Koreri.com, Jayapura – Dinas Kebudayaan dan Pariwisiata (Disbudpar) Provinsi Papua mendorong pengembangan usaha kuliner dengan menyerahkan alat pengelolah sagu menjadi es krim dan tepung sagu serta oven ikan asap kepada tiga kelompok usaha pariwisata di Kabupaten Jayapura.
Penyerahan alat pengelolah sagu dan oven multi fungsi secara simbolis dari Sekretaris Disbudpar Papua kepada perwakilan 3 kelompok usaha penerima hibah yang sudah disepakati dalam naskah penyerahan barang hibah.
Adapun penerima alat usaha pariwisata masing-masing, kelompok usaha sagu basah dari kampung Yoboi, Kelompok usaha sagu menjadi es krim dan tepung sagu dari Yabaso dan Kelompok usaha ikan asap dari kampung Hobong, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura.
Sekretaris Disbudpar Papua, Yulianus Gombo, mengatakan penyerahan barang hibah kepada kelompok usaha pariwisata khususnya Orang Asli Papua (OAP) dalam rangka mendukung visi – misi Gubernur dan Wakil Gubernur Papua.
“Jadi, kelompok usaha ini mereka harus mandiri, setelah itu hasil usaha mereka bisa digunakan untuk kebutuhan semua anggota kelompok. Kalau kita kasih perorangan pasti tidak bisa maju,” terangnya kepada wartawan di sela–sela penyerahan barang hibah kepada kelompok usaha pariwisata di Kabupaten Jayapura, Selasa (15/12/2020).
Dikatakan, pihaknya berkoordinasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten / Kota Jayapura untuk sama – sama mendorong pengembangan usaha pariwista supaya visi misi Gubernur dan Wakil Gubernur Papua bisa terwujud baik.
Gombo juga menekankan agar peralatan hibah yang sudah diserahkan Pemerintah Provinsi Papua jangan diambil alih oleh ketua kelompok atau sekretaris dan bendahara tapi itu menjadi milik bersama yang dikelolah secara bersama – sama.
“Ya, itu karena kebiasaan hidup kita orang Papua ini terkadang bantuan yang diserahkan itu ketua, Sekretaris dan bendahara bikin jadi milik pribadi, tadi saya tekankan itu karena alat digunakan milik bersama di kelompok supaya mereka bisa mandiri dan sejahterakan keluarga anggota kelompok masing – masing,” ujarnya.
Harapan kedepan, tiga kelompok usaha pariwisata di Kabupaten Jayapura ini terus maju, mandiri dan sejahtera. Kemudian usaha yang dikembangkan ini untuk PON XX tahun 2021 maka kita pemerintah upayakan supaya oleh-oleh (cinderamata, red) dari Papua.
“Jadi, dari sekian ribu datang saat PON XX harus ada oleh – oleh dari kita juga, oleh karena itu kita pemerintah menyiapkan alat ini kepada masyarakat supaya bahan lokal yang kita fungsikan jadi cinderamata bagi masyarakat indonesia yang berkunjugan ke Papua saat PON nanti,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayapura, Elvis Kabey, mengatakan pemerintah Kabupaten Jayapura mengapresiasi bantuan yang diberikan Pemerintah Provinsi Papua melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.
Dikatakan, pihaknya tetap berkoordinasi dan mengimbau kelompok kerja sagu dan ikan asap untuk menggunakan bantuan peralatan ini secara baik.
“Ini peralatan modern yang diberikan untuk mengolah bahan lokal berbasis sagu dan perlu bimbingan dan kelompok usaha dapat manfaatkan alat secara baik dan berkelanjutan agar meningkatkan ekonomi keluarga,” kata Elvis Kabey.
“Pemerintah Kabupaten Jayapura berharap tiga kelompok usaha sagu dan ikan asap supaya bisa memahami bagaimana manajemen kelompok ini secara bersama – sama mengelolah alat yang diberikan untuk menghasilkan produk – produk yang berbahan sagu,” ujarnya.
Ketua Kelompok usaha sagu Gerakan Papua Makmur, Yosep Nunsyom, mengapresiasi dan bangga atas bantuan alat olahan sagu yang diberikan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua.
“Saya sebagai ketua sangat bangga karena ini keinginan dari tahun 2018,” kata Yosep.
Dikatakan, kelompok gerakan papua makmur beralamat di Yabaso, Distrik Sentani Kota sudah bekerja dari tahun 2018 diawali dengan kerja es krim sagu dan semangat datang dan meningkatkan lagi dengan produksi sagu basah.
Dengan dapat bantuan alat dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua kami sangat senang dan bangga karena dapat meningkatkan produktifitas ekonomi khususnya ekonomi masyarkat lewat kelompok usaha karena kami mau lebih canggih menggunakan teknologi untuk mengolah sagu,” ujarnya.
Menurutnya, dulu pihaknya mengolah sagu secara manual dan sangat lelah (capek, red) karena untuk ramas sari sagu membutuhkan waktu dan pendapatan sari sagu terbatas tapi dengan alat baru ini bisa produksi lebih banyak lagi.
“Nanti dari sari sagu akan dibuat produk sagu basah dan es krim karena itu sudah lama kami produksi kemudian kami belajar untuk produksi tepung sagu dan mie sagu,” kata Yosep.
Ia mengaku siap merangkul semua anggota kelompok untuk bekerjasama menggunakan alat yang baru diberikan dari Pemerintah. “Jadi, alat bantuan ini untuk kerja bersama kelompok, saya sebagai ketua tidak mugkin kerja alat ini sendiri,” pungkasnya.
OZIE
























