Bangun Rumah Ikan FABA, PLN Pulihkan Ekosistem Pesisir di Holtekamp Jayapura

PLN Bangun Rumah Ikan FABA Pantai Holtekamp
Kegiatan peresmian program TJSL pembuatan rumah ikan dari FABA dilaksanakan di Pantai Holtekamp, Kota Jayapura, sebagai wujud komitmen PLN dalam mendukung pemulihan ekosistem pesisir, menciptakan habitat baru bagi biota laut, serta meningkatkan potensi hasil tangkapan nelayan local / Foto : Humas PLN

Koreri.com, Jayapura – PT PLN (Persero) merealisasikan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dengan menurunkan 50 unit rumah ikan berbahan Fly Ash and Bottom Ash (FABA) sisa pembakaran PLTU Holtekamp di perairan Pantai Holtekamp, Kota Jayapura, Kamis (3/9/2026).

Langkah inovatif pemanfaatan limbah batu bara ini diterapkan melalui konsep Creating Shared Value (CSV), yaitu mengubah limbah operasional menjadi solusi untuk memperbaiki ekosistem laut, yang pada akhirnya akan menambah hasil tangkapan dan penghasilan nelayan lokal.

Dalam pelaksanaannya, PLN berkolaborasi dengan komunitas Enak Apa Bilang (EAB) Outdoor.

Modul rumah ikan yang dicetak secara swadaya menggunakan campuran FABA, pasir, semen, dan chipping ini diturunkan oleh empat penyelam ke dasar laut berpasir pada kedalaman 5 hingga 7 meter.

PLN Bangun Rumah Ikan FABA Pantai Holtekamp2
Modul rumah ikan dengan bahan campuran FABA siap diturunkan ke perairan Pantai Holtekamp sebagai inovasi pemanfaatan sisa pembakaran PLTU yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat pesisir / Foto : Humas PLN

Lokasi penempatan juga ditarik sejauh 25 meter dari jalur perlintasan kapal guna menjamin keamanan navigasi laut.

Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura menyambut positif inisiatif ramah lingkungan ini.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Kota Jayapura Richard J. Nahumury, meyakini inovasi rumah ikan FABA ini akan menciptakan habitat baru yang aman bagi perkembangbiakan spesies ikan pesisir, serta memberikan struktur perlindungan bagi benih ikan dari arus keras dan predator.

Hal itu mengingat laut adalah tumpuan hidup dan budaya masyarakat Papua, langkah pemulihan ekosistem ini diharapkan mampu mempercepat pertumbuhan populasi ikan sekaligus memudahkan nelayan lokal mendapatkan hasil tangkapan tanpa harus melaut terlalu jauh ke tengah samudra.

PLN Bangun Rumah Ikan FABA Pantai Holtekamp3
Alat berat melakukan pengolahan material Fly Ash and Bottom Ash (FABA) di kawasan PLTU Holtekamp sebagai bagian dari pemanfaatan sisa pembakaran batu bara menjadi material rumah ikan / Foto : Humas PLN

“Proyek ini tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik, melainkan harus memberi dampak ekonomi jangka panjang yang nyata. Kawasan pesisir diintegrasikan dengan sektor ekonomi kreatif serta pariwisata.
Selain menjaga keberlanjutan lingkungan, rumah ikan ini diproyeksikan berkembang menjadi ruang edukasi bahari dan destinasi wisata berbasis masyarakat,” jelasnya.

Perwakilan Komunitas EAB Outdoor, Fendy Joyo, menjelaskan bahwa penggunaan FABA sebagai material rumah ikan merupakan upaya mengelola limbah tersebut agar kembali berguna bagi kelestarian laut dan ekonomi masyarakat.

“Kami melihat limbah batu bara ini sangat melimpah dan komunitas berpikir bagaimana agar FABA bisa dikembalikan ke alam dan memberi manfaat, baik untuk biota laut maupun masyarakat sekitar. Kalau bukan kita, siapa lagi yang menjaga alam? Kami berharap anak cucu kita kelak masih bisa melihat keindahan laut yang kita lihat saat ini,” ujar Fendy.

Senior Manager Keuangan, Komunikasi, dan Umum PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah (UIW) Papua dan Papua Barat, Dhana Adhipratama, menjelaskan bahwa inisiatif ini membawa dampak positif yang berkesinambungan, mulai dari memulihkan ekosistem laut hingga meningkatkan keanekaragaman hayati.

PLN Bangun Rumah Ikan FABA Pantai Holtekamp4
Tim penyelam menurunkan modul rumah ikan berbahan FABA ke dasar perairan Pantai Holtekamp, Jayapura / Foto : Humas PLN

PLN turut mengapresiasi tingginya kepedulian masyarakat pesisir dalam menjaga kelestarian laut yang semakin terasah, sehingga dapat menguatkan sinergi lintas sektor antara PLN, pemerintah daerah, komunitas penyelam, hingga tokoh adat setempat.

“Populasi ikan yang melimpah akan berdampak langsung pada peningkatan hasil tangkapan nelayan serta membuka peluang wisata selam berbasis masyarakat. Namun, kecanggihan rekayasa material ini tidak akan ada artinya tanpa peran aktif warga lokal. Kunci utama keberhasilan program ini sepenuhnya terletak pada pemeliharaan, pengawasan, dan rasa memiliki (sense of belonging) dari masyarakat Holtekamp,” ujar Dhana.

Pelaksanaan program ini semakin mempertegas komitmen PT PLN (Persero) dalam menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

Melalui inisiatif ini, PLN terus berupaya menyelaraskan tugas penyediaan energi di Tanah Papua dengan pelestarian lingkungan, sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi ekonomi masyarakat luas.

RLS