-anak di Kabupaten Mimika.

Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan yang berlangsung di Hotel Grand Tembaga Timika, Rabu (2/9/2026).

Menurut Lusiana, kondisi generasi muda saat ini membutuhkan perhatian serius, terutama di tengah kuatnya pengaruh media sosial terhadap perilaku anak.

Ia mengaku bersyukur sekolah dapat terlibat dalam kegiatan tersebut karena pendidikan karakter dinilai menjadi salah satu kebutuhan penting bagi pelajar di Timika.

“Kalau kami dari pihak sekolah bersyukur untuk kegiatan ini karena saat ini karakter kewarganegaraan untuk anak-anak Timika agak minim,” ujar Lusiana.

Ia mengatakan, fenomena tawuran maupun berbagai bentuk konflik yang melibatkan anak-anak tidak terlepas dari pengaruh lingkungan dan media massa, termasuk media sosial.

Menurut Lusiana, berbagai unggahan di media sosial terkadang ditiru tanpa mempertimbangkan dampak positif maupun negatifnya. Kondisi tersebut kemudian dapat terbawa ke kehidupan nyata.

“Dari status-status sampai akhirnya terbawa keluar. Anak-anak melihatnya bukan dari sisi positif, tetapi justru dari sisi negatif,” katanya.

Lusiana menegaskan bahwa sekolah bukan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab dalam membentuk karakter anak. Peran orang tua justru menjadi sangat penting karena pendidikan pertama seorang anak dimulai dari lingkungan keluarga.

“Pendidikan mula-mula itu berasal dari dalam rumah. Terutama pendidikan karakter,” tuturnya.

Lusiana mencontohkan, orang tua perlu memperkenalkan nilai-nilai agama sejak dini sesuai keyakinan masing-masing.

Anak perlu dibimbing untuk mengenal nilai-nilai keagamaan sekaligus memahami mana yang baik dan tidak baik untuk dilakukan.

Ia juga mengutip prinsip pendidikan dalam Kitab Amsal 23:13-14 mengenai pentingnya mendidik anak sejak dini.

Menurut Lusiana, istilah “rotan” dalam konteks pendidikan tidak harus dimaknai secara harfiah sebagai tindakan kekerasan, tetapi dapat diwujudkan melalui nasihat, teguran, pengawasan, maupun ketegasan orang tua dalam mendidik anak.

“Rotan dalam pengertian bisa kata-kata, bisa sorotan mata, dengan apa saja itu kan didikan,” jelasnya.

Lusiana berharap penguatan karakter tidak hanya dilakukan dalam kegiatan tertentu, tetapi menjadi bagian dari proses pendidikan di sekolah.

Ia mengusulkan agar pendidikan karakter dapat lebih ditekankan pada masa penerimaan peserta didik baru maupun kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

“Kalau boleh difokuskan kepada sekolah, ada waktu-waktu tertentu ketika ada kegiatan penerimaan murid baru, terus MPLS. Di situlah mereka masuk untuk menanamkan karakter ini,” katanya.

Lusiana juga membandingkan pendidikan karakter saat ini dengan masa ketika Pendidikan Moral Pancasila (PMP) masih menjadi bagian kuat dalam pendidikan.

Menurutnya, generasi muda perlu kembali memahami nilai-nilai Pancasila, bukan sekadar menghafal sila-silanya, tetapi mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Setidaknya 36 butir Pancasila itu ada dalam kepala. Kalau sekarang anak-anak baru bilang sila pertama, kedua, ketiga sudah lupa. Padahal yang penting adalah mengamalkannya,” ujarnya.

Lusiana menilai media sosial seperti Instagram memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter anak.

Karena itu, anak-anak perlu mendapatkan pendampingan agar mampu memilah konten yang mereka konsumsi.

Ia mengingatkan, pencarian jati diri yang dilakukan anak-anak harus diarahkan ke hal-hal positif.

Jangan sampai keinginan untuk menunjukkan identitas justru diwujudkan melalui tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

“Kalau kita lihat sekarang, mereka seperti memberontak untuk mencari jati diri, tetapi salah,” tegasnya.

Lusiana berharap pendidikan karakter menjadi tanggung jawab bersama antara sekolah, orang tua, pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat.

Dengan pendidikan karakter yang kuat sejak rumah hingga sekolah, generasi muda Mimika diharapkan mampu tumbuh menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab, menghargai sesama, serta mampu menggunakan media sosial secara bijak.

NUEL