Koreri.com, Jayapura – Viral video pernyataan Gubernur Lukas Enembe beredar di media sosial bahwa kehidupan orang Papua tidak bahagia mendapat respon positif dan negatif dari berbagai kalangan maupun orang dekat Lukas Enembe.
Pernyataan Gubernur disampaikaan pada saat peresmian bandar udara Mamit, Distrik Kembu, Kabupaten Tolikara, Selasa (8/2/2022) lalu.
“Kita di Provinsi Papua ini tidak aman, masyarakat menangis hidup tidak bahagia,” demikian pernyataan Gubernur Lukas Enembe video yang viral di medsos.
“Kehidupan orang Papua tidak bahagia. Orang Papua tidak happy di seluruh Papua. Intan Jaya menangis, Puncak menangis, Nduga menangis, Pegunungan Bintang menangis dan Maybrat menangis,” sambung Lukas Enembe.
“Kita tidak hidup aman di negeri kita sendiri, kami lahir untuk mendapat kebahagiaan. Orang Papua harus bahagia, itu utama,” kata Enembe.
Kepala Biro Umum dan Protokol Setda Papua, Elpius Hugi, mengatakan pernyataan Gubernur terkait “Orang Papua Tidak Happy” itu jangan dipolitisir karena maksud Gubernur itu masalah kedamaian, keamanan dan kenyamaan bagi masyarakat di bumi cenderawasih.
“Jadi, maksud pak Gubernur itu kita bersama menjaga kedamaian di tana Papua, karena Papua terbangun diatas injil sehingga tidak boleh ada lagi tangisan dan tumpahan darah diatas tanah Papua,” kata Elpius Hugi mantan Spri Gubernur Lukas Enembe di Jayapura, Kamis (10/2/2022)
Ditegaskan, pernyataan Gubernur Lukas Enembe tidak boleh dipolitisir lagi sehingga salah dimanfaatkan oleh pihak lain.
Gubernur tidak mau lagi pertumpahan darah diatas tanah Papua yang selalu membuat ketakutan masyarakat, sehingga hidup tidak bahagia.
Sekali lagi, kata Elpius, dalam pernyataan Gubernur Lukas Enembe tidak menyebut instansi atau kelompok tertentu sehingga jangan terlalu dipolitisir.
“Jangan membawa pernyataan Gubernur ke arah politik yang memperkeruh suasana tanah papua yang damai. Karena injil mengajarkan kedamaian, sukacita agar masyarakat hidup aman dan nyaman di Papua,” ujarnya.
Pimpinan Aliansi Papua Peduli Damai (Papeda), Yulianus Dwaa, memberi apresiasi atas pernyataan Gubernur Lukas Enembe yang mengaku prihatin terhadap kondisi masyarakat Papua.
“Kita mengapresiasi keprihatinan beliau (Gubernur Lukas Enembe). Namun yang jadi pertanyaan adalah, kewenangan untuk mengurus itu siapa?. ya kan Beliau,” kata Yulianus Dwaa, Kamis (10/2/2022) malam.
Menurutnya, seharusnya rakyat tahu sejauh mana Gubernur Lukas Enembe membuat “Orang Papua Happy” alias mengurusi warga Papua yang diungkapkan sebaliknya. “Semua kewenangan itu kan sudah diberikan, ada di Gubernur, melalui kewenangan Otsus dan sebagainya,” ujarnya.
Ia mengatakan, kebahagiaan itu identik dengan Papua damai, Papua sejahtera, rakyatnya mandiri. “(Itu) yang bisa buat rakyat bahagia, kalau tidak seperti itu, ya Papua tidak damai, Papua tidak nyaman, masih ada penembakan disana-sini,” sambungnya.
Yulianus menegaskan, siapapun orang, hidup di Papua menjadi tanggungjawab bersama. “Apalagi beliau sebagai kepala daerah bertugas melindungi semua warganya di Tanah Papua,” tambahnya.
Baginya, Gubernur Lukas Enembe harus bisa menjelaskan kepada Orang Papua sejauh mana pencapaian delapan tahun “membahagiakan” masyarakat Papua.
Ia mengurai, menciptakan kebahagiaan, tidak cukup dengan membangun stadion olahraga, namun hak-hak masyarakat belum dibayar. “Apa itu dapat membuat masyarakat bahagia? Kebahagiaan untuk Orang Papua itu, sudah sampai dititik mana?” tanya dia.
Ada hal-hal prioritas untuk menciptakan masyarakat bahagia, misalnya memiliki pendapatan pasti. “Intinya kita mengapresiasi keprihatinan beliau, tapi beliau juga harus sadar, tidak bisa terus menyampaikan keprihatinan,” tegasnya.
Dikatakan, sepatutnya Gubernur Lukas Enembe mengumumkan kepada rakyat Papua apa saja yang telah dikerjakan.
“Dengan berbagai indikator, harus disampaikan ke publik. Harus dijelaskan secara gamblang, secara luas, sejauh mana orang Papua dibuat Happy (senang atau gembira),” katanya.
RED
























