Koreri.com, Timika – Seorang oknum tenaga kesehatan (nakes) asal Puskesmas Pembantu (Pustu) Arwanop membuat geger Kabupaten Mimika melalui unggahannya yang langsung viral di jagat maya.
Dalam unggahan viralnya itu, sang oknum nakes tersebut mengaku harus menempuh jalan kaki selama 12 jam dari Arwanop ke Banti, Distrik Tembagapura untuk berobat temannya lantaran stok obat malaria di Pustu Arwanop habis.
Tak ayal, sejumlah pihak langsung merespon postingan viral tersebut.
Penjabat Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Mimika Alfasiah mengaku jika pihaknya belum menerima informasi resmi terkait persoalan yang terjadi di Arwanop hingga kemudian menjadi perhatian publik.
Ia menegaskan, apabila informasi itu disampaikan kepada Dinas Perhubungan, maka pihaknya akan segera melakukan tindak lanjut sesuai kewenangan yang dimiliki.
“Terkait kasus di Arwanop, kami dari Dinas Perhubungan tidak mendapatkan informasi. Seandainya ada informasi yang disampaikan kepada kami, tentu akan kami tindak lanjuti,” tegasnya ketiga dimintai tanggapannya soal itu, Kamis (11/6/2026).
Alfasiah lantas menjelaskan soal layanan penerbangan perintis bersubsidi rute Timika-Arwanop yang selama ini menjadi salah satu akses transportasi utama bagi masyarakat di wilayah pedalaman.
Penerbangan perintis ke Arwanop saat ini dilayani sebanyak tiga kali dalam sepekan, yakni setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu.
“Layanan penerbangan dilakukan tiga kali seminggu dengan kapasitas tujuh kursi setiap penerbangan dan dilayani maskapai Bunga Persada,” urainya.
Menurut Alfasiah, tingginya kebutuhan transportasi masyarakat membuat rute Timika-Arwanop pulang-pergi menjadi salah satu rute yang sangat padat.
Data Dinas Perhubungan Mimika menunjukkan, selama periode 5 Februari hingga 11 Juni 2026, rute Timika-Arwanop dan Arwanop-Timika menjadi rute dengan jumlah penumpang tertinggi dibanding empat rute subsidi lainnya.
Dari target 705 penumpang pada masing-masing rute, realisasi penumpang mencapai 347 orang atau 49,22 persen untuk rute Timika-Arwanop dan 360 orang atau 51,06 persen untuk rute Arwanop-Timika.
Selain itu, realisasi frekuensi penerbangan pada rute tersebut juga mencapai 51 penerbangan dari target kontrak 141 penerbangan atau sebesar 36,17 persen. Angka ini setara dengan realisasi frekuensi penerbangan rute Tsinga, namun dengan jumlah penumpang yang lebih tinggi.
Ia menjelaskan, program penerbangan perintis tersebut merupakan layanan subsidi pemerintah.
“Rute Timika-Arwanop sangat padat karena permintaan masyarakat sangat tinggi. Sebagai penerbangan subsidi, masyarakat menjadi prioritas utama dan masyarakat juga sangat memahami keterbatasan kuota yang tersedia,” katanya.
Secara keseluruhan, program subsidi penerbangan perintis pada lima rute di Kabupaten Mimika mencatat realisasi 358 penerbangan dari target kontrak 1.128 penerbangan atau 31,74 persen. Sementara jumlah penumpang yang terlayani mencapai 2.194 orang dari target 5.640 penumpang atau sebesar 38,9 persen.
“Jadi sekali lagi terkait kasus di Arwanop itu, kami dari Dinas Perhubungan Mimika tidak mendapatkan informasi. Seandainya ada informasi yang disampaikan kepada kami, tentu akan kami tindak lanjuti,” tukasnya.
TIM
























