Pergeseran Nilai Budaya Sebabkan Rapuhnya Ikatan Hidup Orang Basudara

Gubmal MI Patimura 202
Gubernur Maluku Murad Ismail saat momen HPN Pattimura 202 Tahun 2019

Koreri.com, Ambon – Gubernur Maluku Murad Ismail mengakui, pergeseran nilai-nilai budaya telah berdampak signifikan terhadap rapuhnya ikatan-ikatan hidup orang basudara atau solidaritas sesama anak bangsa.

“Apalagi, dalam beberapa waktu terakhir, khususnya pada saat Pilpres dan Pileg 2019 ini hoaks dan ujaran-ujaran kebencian bertebaran dengan bebas di media sosial, membuat kita terpolarisasi.  Bukan hanya itu, politik identitas juga berdampak pada upaya mempertentangkan agama dan negara atau agama dan Pancasila. Karena bagi kita bangsa Indonesia, tidak ada pertentangan antara agama dan negara. Bahwasanya semua agama di Indonesia telah final menerima Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika,” tegasnya saat peringatan Hari Pahlawan Nasional (HPN) Thomas Matulessy alias Kapitan Pattimura ke 202, di Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, Rabu (15/5/2019).

Bahkan secara lokal, pergeseran nilai-nilai budaya juga berdampak pada masih sering terjadinya konflik antar negeri atau kampung, seperti antara negeri Latu, Hualoy dan Tomalehu.

“Padahal katong samua orang basudara,” cetus Gubernur.

Ia menegaskan pula bahwa semangat patriotisme dan nasionalisme bangsa Indonesia saat ini sedang berada di titik nadir.

“Betapa nyaris, arus besar neo-liberalisme dan neo-kapitalisme telah melunturkan kebanggaan identitas kebudayaan kita sebagai orang Maluku dan bangsa Indonesia, dan bangga dengan menggunakan identitas orang lain,” bebernya.

Olehnya itu, melalui momentum HUT Pattimura dirinya mengajak, gelorakan kembali jiwa kepahlawanan Kapitan Pattimura untuk berjuang dan berani berkorban untuk membangun daerah ini.

“Hilangkan egoisme dan primordialisme sempit berdasarkan kelompok, kampung dan agama serta perkuat spirit kebersamaan sesama orang basudara,” tandasnya.

Gubernur juga menegaskan bahwa, perjuangan saat ini bukan lagi melawan penjajah dengan parang, tombak atau senjata, tetapi perjuangan saat ini yaitu, bagaimana membangun dan mengembangkan pertalian sejati sesama orang basudara untuk bakukele, Masohi dan Badati bangun Maluku yang maju dan sejahtera dan berdaulat.

“Kita lestarikan budaya Maluku guna memperkokoh kehidupan orang basudara bangun Maluku yang aman dan sejahtera,” tukasnya.

CPS