Dampak Pandemi COVID-19 Pengangguran di Teluk Bintuni Naik 3 Persen

WhatsApp Image 2021 11 06 at 07.13.46
Bupati dan Wakil Bupati Teluk Bintuni Ir Petrus Kasihiw,M.T-Matret Kokop,S.H (Foto : Istimewa)

Barat, Indonesia bahkan dunia berdampak buruk pada sektor perekonomian hingga ke Kabupaten Teluk Bintuni.

Populasi penganggur dalam kurun waktu 18 bulan akibat pandemi COVID-19 mengalami kenaikan adalah dampak dari merosotnya ekonomi yang memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) bagi tenaga kerja.

Bupati Teluk Bintuni Ir Petrus Kasihiw,M.T saat menyampaikan pemaparan laporan dalam rapat kerja Bupati/ Walikota se-Papua Barat tahun 2021, Jumat (5/11/2021) mengaku bahwa akibat pandemi ini terjadi PHK terhadap tenaga kerja di LNG Tangguh serta beberapa perusaha lainnya.

“Angka pengangguran meningkat karena ada pandemic, ada pemberhentian tenaga kerja kita yang akhirnya menimbulkan masalah di LNG Tangguh dan beberapa tempat lain,” ungkap Bupati Teluk Bintuni Petrus Kasihiw.

Dijelaskan Bupati Kasihiw bahwa kenaikan persentase pengangguran mencapai 3% lebih. dari 5,9 persen sebelum pandemi melanda menjadi 8,58 persen setelah pandemi. “Jadi meningkat angka pengangguran,” ucapnya.

Sementara itu berkaitan dengan pemulihan ekonomi, angka pertumbuhan indikator makro capaian pembangunan dari tahun 2018 sampai tahun 2020 mengalami peningkatan. 2018 ada di angka 69,3 poin. Di tahun 2020 menyentuh 64,55 poin.

Dikatakan Bupati dua periode itu bahwa pertumbuhan ekonomi yang positif ada di dua daerah yakni Teluk Bintuni ditopang oleh pengolahan LNG Tangguh sedangkan Kabupaten Pegunungan Arfak didukung sektor pertanian.

“Kalau kita berharap dari APBD terus persoalan di Papua Barat tidak akan terselesaikan dengan baik, harus ada kebijakan yang cukup besar yang dibuat oleh pemerintah pusat dan provinsi dan kabupaten kota,” pungkasnya.

Salah satu terobosan yang mungkin ditempuh adalah mendorong Sorong sebagai kawasan ekonomi khusus dan Kabupaten Teluk Bintuni sebagai kawasan industry khusus.

“Kawasan industri ada pengembangan tren 3 LNG Tangguh yang sudah hampir 80 hingga 90 persen. Jika ini sudah berproduksi maka akan sama dengan dua tren yaitu tren satu dan tren dua dan ekonomi kita akan stabil kalau tren 3 ini berjalan dengan baik,” kata Kasihiw.

Selain itu pengembangan blok Kasuari bisa dilakukan untuk menopang ekonomi daerah karena ada 7 sumber gas yang saat ini sedang dikembangkan ada 3.

Adapun sekolah P2TIM atau Petrotekno saat ini telah me ghasilkan alumni yang mumpuni. Mereka adalah anak-anak yang memiliki keahlian dan siap terjun ke industri.

“Kita punya 800 lulusan anak Papua asli Bintuni. Ada 30 orang yang sudah kerja di Batam, ada yang bekerja di projec Jagorawi pembangunan MRT. Dalam waktu dekat 28 orang akan dikirim ke Brunei,” tambah Bupati Kasihiw.

KENN