Koreri.com, Tual – Sebuah video diduga seorang provokator beredar luas di kalangan masyarakat Kota Tual, Provinsi Maluku.
Dalam video yang diterima Koreri.com, Kamis (2/2/2023), pria diduga provokator itu mengaku menjadi saksi pengrusakan atau pembakaran musholah yang berada di depan kantor DPRD Kota Tual.
Ada warga yang bertanya : “Kapan lihat dong kasih rusak (musholah, red)?”
Pria yang belum diketahui identitasnya itu kemudian menjawab :
“Beta yang berdiri liat sekarang…..mari ibu deng…mari…………dst,” klaim pria tersebut sambil mengajak warga yang bertanya untuk ikut dengannya mengecek kebenaran peristiwa dimaksud sebagaimana terlihat dalam video tersebut.
Di lain sisi, sebuah rekaman yang berisi suara seorang pria yang juga diduga kuat sebagai provokator juga beredar luas.
Dalam rekaman itu, terdengar suara pria tersebut memberikan informasi musholah di depan kantor DPRD Kota Tual telah dibakar.
“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, e..basudara dong samua, ini dong di Un su bakar musholah didepan DPRD Kota samping rumah makan Padang..di Tanah Putih pas depan DPRD Kota,” ungkap pria tersebut dalam rekaman itu.
Belum diketahui indentitas pria provokator tersebut namun dalam postingan rekaman yang beredar luas tertera sebuah nomor handphone +62 812-4753-7303 dan nama Bahrun Naro.
Rekaman suara yang mirip dengan rekaman sebelumnya juga telah diterima Koreri.com, Kamis (2/2/2023) dalam bentuk video yang diduga dari telepon seluler.
Berdasarkan apa yang terlihat di video tersebut, rekaman itu tersebar di Grup WA DPC PKS Kota Tual dengan status diteruskan. Kemudian pada rekaman yang diteruskan itu tertera sebuah nama Ust Apsal Hadija 02.
Sementara itu, berdasarkan video yang diterima Koreri.com, Kamis (2/2/2023) tampak kondisi Musholah yang berada di depan kantor DPRD Kota Tual dalam kondisi baik dan tidak terbakar sebagaimana yang diisukan pria dalam video dan rekaman suara yang beredar.
Sejumlah warga masyarakat yang dikonfirmasi media ini, menegaskan provokator jelas-jelas sudah bermain dibalik bentrok ini. Mereka sengaja menyebarkan informasi hoax dengan tujuan memicu terjadinya konflik agama di daerah ini.
“Masa gara-gara ribut warga desa Yarler dan Banda Eli lalu jadi merembet ke mana-mana sampai dikondisikan sudah terjadi pembakaran musholah yang berpotensi memicu konflik agama,” kecam salah satu warga Un yang enggan menyebut namanya.
Warga lainnya meminta aparat keamanan bertindak tegas dan tidak melakukan pembiaran karena situasinya sudah memanas.
“Pak Wali Kota tolong kami warga di Un Pantai tidak tahu masalah, Kapolres dan Dandim…tolong kami warga di daerah Un pantai di serang terus. Aparat keamanan harus bertindak tegas bagi kelompok yang melawan, jangan lakukan pembiaran,” kata Rendi warga Un Pantai.
“Pak Kapolres juga harus berani dan buktikan siapa pelaku utama yang panah warga Banda Eli sampai muncul konflik ini. Jangan di bilang warga Yarler terus tapi harus buktikan itu dan tangkap pelaku provokator yang sudah sebar berita hoax,” sambungnya.
Sebelumnya Kapolres Kota Tual AKBP. Prayudha Widiatmoko, mengatakan konflik antar warga pecah karena ada warga Banda Eli yang kena panah di kepala saat duduk-duduk di kompleksnya.
Meski ketika ditanya siapa pelakunya? Kapolres belum bisa membuktikan apakah pelaku itu dari kelompok warga Yarler atau bukan.
“Masing-masing massa kami himbau menahan diri. Kami dengan pemerintah daerah dan TNI menghimbau seluruh tokoh masyarakat yangg ada untuk menenangkan massa dan mengantisipasi berita-berita hoax,” kata Kapolres.
VER

































